Hari Senin sore, bel pulang sekolah berbunyi nyaring, Dian membereskan buku-bukunya dengan senang. “Besok hari libur!” katanya riang. Dian menengok pada teman sebangkunya yang baru, Lina. Lina orang yang pendiam, dan Dian terkadang bingung untuk mengajaknya berbincang-bincang. Tapi kali ini ada yang berbeda dengan Lina. Lina melihat tempat alat tulisnya dan wajahnya pucat pasi. “Lina…kamu kenapa? sakit?” tanya Dian khawatir. “Pulpen oleh-oleh dari Mama hilang,” jawabnya panik. Lina sangat menyayangi pulpen dari luar negeri itu. “Bagaimana ini? Masa ada yang mengambilnya?” ucap Lina dengan kedua mata berkaca-kaca. “Tenangkan diri dulu Lina, yuk aku bantu bereskan buku-bukumu, ya,” kata Dian. Lina mengangguk, lalu memasukkan buku ke tas sekolahnya.

Setelah teman-teman mereka semua keluar, Dian dan Lina tinggal di dalam kelas. “Ah, aku tahu! Mungkin saja pulpenmu terjatuh di lantai kelas, ayo kita cari sama-sama,” ajak Dian pada Lina. Tapi sepertinya Lina masih kecewa, jadi dia hanya bisa duduk diam. Dian kasihan pada Lina, jadi dia mencarinya sendiri. Dian perlahan menyusuri lantai kelas, memakai sapu untuk memeriksa di bawah meja dan lemari. Dian menemukan sebuah pulpen di bawah meja guru. “Aha!” seru Dian gembira. Dia lalu menunjukkan pulpen itu pada Lina. “Yang ini bukan, Lina?” tanya Dian. Lina melihat pulpen di tangan Dian dan dia menggeleng.

Lina menangis kecewa. “Pulpen itu pasti nggak bisa ketemu lagi,” isaknya. “Coba ingat-ingat kapan kau terakhir kali menggunakan pulpen itu,” kata Dian sambil menggenggam tangan Lina. “Kapan ya..Oh! Aku baru ingat, kemarin siang di rumah. Aku duduk di meja belajar dan menulis dengan pulpen itu. Lalu… aku memasukkan pulpen itu lagi ke dalam tempat alat tulisku,” ujar Lina mengingat-ingat. “Lalu setelah itu, kau memasukkan tempat alat tulismu ke tas?” tanya Dian. “Aku tidak memasukkan tempat alat tulisku ke dalam tas, tapi meninggalkannya di meja belajar! Dan malam harinya, kucingku si Hitam menjatuhkannya ke lantai! Aku mau menghentikannya tapi saat itu aku menerima telepon. Aku mengambil tempat alat tulisku di lantai dekat lemari pakaianku,” jelas Lina. “Nah, mungkin saja pulpen kesayanganmu itu di bawah lemari pakaianmu!” kata Dian.

Lina mengajak Dian ke rumahnya untuk mencari pulpen. “Aku sekarang ingat! Tempat alat tulisku terbuka waktu aku mengambilnya kemarin!” seru Lina. “Mudah-mudahan aku benar…” kata Lina sambil meraih ke bawah lemari pakaian dengan sapu. Sapu Lina meraih sesuatu dan dia menariknya ke luar. “Ketemu! Ini dia pulpen kesayanganku!” seru Lina senang. “Horeee!” sorak Dian. “Terima kasih, Dian! Kamu hebat sekali! Mulai sekarang kusebut kamu Detektif D, Detektif Dian!” kata Lina sambil memeluk Dian. “Ah, aku jadi malu. Ya, aku memang suka membaca cerita detektif! Aku memang ingin jadi detektif,” ucap Dian tersenyum malu-malu. Sejak itu, Lina jadi suka membaca cerita detektif seperti Dian dan mereka menjadi teman sebangku yang akrab.

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *