Meski tidak dianjurkan, faktanya merokok merupakan salah satu gaya hidup banyak masyarakat di Indonesia. Bukan hanya kalangan orang dewasa saja, penikmat rokok nyatanya banyak pula dilakukan oleh anak-anak dan remaja.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 3,69% anak berusia 10 – 18 tahun merokok pada 2021. Persentase tersebut melanjutkan penurunan dalam empat tahun terakhir.  Pada 2018, persentase perokok anak di Indonesia mencapai 9,65%. Jumlah itu merupakan hasil integrasi Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Meskipun sudah mengalami penurunan, tindakan pencegahan tetap terus diupayakan agar generasi muda Indonesia bisa bebas rokok. Misalnya dengan melarang penjualan rokok kepada anak di bawah umur.

Hal ini pun sangat disadari oleh Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (GAPRINDO). Mereka sangat mendukung upaya untuk melarang penjualan rokok kepada anak di bawah umur demi menekan prevalensi perokok anak. Hal ini sejalan dengan PP 109 tahun 2012 pasal 21 dan 25 yang melarang menjual hasil industri tembakau kepada anak dan ibu hamil.

Ketua GAPRINDO, Bapak Benny Wachjudi,  mengatakan Industri Hasil Tembakau (IHT) mematuhi secara konsisten berbagai regulasi yang bertujuan untuk mencegah perokok anak melalui berbagai poin seperti pembatasan iklan rokok yang hanya bisa terbit di malam hari, larangan untuk menjual rokok dengan menggunakan mesin layanan mandiri sehingga pedagang dapat mengindentifikasi umur si anak saat yang bersangkutan hendak membeli rokok sampai ruang khusus merokok yang wajib disediakan sehingga aktivitas tersebut tidak mengganggu non perokok. Namun, hal- hal yang diupayakan dari sisi regulasi ini nampaknya masih belum cukup, karena untuk mencegah munculnya perokok anak ada upaya mendasar yang harus dipenuhi yaitu edukasi dan sosialisasi dari lingkungan terdekat.

Menanggapi hal ini, Benny menambahkan perlu adanya kampanye cegah perokok anak yang dilakukan seluruh elemen masyarakat guna mendukung objektif besar Pemerintah dalam menurunkan prevalensi perokok anak, termasuk kontribusi para pengusaha. Menurut dia, diperlukan upaya yang konkrit dan menyeluruh untuk melakukan sosialisasi dan edukasi untuk mencegah perokok anak. Seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam mencegah perokok anak.

Peritel sebagai ujung tombak distribusi yang bersentuhan langsung dengan konsumen memiliki peran penting untuk mencegah atau tidak menjual rokok kepada anak dibawah umur dengan alasan apapun. Disamping itu, diperlukan juga langkah pengawasan, termasuk oleh masyarakat dan keluarga, agar upaya mencegah perokok anak melalui PP 109 dapat diimplementasikan secara baik. Dukungan orang tua, keluarga, dan lingkungan sangat penting sehingga anak-anak memiliki bekal dan informasi yang cukup. Mereka dapat memanfaatkan kanal atau platform digital yang ada untuk mengedukasi anak-anak dengan konten informasi yang menarik dan mudah dipahami.

Di samping itu, para pemangku kepentingan lainnya, baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu lebih intensif dalam mencegah perokok anak. Dalam hal ini, Benny meminta semua pihak untuk turut berperan dalam mengedukasi dan mengawasi anak dari produk rokok. Upaya pencegahan perokok anak ini, akan menunjukkan hasil bila didukung secara masif oleh masyarakat luas dan dikerjakan bersama-sama sehingga menjadi gerakan nasional.

Kampanye Cegah Perokok Anak, Ratusan Responden Siap Berperan

Untuk ikut berperan dalam mencegah meningkatnya perokok anak, sejak tahun lalu GAPRINDO menghadirkan wadah digital untuk mengedukasi, mengawasi, dan memahami langkah yang efektif untuk menghindarkan anak dari produk rokok. Website cegahperokokanak.id memuat sumber informasi dan referensi bagi masyarakat untuk menginspirasi langkah pencegahan dan pengawasan yang baik bagi anak di bawah umur agar terjauhkan dari paparan rokok.

Hingga Februari 2022, Website CPA telah dikunjungi 1.055 visitors dengan 479 respon berpartisipasi dalam survei singkat mengenai partisipasinya untuk meningkatkan kesadaran semua pihak untuk mencegah penyebaran dan konsumsi rokok pada anak.

Dari partisipasi survei tersebut, mayoritas responden menilai edukasi bahaya rokok di sekolah dan larangan merokok di area publik sekitar fasilitas anak-anak, sebagai upaya yang efektif untuk pencegahan perokok anak. Selain itu, edukasi tersebut dapat dilakukan, salah satunya melalui pemutaran video bahaya rokok yang saat ini telah banyak ditemui di YouTube.

“Ini artinya, kesadaran dari masyarakat memiliki kekhawatiran akan isu perokok anak dan mendukung kampanye ini. Kami yakin bahwa masyarakat memegang peranan penting dalam menurunkan angka perokok anak di Indonesia. Sebab, masyarakat memiliki kekuatan untuk mengontrol perilaku penduduk jika dilandasi dengan semangat gotong royong dan empati tinggi,” tutup Bapak Benny.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *