Tiga hari lagi Hari Kartini. Anak-anak perempuan di kelas Winda sibuk berembuk menentukan pakaian adat daerah mana yang akan mereka pakai. “Aku buat apa ya untuk Hari Kartini nanti?” gumam Winda menjelang tidur, karena ia belum mendapatkan ide.

Keesokan harinya Winda ke sekolah bersama Kakaknya menggunakan busway. “Wah, Kak, hebat sekali, pengemudi buswaynya perempuan,” bisik Winda.

Sesampainya di halte, semua penumpang turun kecuali Winda. “Ibu, boleh kan aku berfoto bersamamu?” pinta Winda. Sang pengemudi itu pun mengiyakan permintaan Winda.

Sampai di sekolah, Winda memasuki kelasnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Eci teman sekelasnya, bingung melihat tingkah Winda. “Aku lagi senang nih, karena aku sudah dapat ide untuk Hari Kartini nanti,” ujar Winda

Saat jam istirahat, Eci penasaran dan kembali menghampiri Winda. “Winda, baju adat mana yang mau kamu pakai?” tanya Eci. Winda hanya tersenyum sambil berlalu menuju kantin belakang sekolah.

Di kantin, Winda melihat Ibu Yayah sedang sibuk meracik gado-gado. Ia pun mengambil gambar Bu Yayah yang sedang mengulek bumbu gado-gado. Rupanya Eci menguntit Winda dari belakang. “Winda ngapain sih, ngambil foto penjual gado-gado segala,” gumam Eci.

Bel sekolah berbunyi. “Kak Lidia, aku pulang sendiri ya, aku ada tugas sekolah,” ucap Winda pada Kakaknya.

Winda lantas pergi ke pasar untuk menjumpai ibu-ibu penjual sayur. Tidak lupa ia juga mengambil foto ibu-ibu tersebut. Kemudian Winda melewati perempatan jalan, ia melihat tukang parkir wanita. Ia pun segera mengambil gambarnya.

Saat melewati mall, Winda melihat sopir taksi. Ternyata sopir taksi itu perempuan, ia pun segera mengambil gambarnya. “Foto yang aku kumpulkan sudah banyak, aku cetak dulu ah,” ujar Winda.

Keesokan harinya di sekolah, tepat saat perayaan Hari Kartini, Winda mengenakan pakaian seragam sekolah dengan membawa gulungan karton yang sangat besar. Teman-temannya heran mengapa Winda tidak mengenakan baju adat seperti yang diperintahkan Bu Guru.

“Winda, kenapa kamu tidak mengenakan baju adat?” tanya Bu Guru heran. “Saya memaknai Hari Kartini tidak dengan mengenakan baju adat, Bu, tapi saya mencoba memahami pekerjaan wanita-wanita perkasa dalam rangka emansipasi wanita. Sekarang wanita bisa mengerjakan pekerjaan laki-laki juga,” jelas Winda bersemangat.

Winda pun menempelkan gulungan karton yang ia bawa dari rumah di mading sekolah. Gulungan karton tersebut berisikan kliping ulasan mengenai emansipasi wanita serta foto-foto wanita perkasa yang ia foto seharian kemarin.

Teman-teman kelas Winda mengerumuni hasil karyanya dan mereka sibuk membacanya. Ibu Guru pun mengacungkan jempol untuk Winda.

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *