“Ani, ayo kita berangkat!” seru Kak Dila dari bawah. Ani menghentikan pencariannya di internet dan buru-buru memasukkan gadget-nya ke dalam tas. “Iya, Kak!” seru Ani sambil berlari turun. Hari ini, Ani dan Kak Dila akan pergi ke Desa Muja. Jarang ada orang yang mengenal Desa Muja, karena bukan tempat wisata. Tapi, Kak Dila yang suka membuat sketsa, mengenal Desa Muja dari teman-teman perkumpulan sketsa-nya. Suatu hari, Kak Dila mengajak Ani ke Desa Muja, dan Ani setuju karena dia juga ingin menggambar.

Sebelum berangkat, Ani mencari tahu tentang Desa Muja di internet. Dia menemukan sebuah tulisan dan kaget ketika melihat tulisan tentang Desa Muja itu di situs misteri! Tapi, sebelum Ani sempat membaca tulisan itu, Kak Dila sudah mengajak Ani berangkat. “Untung saja aku belum sempat membacanya, kalau tidak, aku bisa takut nanti,” kata Ani.

Tapi, di sepanjang perjalanan, Ani merasa bosan karena macet. “Aku jadi penasaran dengan misteri Desa Muja,” kata Ani. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengunjungi situs  misteri yang dilihatnya tadi sebelum berangkat dan membaca artikel tentang Desa Muja. Setelah membacanya, Ani sedikit kecewa. “Yah, ternyata tidak seram,” katanya.

“Ani bangun, kita sudah sampai,” kata Kak Dila membangunkan Ani. Saat itu, Matahari bersinar terik. Ketika pintu mobil dibuka, Ani merasakan udara sejuk. “Wah, segar sekali udaranya!” seru Ani. Dia jadi bersemangat. “Iya, karena di Desa Muja banyak sekali pohon hijau,” kata Kak Dila.

Kak Dila mengajak Ani bertemu dengan keluarga kepala desa kenalannya. Pak kepala desa senang sekali dengan kunjungan Kak Dila dan Ani.  Kak Dila minta izin pada Pak kepala desa untuk membuat sketsa bersama Ani. “Tentu saja boleh, Bapak senang kalau kalian bisa menghargai Desa Muja,” kata Pak kepala desa.

Kak Dila dan Ani menemukan sebuah danau, dan mereka memutuskan untuk menggambar danau itu.  Selesai menggambar, Kak Dila mengajak Ani pulang. “Aku penasaran, apa danau ini ada ikannya?” tanya Kak Dila. “Pasti ada,” jawab Ani. Mendadak, Kak Dila dan Ani mendengar suara kecipak dari danau. “Itu ikan?” gumam Ani. Tiba-tiba, langit berubah gelap. “Wah, mendung. Ayo, kita segera pergi!” ajak Kak Dila. Tapi, ketika mobil mereka meninggalkan desa, hujan turun sangat deras. Kak Dila tidak bisa melihat ke depan. “Ini badai!” serunya. Kak Dila memutuskan untuk menghentikan mobilnya. Untung masih ada persediaan makanan di mobil! Kak Dila dan Ani memutuskan makan biskuit sambil menunggu hujan reda.

Tak lama kemudian, gadget Kak Dila berbunyi. Rupanya, telepon dari Pak kepala Desa Muja.  Ani mendengar pembicaraan Kak Dila. “Iya Pak, mobil kami terjebak hujan deras. Iya Pak, tadi kita menggambar di dana…Eh? Apa?  Ya Pak, kita mengucapkan kata ikan…Oh baik Pak,” Kak Dila lalu mengakhiri pembicaraan. “Kenapa, Kak?” tanya Ani. Kak Dila menggelengkan kepalanya bingung.

Tiba-tiba, hujan yang deras itu reda dan langit kembali cerah. “Wah! Hujannya hilang!” seru Ani bingung. “Tadi Pak kepala Desa Muja bilang kalau hujan ini karena kita mengucapkan kata ikan di danau…,” ujar Kak Dila. Tiba-tiba, Ani teringat artikel yang dibacanya di situs misteri mengenai Desa Muja. “Katanya, dulu Desa Muja dijaga oleh siluman ikan mujair yang suka menurunkan hujan!” ucap Ani. Kak Dila dan Ani berpandangan. Entah benar atau tidak, yang jelas mereka harus segera pergi! Kak Dila menyalakan mobilnya dan mereka berdua pun segera berlalu dari tempat itu.

 

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *