Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Sekutu menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Jepang pun menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Indonesia yang kala itu dijajah oleh Jepang pun ingin sesegera mungkin memproklamasikan kemerdekaan. Tapi, terjadi beberapa perbedaan pendapat yang menyebabkan proklamasi kemerdekaan Indonesia tertunda. Wah, kenapa, ya? Simak, yuk!

Dua Golongan

Perdebatan tentang cara dan waktu pengumuman kemerdekaan Indonesia terjadi antara dua golongan, golongan tua dan golongan muda. Golongan tua diwakili oleh Soekarno dan Hatta, berpendapat bahwa proklamasi kemerdekaan harus dilakukan sesuai perintah PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), yaitu pada tanggal 24 Agustus 1945.

Adapun golongan muda merasa PPKI adalah bentukan Jepang, jadi mereka menolak proklamasi dilaksanakan melalui PPKI. Golongan muda merasa bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan masalah rakyat Indonesia sendiri, bukan bergantung pada pihak lain.

Penculikan Tokoh Proklamator

Di tengah perdebatan, golongan muda memutuskan untuk mengamankan kedua tokoh yang dianggap penting untuk kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Hatta. Mereka berdua dibawa ke Rengasdengklok. Sementara itu, golongan tua dan golongan muda mengadakan pertemuan untuk menyepakati waktu proklamasi kemerdekaan. Mereka sepakat proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilakukan di Jakarta pada 17 Agustus 1945.

Perumusan Teks Proklamasi

Pada 16 Agustus 1945, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Subardjo melaksanakan rapat perumusan teks proklamasi. Pada awalnya, ketika teks proklamasi sudah rampung, Soekarno menyarankan agar teks tersebut ditandatangani oleh seluruh peserta rapat. Namun, setelah bermusyawarah, diputuskan teks tersebut hanya akan ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Esok harinya, tanggal 17 Agustus 1945 tepat pukul 10.00 WIB, Soekarno didampingi Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini berlangsung di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Setelah itu, bendera Sang Saka Merah Putih, yang dijahit oleh Ibu Fatmawati (istri Soekarno), dikibarkan. Bersamaan dengan itu, rakyat yang hadir menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara hikmat.

 

 

 

 

 

Teks: JFK    Ilustrasi: JFK

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *