Kami baru saja pindah rumah. Tapi, jarang sekali ada anak-anak seusiaku di kompleks ini. Rata-rata usia mereka masih di bawah lima tahun.

Sebenarnya ada, sih. Pak Deddy, tetangga depan rumahku punya seorang anak perempuan. Namanya Echa. Ia cantik, berambut panjang terurai. Usianya sama denganku. Aku ingin sekali berkenalan dan berteman dengan Echa. Sayangnya, Echa tak suka bergaul. Ia lebih sering mengurung diri di rumah. Entah apa sebabnya.

“Ibu, kenapa sih Echa begitu? Setiap aku tegur, ia selalu lari masuk ke dalam rumahnya,” tanyaku heran. “Mungkin Echa masih teringat pada Ibunya yang sudah meninggal. Masih sedih dan berduka,” jawab Ibu menebak.

“Tapi kata Bapak, ibu Echa meninggal sudah setahun lalu. Masa Echa masih terus sedih sih, Bu?” tanyaku tak habis pikir. “Waduh, anak Ibu sudah mirip orang dewasa saja ngomongnya,” goda Ibu menyolek daguku sambil berlalu.

Keesokan sorenya, aku berpapasan dengan Echa di warung. Kali ini, ia tak bisa mengelak ketika aku hampiri. “Halo Echa, apa kabar?” tegurku. “Main ke rumahku, yuk. Aku punya banyak buku cerita yang bagus. Kamu pasti suka!” kataku.

Echa termenung sebentar, lalu menjawab. “Ka…kamu yang tinggal di depan rumahku, ya?” tanyanya ragu. “Iya, aku Sherly,” sahutku. “Mau kan main ke rumahku?” tanyaku lagi. Echa mengangguk pelan.

“Nah, gitu, dong!” kataku senang sambil menggandeng lengannya. “Sekarang, kita bersahabat, ya! Yuk, kita pulang,” ajakku setelah kami membayar jajanan masing-masing.

Aku dan Echa telah menjadi sahabat karib. Tapi, Echa tetap saja tidak seceria yang aku harapkan. Sore ini, Echa juga tampak muram ketika aku bermain ke rumahnya. “Echa, kamu masih teringat Ibumu, ya?” tanyaku hati-hati.

Echa menatapku. “Iya,” sahutnya pelan. “Tapi, bukan karena itu aku melamun. Aku hanya takut, Sher…,” sahutnya lagi. “Kamu takut apa?” desakku penasaran.

Echa tak menjawab dan menatap ke luar lewat kaca jendela. Tiba-tiba, sebuah taksi berhenti di depan rumah Echa. Seorang wanita sebaya Ibuku keluar dari taksi. Aku tak tahu siapa wanita itu. Namun, aku sering melihatnya datang ke rumah Echa. “Tante kamu datang, Cha,” kataku. “Kamu kok tidak bukakan pintu?” tanyaku.

“Dia bukan Tanteku,” sahut Echa. “Dia calon Ibu tiriku, Sher!” kata Echa.

“Calon Ibumu?” kataku terkejut senang. Kurangkul Echa erat. “Selamat ya, sebentar lagi kamu akan punya Ibu. Kamu pasti tidak akan sedih lagi, Echa,” ujarku.

“Kamu apa-apaan, sih?” kata Echa melepaskan rangkulanku. “Kamu pikir aku senang punya Ibu tiri? Banyak yang bilang, Ibu tiri itu kejam. Dia cuma baik kalau di depan Ayah. Itu yang aku takutkan, Sher!” ujar Echa.

“Darimana kamu dapat cerita seperti itu, Echa?” tanyaku heran. “Pasti dari cerita-cerita di sinetron, ya? Ingat Cha, tidak semua Ibu tiri itu kejam. Banyak kok yang baik dan sayang pada kita,” ujarku.

“Bohong! Mana buktinya?!” seru Echa. “Ibuku!” jawabku.

Echa terbelalak. “Ibu kamu…, bukan Ibu kandungmu, Sher?” tanya Echa tak percaya.

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Bukan. Ibu kandungku sudah meninggal dua tahun lalu karena penyakit kanker,” jelasku. “Kamu lihat sendiri, kan? Ibu sayang padaku dan kakakku,” ucapku.

Echa mengangguk mengiyakan. “Tapi, apakah Tante Dewi akan sebaik Ibumu?” tanya Echa kemudian.

“Tentu saja, Echa,” jawabku yakin, setelah memandangi wajah wanita di depan rumah Echa lewat kaca jendela. Wanita itu masih dengan sabar menunggu pagar dibuka. “Wajahnya sangat lembut dan keibuan. Ia pasti baik dan tulus seperti Ibuku,” ujarku.

Sejenak Echa terdiam. Echa kemudian bangkit dan berlari membuka pagar. “Tante Dewi!” sambut Echa hangat dan…haaap! Echa memeluknya!

Tante Dewi tampak kaget. Tetapi pelukan Echa segera dibalasnya dengan lebih erat dan hangat. Aku sampai terharu melihatnya. Semoga Echa bisa terus tersenyum dan gembira lagi. (Teks: Just For Kids/ Ilustrasi: Just For Kids)

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *