Suatu hari sepulang sekolah, Beri dan Elen kaget mendengar suara keras dari taman sekolah. Ada anak yang berteriak marah. “Sepertinya Gero, yuk kita lihat!” ajak Elen pada Beri.

Ternyata benar. Gero teman sekelas mereka sedang bertengkar hebat dengan Luis, temannya dari kelas sebelah.  “Hentikan! Jangan bertengkar, kalian teman kan?!” seru Beri melerai mereka. “Kamu diam aja! Wajar kalau aku marah sama Luis yang curang. Dia menantangku adu game yang belum pernah kita mainkan sebelumnya, tapi ada yang bilang kalau sebetulnya Luis sudah tahu cara main game itu!” seru Gero marah.

“Aku menang karena hebat!” kata Luis. “Apa?!” teriak Gero murka. “STOP! Buat apa bertengkar? Saling minta maaf, selesai!”  mohon Beri pada Gero dan Luis. “Kami bukan teman lagi, buat apa minta maaf?” kata Gero dan Luis bersamaan. “Cuma karena masalah kecil kayak game aja kalian bertengkar? Aku tantang kalian berdua. Kalau aku menang, kalian harus berbaikan dan jauhi  game yang jadi sumber pertengkaran kalian selamanya!” seru Elen.  “Setuju!” kata Gero dan Luis.

Elen bingung. Dia jago main game, tapi game yang jadi sumber pertengkaran Gero dan Luis tak pernah dia mainkan sebelumnya. “Duh, bagaimana nih?” keluhnya. Beri geleng-geleng kepala. “Makanya, jangan asal bicara,” katanya.

“Permisi…,” seorang  pemuda berkaca mata, melongok ke ruang tamu rumah Elen.  Itu kak Edi, kakak Elen yang bekerja di toko elektronik. “Kak Edi, aku lagi bingung nih! Ada game yang bikin aku pusing,” kata Elen sambil  menyerahkan gadget-nya.

Setelah melihat game di gadget Elen, kak Edi senyum-senyum sendiri. “Oh, ini  mirip dengan game yang pernah Kakak mainkan waktu remaja dulu! Sini, Kakak ajarin! Kakak dulu jago banget main game ini!” kata Kak Edi.  Elen dan Beri saling berpandangan, lalu bersorak gembira.

Hari adu game tiba. Gero dan Luis tersenyum sombong pada Elen. “Kamu pasti kalah,” kata mereka. “Yah, lihat saja nanti,” kata Beri. Tentu saja, Elen berhasil memenangkan adu game. Elen menang jauh dari Gero, dan menang tipis dari Luis.

Gero dan Luis  menepati janji mereka. Keduanya berjabat tangan, meminta maaf dan saling tersenyum, memegang pundak masing-masing. Gero juga mengakui kehebatan Luis dan Elen.  Kemudian Gero dan Luis memandang Elen dengan sedih. “Apakah kami juga harus berhenti memainkan game ini?” tanya mereka.  “Oh, aku lupa soal persyaratan itu! Tentu saja tidak! Kalian boleh memainkan game ini lagi!” jawab Elen. Senyum menghiasi wajah Gero dan Luis. “Nah, kuharap kalian tidak pernah bertengkar lagi gara-gara game. Game tidak bisa menolongmu saat ada masalah atau kau susah, hanya teman yang bisa,” nasihat Beri.

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *