JYPA dan SLC Gelar Teater Musikal “Still Life- The Story of Van Gogh”

Don’t judge a book by its cover. Pernah mendengar istilah yang sangat terkenal itu, bukan? Kurang lebih maknanya, kita jangan menilai sesuatu hanya dari bagian luarnya saja. Inilah yang disampaikan oleh anak-anak muda kreatif dan berprestasi yang tergabung dalam JYPA (Jakarta Youth for Performing Arts).

Kamis malam lalu (20/06/19), JYPA bekerja sama dengan SLC (Saraswati Learning Center) menyajikan sebuah pertunjukan musikal bertajuk “Still Life: The Story of  Van Gogh”. Untuk diketahui, Vincent Van Gogh adalah seorang pelukis legendaris dari Belanda. Selama hidup, ia dikenal sebagai pelukis ‘gila’ yang memiliki masalah gangguan kejiwaan. Tak ada yang menghargai karyanya secara tulus kecuali sang adik, Theo Van Gogh.

Teater musikal kisah Vincent Van Gogh seluruhnya dikerjakan oleh anak-anak muda JYPA

Anak-anak Muda Kreatif

Kisah Van Gogh yang unik dan menyentuh inilah yang coba disampaikan oleh remaja cantik bernama Divanka Larastessya Djamalus (19 tahun) dari JYPA. Ia berperan sebagai Sutradara sekaligus Produser, penulis cerita, dan penata musik pertunjukan musikal tersebut. Tak hanya Divanka, pertunjukan musikal “Still Life: The Story of  Van Gogh” seluruhnya dilakukan oleh anak-anak muda yang tergabung dalam JYPA.

Ada sekitar 20 pemain JYPA berusia 14 – 19 tahun beraksi dalam teater musikal di hadapan sekitar 420 penonton. Hari itu, adalah malam terakhir dari 2 hari jadwal pertunjukan.

Penampilan spesial murid-murid SLC

Acara dibuka dengan penampilan istimewa dari 5 anak-anak difabel dari SLC yang menyanyi dan menari didampingi oleh ibunya. Salah satunya adalah Cheryl (9 tahun), gadis manis penyandang Down Syndrome, yang tampil bersama sang Mama, Reshma Wijaya, pendiri SLC. Ini adalah organisasi non profit yang melayani sekolah dan layanan terapi untuk semua individu dengan kemampuan berbeda-beda (difabel) dari usia 0 – 18 tahun.

“JYPA menjalin kerja sama dengan SLC. Kami ingin sampaikan bahwa anak-anak muda juga bisa mampu dan berkarya, termasuk anak-anak difabel,” papar Divanka.

Penggalangan Dana

Di balik pertunjukan musikal, ada tujuan mulia terselip. Kegiatan ini bertujuan untuk menggalang dana lewat pelelangan lukisan yang dipamerkan di auditorium Umar Ismail. Dari hasil yang terjual, semua disumbangkan untuk biaya sekolah anak-anak difabel yang kurang mampu di SLC.

Penggalangan dana lewat lukisan

Mengapa kisah Van Gogh? “Jujur, Van Gogh adalah pelukis favorit saya. Saya terinspirasi dengan kisahnya. Selama hidup, ia dikenal sebagai pelukis yang ‘gila’. Padahal, di balik kondisi psikis-nya, dia adalah seorang pelukis yang hebat, mampu menghasilkan karya-karya luar biasa,” terang Divanka yang mahir melukis dan bermain piano ini.

Ya, selama hidup, Van Gogh kerap berurusan dengan masalah kejiwaan. Ia diduga mengidap bipolar maupun skizofrenia. Bahkan, ia memotong telinga kirinya sendiri saat depresi sehabis berargumen keras dengan Paul Gauguin, teman sekaligus mentor.

Namun, di balik itu, dia bisa berkarya, Kids, bahkan sangat luar biasa. Sama halnya dengan teman-teman kita yang juga tidak sempurna secara fisik maupun mental, mampu berkarya. Jadi, jangan pernah menilai sesuatu dari bagian luar (apa yang terlihat di permukaan saja).

Divanka Larastessya Djamalus

Alur Cerita

“Still Life: The Story of  Van Gogh” sendiri adalah pertunjukan musikal yang berputar pada kehidupan pelukis Belanda, Vincent Van Gogh (diperankan Raka Ramadhani yang juga bertindak sebagai Ass. Sutradara), selama masa hidupnya dari 1887-1890 (3 tahun sebelum ia meninggal). Cerita ini berfokus pada hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya dan bagaimana mereka memengaruhi hidupnya. Mereka adalah Paul Gauguin (mentor), Theo Van Gogh (saudara laki-laki yang sangat dekat dengannya), Dr. Gachet (Terapis), dan Marguerite Gachet (Putri Dr. Gachet yang berhasil memasuki hati Vincent).

Salah satu adegan teater musikal, Vincent Van Gogh di ambang kematian ditemani adiknya, Theo Van Gogh

Konflik demi konflik mewarnai hidup Vincent, mulai dari pertemanan dengan Paul yang berakhir jelek akibat rasa iri dari Paul, depresi yang melanda Vincent hingga ia memotong telinga kirinya sendiri, hingga keruntuhan mentalnya yang mengantarkan ia dirawat di Saint Remmys Asylum. Sampai akhirnya ia bertemu dengan belahan jiwanya, Marguerite, namun harus mengalami hambatan karena tidak disetujui oleh Dr. Gachet. Semua permasalahan yang ia hadapi berujung pada kematian Vincent yang tergolong sangat muda, 37 tahun.  Ironis, karya-karya lukisan Van Gogh baru diakui dan dihargai setelah ia meninggalkan dunia ini.

Teater musikal ini menampilkan 17 lagu asli karya anggota JYPA. Penata musik (komposer) adalah Muhammad Irfan Muzhaffar, Divanka Larastessya Djamalus, Joshua Frederick dan Bagus Mahatma. Sementara lirik lagu ditulis oleh Divanka dan Irfan.

Non Profit

“Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan JYPA. Mereka adalah anak-anak muda yang luar biasa. Seluruhnya dikerjakan oleh mereka sendiri. Mulai dari naskah, lagu, koreografi, belum lagi menyewa tempat, hingga melakukan marketing (pemasaran sendiri). Apalagi kegitan ini benar-benar non profit, bukan untuk mengambil keuntungan tapi bertujuan menggalang dana. Mereka benar-benar anak-anak muda yang hebat,” ujar Ibu Reshma Wijaya.

Divanka Larastessya Djamalus berfoto bersama Reshma Wijaya dan kedua buah hatinya

Menurut Divanka, seluruh kru yang terlibat dalam produksi teater musikal ini berjumlah sekitar 40 – 50 orang. Ia, sangat menyambut positif bila ada anak-anak ingin bergabung menjadi anggota JYPA. “Kami sangat senang dan ingin mengajak anak-anak di bawah usia 21 tahun untuk bergabung menjadi anggota JYPA. Karena visi kami adalah ingin membuktikan bahwa anak-anak muda mampu berkarya. Kami ingin bukan  hanya JYPA saja yang berkembang, tetapi juga anak-anak yang bergabung dalam JYPA juga berkembang secara individu,” tutup Divanka.

Foto: Efa

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *