Fufu si tikus putih tinggal di sebuah museum sejarah. Rumah Fufu dan teman-temannya berada di ruang penyimpanan emas dan batu mulia.  Fufu dianggap tikus yang aneh, karena ia suka barang bersejarah. Akibatnya, ia dijauhi tikus lain.

Suatu hari, Fufu berjalan-jalan di dalam museum, sambil melihat koleksi barang antik yang indah. Pak Bon, penjaga museum memergoki Fufu sedang memandangi sebuah patung. “Wah, ternyata ada tikus yang menyukai barang antik bersejarah,” seru Pak Bon. “Ciiit…” Fufu terkejut lalu lari dan bersembunyi di balik patung. “Jangan takut, aku tak akan berbuat jahat pada tikus putih yang lucu sepertimu. Bagaimana kalau kita berteman?” kata Pak Bon sambil mengeluarkan sepotong keju dari dalam kantong bajunya. Sejak itu, Fufu dan Pak Bon berteman baik. Fufu pun menceritakan hal ini pada Kabu si tikus kelabu dan tikus lain. Namun, mereka tidak percaya kebaikan hati Pak Bon.

Beberapa hari kemudian, Kabu berteriak ketakutan. “Gawat! Kita harus pindah dari sini! Sebuah barang berharga akan didatangkan dan para penjaga akan mengusir kita. Ayo, kita cari tempat tinggal di luar!” Kabu dan tikus lain berlarian. “Tunggu dulu! Saat ini musim hujan, jika kita tinggal di luar pasti basah kena hujan,” kata Fufu. “Lebih baik kena hujan daripada bertemu manusia jahat,” timpal Kabu dan tikus lain. “Aku tidak mau pergi,” ujar Fufu. Kabu dan tikus lain lalu meninggalkan Fufu sendirian.

Barang berharga itu datang keesokan harinya. Ternyata, sebuah mahkota yang terbuat dari berlian. Fufu melihat mahkota berlian tersebut bersama Pak Bon dengan takjub. “Indah sekali, ya,” kata Pak Bon. “Ciiit…,” Fufu mencicit setuju. Malamnya, Fufu terbangun karena ada suara teriakan. “Apa yang terjadi!?” serunya. Dengan hati-hati, Fufu berlari ke luar lubang rumah tikus. Ia memanjat salah satu patung dan mencari asal suara itu. “Gawat!” kata Fufu pada diri sendiri. Ia melihat Pak Bon tergeletak di lantai. Ada dua orang tinggi besar di dekatnya. Salah satu orang tersebut memecahkan kaca tempat mahkota berlian dipajang. Sedangkan, temannya mengambil mahkota berlian sambil tertawa senang. “Pencuri!” kata Fufu marah. Ia segera memanjat si pencuri yang memegang mahkota berlian dan langsung menggigit tangannya. “Tikus! Tolooong…” Dua pencuri itu menjerit ketakutan. Mereka meninggalkan mahkota berlian dan berlari ke luar museum. Lalu, beberapa penjaga datang dan menangkap kedua pencuri itu.

Pak Bon tersadar dan melihat Fufu yang berdiri di dekat mahkota berlian yang terjatuh di lantai. “Terima kasih, kau telah membantu menangkap pencuri-pencuri jahat itu,” ujar Pak Bon. Duuuuar… Tiba-tiba, terdengar kilat dan turunlah hujan deras. “Teman-temanku! Mereka pasti ketakutan! Apa yang harus kulakukan?” cicit Fufu khawatir. Tak lama kemudian, dari luar jendela terdengar suara cicit tikus yang panik. Pak Bon dan Fufu segera melihatnya. “Fufu, tolong! Kau benar, hujan sangat mengerikan!” seru Kabu dan tikus lain. “Jangan khawatir, aku akan menolong kalian, karena Fufu sahabatku dan telah menolongku,” kata Pak Bon.

Pak Bon lantas membuatkan rumah untuk Fufu, Kabu, dan tikus lain di sebuah gudang yang kosong.  Kini, Fufu sangat disayangi oleh Kabu serta tikus lainnya. Bersama Pak Bon, mereka menjadi penjaga museum. (Cerita: Seruni / Ilustrasi: Fika)

 

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *