Pada hari Selasa (05/07) lalu, ratusan anak-anak usia PAUD hingga Sekolah Dasar asyik menyimak dongeng yang dibawakan oleh Kak Iwan, pendongeng dan pemerhati anak.

“Kakak akan menceritakan kisah dongeng tentang 2 burung anak garuda. Namanya Panca dan Syila. Mereka anak kembar, kakak-beradik. Mereka pandai, namun sombong. Panca merasa sangat hebat dan sering mengejek hewan-hewan yang lemah dari dia. Sedangkan Syila senang mengganggu hewan yang lemah…” cerita Kak Iwan ditemani boneka tangan-nya yang lucu disertai intonasi suara yang berubah-ubah.

Kak Iwan, pendongeng dan pemerhati dunia anak

Itulah sedikit suasana dalam Kelas Generasi Dongeng. Ya, hari itu, digelar Festival Generasi Pancasila oleh Penguatan Karakter (Puspeka), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi  (Kemendikbudristek). Kegiatan itu dilangsungkan dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Lahir Pancasila, Hari Keluarga Nasional, dan Hari  Anak Nasional.

Acara yang mengusung tema “Pelajar Pancasila Bangga  Punya Pancasila” tersebut bertujuan untuk memperkuat karakter Pancasilais yang dibangun sejak dari lingkungan  keluarga.

Festival Generasi Pancasila tersebut terbagi ke dalam tiga kelas bagi peserta didik jenjang  PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA/SMK. Pertama, Kelas Generasi Dongeng dengan peserta usia 2-8 tahun dengan pemateri Kak Iwan, pendongeng dan pemerhati dunia anak, serta psikolog Ayoe Sutomo yan dihadiri sekitar 761 orang.

Kedua, Kelas Generasi  Kreatif dengan peserta usia 9 – 13 tahun yang diisi oleh Stella Nau, pendiri NTT Muda yang dhadiri oleh 973 peserta.

Ketiga, Kelas Generasi  Mandiri dengan peserta usia 14 -18 tahun dengan pemateri Made Pandhu, pendiri akun kegelisahART. Kelas ini diikuti oleh sekitar 863 peserta.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim

Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan  Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim menyampaikan bahwa pendidikan karakter bukan hanya tugas  para guru di sekolah tetapi juga orangtua di rumah. “Perilaku yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila perlu  menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu harus mulai dibangun sejak dini, mulai dari rumah,” tegasnya.

“Saya berpesan kepada Ibu dan Bapak orangtua agar terus menjadikan lingkungan rumah sebagai ruang belajar yang  aman untuk anak-anak kita,” pesan Menteri Nadiem kepada audiens orangtua yang turut mendampingi anak-anaknya  dalam kegiatan ini.

Lebih lanjut, Menteri Nadiem menyampaikan bahwa ada 6 profil Pelajar Pancasila. Pertama, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlakmulia. Kedua, mandiri. Lalu, gotong royong, berkibinekaan global, bernalar kritis dan kreatif. Keenam profil tersebut, katanya, merupakan bekal untuk menggapai cita-cita pelajar di masa depan sesuai dengan minat dan potensi masing-masing.

“Adik-adik harus terus semangat belajar dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, kecerdasan akademik yang dipadukan dengan karakter yang kuat, itulah yang akan membantu adik-adik melangkah ke masa depan dan menghadapi semua tantangan. Dan dengan menjadi pelajar Pancasila yang cerdas berkarakter, saya yakin adik-adik akan mampu melewati semuanya,” terang Menteri Nadiem.

Foto Bersama Pelajar Pancasila

Bangun Karakter Positif Lewat Dongeng

Dalam kelas Generasi Dongeng yang turut dipandu dengan ceria oleh Nala Kamia beserta sang ayah, Indra Brasco, peserta anak maupun beberapa orangtua yang turut mendampingi, mendengarkan dongeng dengan penuh antusias.

Nala Kamia dan Indra Brasco

Kak Iwan menceritakan dongeng kisah 2 anak burung garuda, yang digambarkan angkuh, jahil dan suka menghina teman-temannya yang lemah. Namun di akhir kisah, digambarkan kedua anak burung garuda tersebut akhirnya mau bergotong-royong saling membantu, kreatif dan berteman tanpa pilih-pilih.

Di akhir kisah, Psikolog Ayoe Soetomo menyematkan pesan moral dibalik dongeng  yang dibacakan oleh Kak Iwan. “Panca dan Syila digambarkan memiliki sifat sombong, usil dan tidakmau berteman. Berteman harusnya tidak memilih, sama atau berbeda, tetap berteman. Ada pula karakter bebek dan katak, keduanya digambarkan sangat baik hati dan mau menolong Panca dan Syila dengan ikhlas meskipun sudah disakiti sebelumnya. Pada akhirnya, Panca dan Syila akhirnya sadar dengan kesalahannya dan mau bekerja sama dengan kedua temannya si kodok dan bebek. Bahkan Panca dan Syila turut memberikan ide-ide kreatif saat akan mengambil pisang. Mereka akhirnya bisa menikmati sesuatu yang menyenangkan secara bersama-sama,” ungkap Ayoe.

Nah, Moms, apakah si buah hati senang juga mendengarkan dongeng? Ya, mendengarkan cerita dongeng banyak manfaatnya bagi anak. Dongeng membantu menstimulasi otak untuk berpikir dan berimajinasi. Tentu saja, hal ini sangat baik dalam melatih kecerdasan dan perkembangan kognitifnya selama masa pertumbuhan. Mengajarkan anak-anak tentang profil pelajar Pancasila seperti yang disebutkan oleh Menteri Nadiem pun, bisa dimulai dari rumah dengan cara sederhana, contohnya mendongeng.

Pentingnya Peran Keluarga

Lebih lanjut, Ayoe Soetomo mengutarakan bahwa peran keluarga, khususnya dalam hal ini orangtua, sangatlah penting dalam tumbuh kembang seorang anak dalam menjadi Pelajar Pancasila. “Peran keluarga dalam  tumbuh kembang anak tentunya sangat besar sekali, karena semuanya dimulai dari keluarga. Tentunya keluarga atau  orangtua perlu memiliki konsep tentang bagaimana keluarga ini akan dibawa dan kemudian nilai-nilai apa yang harus  dimiliki oleh keluarga. Harapannya nilai tersebut adalah nilai kebaikan seperti nilai Pelajar Pancasila,” ucap Ayoe.

Ayoe Soetomo, Psikolog

Profil Pelajar Pancasila, katanya, perlu menjadi pondasi bagi setiap keluarga agar anak-anak Indonesia dapat menjadi generasi yang sehat, cerdas, berprestasi, kreatif, dan mandiri.

“Sehingga mereka ini siap  untuk bersaing dan menjadi generasi Indonesia yang hebat. Semuanya memang mulai dari keluarga. Keluarga  memberikan contoh yang baik, implementasi dengan nilai-nilai yang baik, sehingga kebiasaan-kebiasaan baik itu akan  tumbuh pada anak,” imbuh Ayoe.

Peran penting orangtua dalam tumbuh kembang anak ditekankan lebih lanjut oleh pemateri Kelas Kreatif, Stella Nau.  Pendiri NTT Muda tersebut menekankan bahwa untuk mewujudkan generasi Pancasilais, selain anak-anaknya yang  belajar, orangtua juga harus memiliki semangat untuk belajar. Menurutnya, orangtua dan anak-anak harus sama-sama  belajar untuk menjadi generasi bangsa yang memiliki karakter sesuai profil Pelajar Pancasila.

“Orangtua juga harus punya semangat untuk belajar. Orangtua harus mencari tahu skill dan informasi yang tepat untuk  mengetahui bagaimana anak-anak bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berkarakter,” ucap Stela Nau.

Melalui Festival Generasi Pancasila, Kemendikbudristek menekankan kembali pentingnya keterlibatan aktif orangtua  dan keluarga dalam mewujudkan Pelajar Pancasila yang bangga dengan Pancasila dan siap menjadi pemimpin bangsa  Indonesia di masa depan.

Foto: Efa, Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *