Tak hanya dari segi kesehatan fisik, pandemi Covid-19 berdampak besar pada kehidupan masyarakat. Banyak dari kita yang menghadapi tantangan yang bisa membuat stres, membebani, dan menyebabkan gejolak emosi yang kuat. Hal ini tak hanya melanda orang dewasa, anak-anak pun juga.

Salah satu kondisi psikologis yang kerap dialami masyarakat di masa pandemi ini adalah burnout, yakni merasa gagal dan lesu akibat tuntutan yang terlalu membebankan tenaga dan kemampuan seseorang. Pemicunya beragam, mulai dari kejenuhan akibat menjalankan berbagai aktivitas secara online di area rumah tanpa banyak keluar ruangan, pekerjaan kantor yang semakin berat, kegiatan bersosialisasi yang terbatas, hingga mendampingi kegiatan belajar anak yang serentak dilakukan secara online. Masalah lainnya yang kerap dikeluhkan yakni munculnya gangguan kecemasan atau anxiety seperti merasa depresi akibat pandemi yang telah berlangsung lama dan juga masalah yang berkaitan dengan rumah tangga.

Sehat Fisik, Mental dan Sosial

Bicara soal sehat, umumnya sering dikaitkan dengan kesehatan fisik semata. Padahal, definisi sehat itu lebih luas. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan dengan 3 hal, yakni kesehatan fisik, kesehatan mental dan kesehatan sosial.

Direktur Guardian Indonesia, Naresh Kalani

Ditegaskan oleh  Direktur Guardian Indonesia, Naresh Kalani, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik untuk diperhatikan secara serius. Ia menyebut, selama masa pandemi kondisi stres seseorang meningkat dari biasanya dan hal ini dialami oleh semua orang baik dari rentang usia dewasa ataupun anak-anak. “Sebabnya bisa macam-macam seperti kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, menjadi guru di rumah, work from home, dan sebagainya,” katanya dalam talkshow Guardian ‘Healthy Inside Out’ yang dilaksanakan secara daring, beberapa waktu lalu.

Hal senada disampaikan oleh Associate Psychologist dari Ibunda.id, Rininta Meyftanoria.  Ia mengatakan masalah kesehatan bisa terjadi antara lain karena trauma masa lalu, stres yang tinggi, dan lingkungan yang kurang suportif. “Banyak sekali faktor pemicunya, contohnya saja kurang hiburan, jenus dan stres karena sosialisasi terbatas, toxic relationship (menjalin hubungan yang tidak sehat hingga membuat salah satu pihak menjadi tertekan atau terancam), pekerjaan rumah tangga yang menumpuk, si individu merasa ‘sendiri’ dan kesepian, perasaan cemas, kondisi sekolah maupun kerja online, dan sebagainya,” ungkapnya.

Associate Psychologist dari Ibunda.id, Rininta Meyftanoria

Depresi Meningkat Selama Pandemi

Akibatnya, selama pandemi terjadi kenaikan tingkat depresi sebanyak 57 persen. Dan, bila dikalkulasi, sekitar 67% masyarakat alami depresi. Duh!

Tentu saja hal ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Seperti kita tahu, stres yang tanpa pengelolaan dapat mengganggu kesehatan mental. Dan, hal itu juga pada akhirnya berdampak pada perilaku orang tersebut, misalnya saja ia jadi murung, enggan bergaul dan berinteraksi dengan sekitar, menarik diri dari lingkungan, dan sebagainya. Otomatis, kesehatan mental mempengaruhi pula kesehatan sosial-nya. Itulah sebabnya, bukan hanya fisik, kesehatan mental juga sangat penting!

Talkshow Guardian ‘Healthy Inside & Out’ juga menghadirkan Psikolog, Apoteker dan juga Influencer yang berbagi pengalaman mengenai masalah kesehatan mental

Selain itu, kesehatan fisik dan kesehatan mental sangat berkaitan erat. Orang yang sakit secara fisik (terutama sakit berat) bisa mempengaruhi kondisi psikologisnya, misalnya menjadi stres hingga memperburuk kondisi imun tubuh. Di sisi lain, orang yang alami gangguan kesehatan mental, juga bisa memperburuk stamina fisiknya.

Hal ini diperkuat dengan penelitian dari “Mental Health Foundation”. Dikatakan, gangguan mental Schizophrenia memiliki risiko 3x lebih tinggi terkenapenyakit pernapasan dan 2x lebih tinggi terkena serangan jantung.

Penelitian itu juga mengungkapkan bahwa depresi memiliki peluang 50% meninggal karena kanker dan 67% meninggal karena serangan jantung.

Konseling Psikologi Gratis

Wah,  jangan sampai kita menyepelekan kesehatan mental ya, Moms. Sudah saatnya kita membuka diri dan tak sungkan meminta bantuan ahli bila diperlukan. Hal ini juga sangat disadari oleh Guardian. Adanya berbagai gangguan kesehatan mental yang sering dikeluhkan oleh masyarakat mendorong Guardian untuk menyediakan fitur layanan konseling psikologi gratis yang disediakan hingga 31 Maret 2021.

Baca juga: Prioritaskan Kesehatan Tubuh dan Mental Masyarakat, Guardian Hadirkan Konsultasi Psikologi Gratis

Sebagai retailer kebutuhan produk kecantikan dan kesehatan terkemuka di dunia, ujar Naresh, Guardian ingin memberikan layanan lebih kepada pelanggannya dan masyarakat pada umumnya. Melalui kampanye ‘Healthy Inside Out’ selama masa pandemi Covid-19, Guardian memberikan layanan konsultasi gratis, menyediakan program bincang-bincang tentang masalah kesehatan melalui platform media sosial Instagram @guardian_id resmi milik mereka dan juga aplikasi Tanya Apoteker bagi pelanggan yang ingin menanyakan masalah obat-obatan dan menebus resep dokter melalui aplikasi WhatsApp.

Head of Marketing Guardian Indonesia, Lia Stephiningrum

Head of Marketing – Guardian Indonesia, Lia Stephiningrum menjelaskan kampanye ‘Healthy Inside Out’ dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan dukungan kepada masyarakat agar lebih peduli tidak hanya pada kesehatan fisiknya tetapi juga kesehatan mentalnya. “Ketika mengalami stres jangan disepelekan, kalau dipendam lama-lama maka dampaknya akan berbahaya. Jadi, stres jangan diabaikan, ada psikolog yang bisa dijangkau untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya.

Langkah-langkah Menjaga Kesehatan Mental
Dalam kesempatan itu, Rininta Meyftanoria membagi beberapa kiat untuk menjaga kesehatan mental, antara lain:
– Menjaga rutinitas, rencanakan kegiatanmu
– Tetap terkoneksi dengan teman dan orang lain
– Lakukan aktivitas bersama keluarga
– Cari aktivitas/hobi baru yang menyenangkan
– Lakukan self care, seperti menjalankan kebiasaan hidup sehat (makan menu gizi seimbang, olahraga teratur,tidur cukup) dan terapkan protokolkesehatan ketik akeluar maupun saat di dalam rumah
– Batasi penggunaan screen time seperlunya dan hindari informasi-informasi yang menyesatkan dan membuat emosi tidak stabil. Selalu cross check informasi yang didapat, jangan langsung menelan mentah-mentah.

Selain itu, ia menegaskan bahwa seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental sangat membutuhkan support system yang berasal dari pihak keluarga atau teman yang bisa dipercaya. Hal ini akan berdampak positif kepada penderita masalah kesehatan mental karena tidak akan memberikan tanggapan yang buruk atas apa yang tengah dia hadapi. “Jika sebaliknya (tidak memberikan dukungan) maka si penderita akan merasa down, tidak berharga, dan lain sebagainya,” katanya.

Penderita masalah kesehatan mental juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Salah satunya bisa melalui kegiatan journally baik dalam bentuk tulisan, rekaman suara, ataupun gambar. “Tujuannya untuk mengontrol pikiran-pikiran yang berpengaruh negatif pada diri sendiri,” tutup Rininta.

Foto: Efa, Freepik

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *