JAKARTA, majalahjustforkids.com – Sebagai rangkaian dari selebrasi ulang tahun UniPin yang ke-11, #11YearsWithU, UniPin Community (UNITY) kembali menyelenggarakan webinar dengan tajuk “Bahas Tuntas Stigma di Industri Esports”.

Webinar UNITY yang dilakukan secara daring pada Kamis (7/7) ini membahas stigma-stigma di industri esports dan kebenaran di balik stigma tersebut.

Hadir sebagai narasumber yaitu Bapak Robertus Aditya sebagai Head of Garudaku Academy dan Bapak Lius Andre sebagai professional esports talent, speaker, & consultant. Keduanya berbagi pandangan mengenai stigma di industri esports sesuai dengan ranah profesi dan lingkup komunitas mereka.

Di dunia gaming, stigma yang kerap muncul adalah bahwa para pemainnya malas dan kurang berpendidikan. Bapak Lius Andre membantah hal tersebut dan menjelaskan bahwa para pro player pun bahkan banyak yang telah lulus S1 dan memperoleh gelar sarjana.

“Di lapangan banyak professional player yang bermain game sambil juga menyelesaikan S1 bahkan tetap bersekolah dengan homeschooling karena menganggap pendidikan itu memang penting,” ujarnya.

Bapak Robertus Aditya dari Garudaku Academy membeberkan stigma terparah yang ada di industri esports.

Esports enggak ada masa depannya, esports kan hanya main games, bahkan banyak ahli olahraga yang mempertanyakan sisi olahraganya esports. Padahal, sejak pandemi, esports mengalami pertumbuhan pesat dan membuka banyak lapangan pekerjaan baru,” ujarnya.

Jadi, apakah stigma-stigma itu benar? Bagaimana masa depan karier di industri esports?

Lebih jauh, Bapak Robertus memaparkan pengalamannya selama berkarier di industri esports.

“Dalam semua hal pasti ada risikonya, dalam bidang karier apapun, termasuk karier di industri esports. Hanya saja, kita harus bisa mengubah risiko-risiko tersebut menjadi peluang yang baik. Orang yang bisa melihat dan memanfaatkan peluang adalah orang yang bisa survive dalam karier apapun,” tandasnya.

Senada dengan Bapak Robertus, Bapak Lius Andre selanjutnya menjelaskan kiat-kiat berkarier di industri esports.

“Di depan layar, karier sebagai pro player itu memang risky. Namun, di belakang layar, kariernya bisa jadi lebih stable. Berbekal pendidikan yang ada, ilmu-ilmu cara berbisnis, mereka harus bisa memutar penghasilannya,” ujarnya.

Sebagai penutup, Kak Debora Imanuella selaku SVP UniPin Community yang memandu webinar ini menambahkan bahwa industri esports yang tengah berkembang amat pesat ini masih butuh tenaga dan talenta-talenta di luar sana untuk mendukungnya.

“Kalau dilihat, talent esports itu sebenarnya bisa dibilang sedikit. Mereka yang mau masuk ke industri ini sudah takut duluan karena banyak stigma buruk di sekitarnya. Hopefully, setelah webinar ini, lebih banyak orang mau berlomba-lomba untuk masuk ke industri esports,” tutupnya.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *