Hear Me, aplikasi penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dengan tampilan 3D animasi pertama di Indonesia resmi membuka layanannya bagi seluruh masyarakat. Mulai hari Minggu (21/01), aplikasi Hear Me dapat di unduh gratis melalui App Store dan Play Store.

Ide aplikasi Hear Me sendiri tercetus dari pengalaman pribadi penemunya. Ya, inspirasi bisa datang dari siapa dan mana saja. Seperti yang dialami oleh empat anak muda ini, yakni Athalia Mutiara Laksmi, Nadya Sahara Putri, Octiafani Isna Ariani, dan Safirah Nur Shabrina. Pada tahun 2019 lalu, keempat mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB ini sedang menaiki taksi online. Kebetulan saat itu pengendaranya merupakan Teman Tuli (sebutan akrab untuk penyandang tuli). “Jadi waktu itu kita berempat pergi naik taksi online. Kebetulan driver-nya Teman Tuli. Dia ditemani anak perempuannya untuk bantu komunikasi dengan penumpang. Dari sana kita jadi tahu kalau si Bapak Driver ini sering dapat low rating karena ada miskom (miss communication) dengan penumpang,” ucap Athalia Mutiara Laksmi, CEO Hear Me pada acara webinar peluncuran aplikasi Hear Me secara virtual, Minggu (21/01).

Athalia Mutiara Laksmi, CEO Hear Me

Percakapan di dalam taksi online tersebut melahirkan perenungan panjang bagi Athalia dan ketiga temannya, bagaimana pentingnya medium penerjemah bahasa isyarat bagi penyandang disabilitas. “Dan dari sana kita juga mikir, sebenarnya anak dari driver ini juga punya hak untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh anak seusianya, seperti sekolah, bermain, dan lain-lain. Maka dari itu kita mulai mikir, gimana nih supaya kita bisa bantu menyelesaikan masalah ini,” urai Athalia menceritakan awal muasal tercetusnya Hear Me.

Lebih lanjut ia memaparkan bahwa Hear Me hadir untuk menjembatani komunikasi antara lebih dari 16 juta Teman Tuli di Indonesia dengan Teman non-Tuli atau yang biasa disebut dengan Teman Dengar. “Aplikasi ini menjawab kebutuhan Teman Tuli akan aplikasi yang mampu membantu mereka dalam berkomunikasi setiap harinya,” ucapnya.

Hear Me sendiri, ujar Athalia, diambil dari bahasa Inggris yang berarti ‘dengarkan saya’. Dalam hal ini, semua orang tanpa kecuali memiliki hak untuk didengar, termasuk mereka yang tuli. “Walaupun Teman Tuli memiliki hambatan untuk mendengar, tetapi aspirasi ataupun pendapat mereka itu berhak untuk didengar. Dan mendengar itu tidak harus menggunakan telinga, sebab Teman Tuli punya caranya sendiri untuk berkomunikasi yaitu dengan menggunakan bahasa isyarat,” imbuh Athalia.

Salah satu Teman Tuli yang menjadi pembicara dalam webinar adalah Surya Sahetapy, putra bungsu dari mantan pasangan suami istri Dewi Yull dan Ray Sahetapy. Ia mengaku, kurangnya akses bahasa isyarat, dan adanya gap komunikasi antara Teman Tuli dan Teman Dengar ini seringkali menimbulkan kesenjangan, baik di sekolah, tempat kerja, atau tempat umum lainnya. “Tak jarang, Teman Tuli juga kerap kali mendapatkan perlakuan berbeda karena rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya menghargai bahasa isyarat sebagai bahasa ibu, sehingga banyak dari Teman Tuli merasa dikucilkan,” papar mahasiswa RIT (Rochester Institute of Technology), New York, Amerika Serikat.

Surya Sahetapy, Mahasiswa Tuli RIT

Kehadiran aplikasi Hear Me ini tentu saja merupakan angin segar bagi para Teman Tuli khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya. “Aplikasi ini juga bisa membantu orangtua yang mempunyai anak tuli untuk berkomunikasi dan juga belajar bahasa isyarat Indonesia,” tambah Athalia.

Aplikasi Hear Me memiliki keunggulan sebagai penerjemah bahasa isyarat yang praktis dan menarik yang dikemas dalam satu aplikasi. Selain itu, aplikasi ini juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran bahasa isyarat yang sangat mudah dimengerti dan juga memiliki tampilan yang atraktif dengan tampilan 3D animasi.

Secara sederhana, sistem kerja Aplikasi Hear Me adalah; Teman Dengar merekam suara atau mengetik tulisan lalu akan otomatis diterjemahkan ke gerakan bahasa isyarat dalam tampilan 3D animasi. “Karakter animasi ini kita namakan Dave (baca: def), diambil dari bahasa Inggris yakni “deaf” (tuli),” urai Athalia.

Nanti ke depannya, akan ada fitur yang dapat mendeteksi gerakan bahasa isyarat lalu akan otomatis diterjemahkan ke suara atau teks. Aplikasi ini dilengkapi dengan 3 fitur lainnya yaitu fitur pembelajaran Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), Hear News atau fitur berita terkini yang memuat kisah inspiratif dari penyandang disabilitas khususnya Tuli, dan fitur Transkripsi Instan yang dapat mendeteksi suara ke teks pada waktu yang sama.

Atha menambahkan, “Dengan adanya aplikasi Hear Me, besar harapan kami bahwa tidak ada lagi kesenjangan antara mereka yang Tuli dan tidak Tuli. Sehingga dapat mencapai visi dari Hear Me yaitu meningkatkan dan mewujudkan nilai kesetaraan hak antara Teman Tuli dan Teman Dengar. Selain itu, semoga masyarakat juga dapat lebih aware dan respect dengan mempelajari bahasa isyarat melalui aplikasi ini,” tutup Atha.

Yang membanggakan, aplikasi Hear Me telah meraih berbagai penghargaan dalam kompetisi nasional dan internasional. Beberapa di antaranya: Juara untuk kategori The Most Innovative Idea di Bandung Startup Pitching Day 2019, Juara 2 Swiss Innovation Challenge Indonesia 2019, Finalis 22 Besar Swiss Innovation Challenge Switzerland 2019, Juara Diplomat Success Challenge X oleh Wismilak Foundation 2019, dan Pemenang The Transformers Summit Senegal 2019 oleh Islamic Development Bank.

Selain Surya Sahetapy, turut hadir pula Yura Yunita, Musisi & Founder Merakit Ruang Kolaborasi. Keduanya memperkenalkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya akses bahasa isyarat sebagai alat komunikasi antara Teman Tuli dan Teman Dengar.

Foto: Efa

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *