Pulau Rao adalah pulau indah yang terletak di laut pasifik. Tidak banyak orang yang mengetahui pulau itu, karena letaknya yang susah dijangkau. Di pulau Rao, tinggal dua sahabat bernama Bora dan Lau. Bora dan Lau adalah anak-anak nelayan dan kelak mereka juga ingin bekerja sebagai nelayan ketika sudah dewasa.

Bora dan Lau punya anjing kesayangan bernama Bo. Tapi, suatu hari Bo sakit parah. Tidak ada rumah sakit hewan di pulau Rao. Bora dan Lau harus pergi ke pulau yang lebih besar. Tapi badai datang dan dengan perahu nelayan mereka yang sederhana, Bora dan Lau tidak bisa pergi ke pulau itu, sehingga Bo tidak bisa diselamatkan. Bora sangat sedih dan marah. “Jika kita punya kapal nelayan yang canggih, Bo pasti bisa diselamatkan!” serunya. Maka ketika Bora menyelesaikan sekolahnya, dia memutuskan meninggalkan pulau Rao, pergi ke pulau yang lebih besar untuk kuliah.

“Lau, cita-citaku adalah punya kapal nelayan besar, maukah kau ikut denganku?” tanya Bora. “Bora, aku tidak bisa meninggalkan keluargaku, aku harus menggantikan ayahku menjadi nelayan,” kata Bora. Walau mengambil jalan hidup berbeda, Bora dan Lau masih tetap bersahabat. Bora tetap mengirim surat pada Lau dan kadang dia menyempatkan diri mengunjungi Lau di pulau Rao. Tapi, suatu hari datanglah surat terakhir dari Bora yang mengatakan kalau dia akan pergi ke luar negeri untuk bekerja di perusahaan perikanan besar yang mempunyai banyak kapal nelayan canggih.

Beberapa tahun berlalu dan ketika sedang beristirahat di tepi pantai, Lau melihat sebuah kapal nelayan besar perlahan mendekat. Kapal itu  lalu berlabuh  dan turunlah seorang pemuda dengan pakaian bagus. “Bora?!” seru Lau terkejut. “Ya ini aku, Bora sahabatmu Lau! Kini aku sudah menjadi pemilik perusahaan perikanan besar. Dan tentu kau sudah melihat kapalku. Itu adalah kapal yang dibuat khusus oleh perusahaan kapal atas  permintaanku. Kapal ini dapat berlayar ke pulau-pulau terpencil seperti pulau Rao ini,” kata Bora bangga.

“Aku akan mendirikan perusahaan ikan di pulau Rao, ayo bergabung denganku Lau. Kau akan kuberikan kapal nelayan canggih yang bisa meraih keuntungan besar!” ujar Bora mengajak Lau bergabung. Tapi Lau tetap tidak mau. “Lau, kalau kutunjukkan kemampuan kapal ini, kau tidak akan menolak. Ayo, naik ke kapalku!” kata Bora.

Tapi, apa yang ditunjukkan kapal Bora membuat Lau ketakutan. Kapal Bora menjaring ikan dalam jumlah sangat banyak, dan tidak hanya ikan yang bisa dimakan saja, ikan-ikan kecil pun ikut terjaring! Kapal Bora yang bisa menjelajah pulau kecil, merusak terumbu karang tempat ikan-ikan tinggal. Tumpahan bahan bakar dari kapal Bora mengotori air laut pulau Rao.

Lau memandang Bora dengan sedih. Dia lalu mengeluarkan sebuah foto lama dan memberikannya pada Bora. Di foto itu, Bora, Lau, dan Bo si anjing sedang naik perahu nelayan yang sederhana. Bo si anjing dengan wajah bahagia melihat ke air laut yang jernih, memperhatikan ikan-ikan yang berenang.

Melihat foto itu Bora terdiam. “Bora, kau selama ini memendam kemarahan karena tidak merelakan Bo. Tapi semua itu adalah takdir. Dan apa yang kau buat sekarang membuat biota laut, makhluk hidup yang sama seperti Bo, menderita. Kita tak bisa mengganti biota laut yang punah atau rusak. Karena itu kita harus memelihara mereka. Ambil ikan secukupnya, jangan berlebihan. Berapa banyak ikan yang terbuang hanya karena kau mengejar keuntungan?” kata Lau.

Mendengar perkataan Lau, Bora tersadar dan menangis menyesal. “Maukah kau memaafkanku, Lau?” tanya Bora. “Kau selalu jadi sahabatku,” jawab Lau. Bora kembali menetap di pulau Rao bersama Lau. Dan mereka berdua bekerja sama membuat pulau Rao terkenal dengan pariwisata, bukan eksploitasi. Kini karena pendapatan pariwisata,  Bora dan Lau bisa mendirikan rumah sakit hewan di pulau itu, dan banyak hewan-hewan peliharaan yang terselamatkan.

 

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *