Suatu hari,  bel rumah Medin berbunyi. Nina tetangganya datang berkunjung. Wajah Nina sangat murung, sedih karena kelakuan adik perempuannya, Dina.

Medin mengajak Nina berbincang di kamarnya. Nina menceritakan masalah Dina. “Dina  ingin gadget baru. Padahal  keadaan keuangan Papa dan Mama sedang tidak bagus,” keluh Nina.  Medin ingin membantu  Nina dan Dina, tapi sayang sekali dia juga tak punya uang.  “Mudah-mudahan ada keajaiban nanti,” kata Medin menghibur Nina.

Beberapa hari kemudian, Medin berjalan-jalan di taman kompleks perumahannya, dan bertemu dengan Nina. Nina sedang duduk di sebuah bangku taman. Dia memegang sebuah gadget dengan wajah bahagia.

“Medin!” Nina melihat Medin dan memanggilnya. “Ini gadget yang diinginkan Dina,” ujar Nina menunjukkan gadget yang dipegangnya pada Medin. “Luar biasa! Dimana kau mendapatkannya?” tanya  Medin. “Di tempat sampah taman ini!” jawab Nina. “Hah!?” seru Medin terkejut. “Ada yang membuangnya! Tapi ketika kucoba, ternyata masih berfungsi! Yang penting Dina bahagia!” kata Nina lagi.

Medin senang dengan keberuntungan Nina, tapi entah kenapa dia merasa khawatir. Suatu sore, rumah Nina kosong, karena dia dan keluarganya sedang pergi ke luar kota. Lalu Medin melihat hal aneh. Gadget yang ditemukan Nina untuk Dina diletakkan di teras halaman!

“Gawat kalau ada yang mengambilnya. Kalau saja aku bisa menyimpannya dulu sampai Nina pulang…,” gumam Medin. Tapi pagar rumah Nina yang tinggi terkunci rapat. Medin menghela napas dan berbalik pergi.

Tiba-tiba, terdengar suara besi beradu dan ketika Medin melihatnya, pagar rumah Nina sudah terbuka. “Kok bisa?” kata Medin kaget. Tapi dengan cepat perhatian Medin beralih pada gadget. Dia segera mengambil benda itu, menutup pagar rumah Nina, dan kembali ke rumahnya.

Malam itu Medin tidur cepat karena mengantuk, dan tengah malam dia terbangun karena haus. Setelah minum di bawah, Medin kembali ke kamarnya, dan dia tertegun melihat gadget Dina menyala.

“Aneh, aku tidak menyalakan gadget ini!” kata Medin bingung. Medin kembali tidur, tapi beberapa jam kemudian dia terbangun lagi.  Kali ini Medin ketakutan. Sepintas, dia melihat bayangan hitam di dekat jendela kamarnya. Medin segera menyalakan lampu. “Tak ada siapa-siapa,” gumamnya.

Kemudian Medin melihat sesuatu yang membuatnya memekik kaget. Gadget  Dina tergeletak di lantai dekat jendela kamar, persis di tempat Medin tadi melihat bayangan hitam. “Aku tidak menaruh gadget itu di sana…,” bisik Medin sambil gemetar ketakutan.

Ketika akhirnya Nina pulang, Medin menyerahkan gadget Dina pada Nina dan menceritakan pengalamannya. Wajah Nina memucat ketakutan. “Kata Dina gadget ini hilang di perjalanan kita ke luar kota. Sejak gadget itu di rumah, aku dan Dina juga mengalami hal yang sama dengan ceritamu. Dina sekarang sudah tak mau lagi dengan gadget menakutkan itu,” kata Nina.

Akhirnya, Medin dan Nina sepakat untuk mengembalikan gadget misterius ke tempat asalnya, yaitu tempat sampah taman kompleks. Tak lama kemudian, sebuah mobil sampah mengangkut sampah taman ke tempat pembuangan terakhir. Itulah akhir dari si gadget misterius.

Kadang-kadang, Medin memikirkan apa penyebab keanehan si gadget. Tapi dia tidak sampai hati mendiskusikannya dengan Nina. Dia tak ingin gadget misterius itu kembali pada mereka.

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *