Kakak-kakak ini patut ditiru, Kids. Ya, meski masih muda, tapi kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar, sangatlah tinggi. Mereka kreatif dan berhasil menciptakan inovasi-inovasi baru yang sangat berguna bagi lingkungan sekitar. Tak heran kalau mereka bisa memenangi kompetisi Social DigiThon yang digelar oleh Uni Eropa. Inilah empat anak muda itu:

Pemenang 1

Nama Tim: Duka Euy

Nama Pemimpin Tim: Muhammad Sulthan Mazaya

Nama Proyek: “Gelang Anti Kekerasan”

Kategori Topik: Solusi untuk Perempuan dan Anak-Anak Perempuan

Kelompok ini terdiri dari tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Mereka adalah Sulthan, Michael, dan Daniel. Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan menjadi latar belakang mereka menciptakan aplikasi mobile GAK (Gelang Anti-Kekerasan) yang terhubung dengan perangkat IoT. Aplikasi ini mencakup semua protokol keselamatan darurat, termasuk modul pengeras suara eksternal yang memiliki dua tombol yaitu untuk mengirim pesan darurat kepada semua kontak yang dimiliki, dan membunyikan sirine dengan volume yang sesuai dengan potensial kekerasan yang dihadapi. Tombol ini juga dapat merekam suara sehingga rekaman tersebut dapat digunakan sebagai bukti tindak kekerasan saat pelaporan. Melalui aplikasi ini, pihak berwenang akan mendapatkan bukti atas tindak kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan.

Pemenang 2

Nama Tim: Untuk Ibu

Nama Pemimpin Tim: Jones Napoleon Autumn

Nama Proyek: “Untuk Ibu: Pusat Kesehatan dan Jurnal Pendamping Kehamilan Wanita Indonesia”

Kategori Topik : Solusi untuk Perempuan dan Anak-Anak Perempuan

Terdiri dari dua mahasiswa yaitu Jones Napoleon Autumn, mahasiswa jurusan Informatika yang juga berprofesi sebagai software engineer, dan Zefania Praventia Sutrisno, mahasiswa teknik kimia yang terlibat dan memimpin berbagai proyek -termasuk yang memberdayakan pekerja perempuan.

Pemikiran mereka berangkat dari rasa keprihatinan terhadap banyaknya kelompok masyarakat yang menjadi lebih rentan akibat pandemi, khususnya kaum perempuan. Mereka lalu menciptakan Untuk Ibu, sebuah aplikasi pusat kesehatan dan jurnal pendamping perjalanan kehamilan untuk perempuan. Aplikasi ini hadir untuk menyampaikan informasi dan memudahkan seluk beluk prosedur melahirkan di tengah pandemi. Fitur Untuk Ibu meliputi pencarian rumah sakit dengan data fasilitas secara real time, jurnal kehamilan, informasi bidan, dan layanan uji swab/ kesehatan, integrasi informasi BPJS.

Pemenang 3 (a)

Nama Tim: Yudhis Thiro Kabul Yunior dan Fattaa Septian Dwi Cahyo

Nama Pemimpin Tim: Yudhis Thiro Kabul Yunior

Nama Proyek: “DTRON Smart Chair”

Kategori Topik: Solusi untuk Penyandang Disabilitas

Terdiri atas dua anggota yaitu Yudhis Thiro Kabul Yunior dan Fattaa Septian Dwi Cahyo.

Mereka menambah kemampuan kursi roda bagi para penyandang disabiiltas yang diberi nama Dtron Smart Chair. Kursi roda ini yaitu dilengkapi Voice Recognition System, Eye Navigation System & Sistem Kontrol Manual menggunakan Smartphone Android dengan konsep Integrated Artificial Intelligence. Dengan sistem ini, pengguna dapat lebih leluasa beraktivitas menggunakan kursi rodanya. Tidak hanya itu, sistem ini juga memungkinkan pengguna untuk mendapatkan informasi seputar perkembangan Covid-19.

Pemenang 3 (b)

Nama Tim: Solutioner

Nama Pemimpin Tim: Alfan Adi Chandra

Nama Proyek: “Aplikasi E-Learning untuk Penyandang Disabilitas, Sensorik Berbasis Artificial Intelligence”

Kategori Topik : Solusi untuk Penyandang Disabilitas

Tim ini terdiri atas mahasiswa Software Engineering Institut Teknologi Telkom Purwokerto yaitu Vincent Nathaniel, Rifqi Akmal Saputra, dan Alfan Adi Chandra. Pemikiran mereka berangkat dari rasa keprihatinan mereka terhadap penyandang disabilitas yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran daring. Aplikasi E-learning berbasis Artificial Intelligence(AI) membantu para penyandang disabilitas sensorik yakni disabilitas netra, disabilitas rungu, dan disabilitas wicara dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring. Hal ini dimungkinan karena teknologi ini mampu mengonversi bahasa isyarat menjadi teks untuk sarana komunikasi dengan pengajar, menghasilkan output berupa suara untuk memandu tuna netra sehingga memudahkan penyandang tuna netra dalam mengakses tugas maupun materi e-learning.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *