Dadung dan Irman bersahabat karib sejak kecil. Keduanya adalah anak yang terkenal badung di sekolah dan tempat tinggalnya. Mereka suka mengganggu anak lain. Teman Dadung hanyalah Irman dan teman Irman hanyalah Dadung. Kadang, mereka bahkan mengganggu orang tua juga.

Suatu hari, Dadung disuruh ibunya belanja ke pasar. Di tengah jalan,ia melihat seorang Nenek yang kesulitan untuk menyeberang jalan. Bukannya mau membantu, tiba-tiba timbul pikiran iseng Dadung. Ia menghampiri nenek itu dan berpura-pura menolongnya.

“Nenek mau ke mana?” sapa Dadung.

“Mau ke seberang jalan itu. Rumah anak Nenek di sana,” jawab Nenek itu sambil menunjuk ke gang di seberang jalan.

“Saya bantu Nenek menyeberang, ya?” tawar Dadung.

“Aduh, terima kasih sekali. Maklum, Nenek ini orang desa,” kata Nenek itu.

Memang hari itu kendaraan padat sekali. Pantas saja kalau Nenek itu takut untuk menyeberang. Bahkan Dadung pun kesulitan untuk menyeberang. Tapi setelah beberapa saat, akhirnya berhasil juga ia membawa Nenek itu sampai di garis tengah jalan raya. Kenakalannya pun dimulai.

“Kita berhenti di sini dulu, Nek. Saya mau pulang dulu ya,” kata Dadung sambil berlari lagi ke seberang. Tinggallah si Nenek sendirian di tengah jalan. Padahal suasana jalan saat itu ramai sekali. Nenek yang ditinggal menjadi panik.

“Cu.. cucu, bantu Nenek menyeberang. Jangan ditinggal sendirian di sini!” teriak Nenek itu kebingungan. Dadung sudah berada di pinggir jalan. Ia malah tertawa terbahak-bahak melihat Nenek tersebut panik.

Saking asyiknya tertawa, Dadung salah menginjak tepi trotoar. Akibatnya ia kehilangan keseimbangan dan terdorong ke depan.

Nyiiiiiiiiiiit!!!!

Sebuah sepeda motor yang berjalan kencang berusaha mengerem dan menghindar menabrak Dadung. Tapi bahu Dadung tetap saja tersenggol. Ia pun terbanting di atas trotoar.

“Hei kamu anak kecil, ceroboh sekali!” teriak pengendara sepeda motor itu tanpa menghentikan kendaraannya. Dadung berusaha bangkit berdiri. Tak ada seorang pun membantunya. Bahu dan kakinya sakit sekali.

“Cu, kamu tidak apa-apa?” tanya seorang Nenek.

Dadung berpaling pada sumber suara itu.

“Nenek?” Dadung ternganga tidak percaya. Nenek yang ditinggalkannya tadi, kini berjongkok di sampingnya. Bahkan ia satu-satunya orang yang peduli pada Dadung saat melihatnya jatuh tersungkur.

“Kakimu terluka. Aduh, banyak sekali darahnya,” seru Nenek itu. Nenek itu cepat-cepat mengikat kaki Dadung yang terluka dengan sapu tangan.

“Lukamu harus cepat diobati supaya tidak infeksi,” kata Nenek itu lagi. “Mari ke rumah anak Nenek,” kata Nenek itu sambil membantu Dadung berdiri.

“Siapa anak itu, Bu?” tanya anak si Nenek, ketika mereka sampai di rumahnya.

“Anak ini telah membantu Ibu menyeberangi jalan. Tapi malang, ia tersenggol sepeda motor,” jawab sang Nenek.

Nenek itu dan anaknya segera membersihkan luka Dadung dan kemudian mengobatinya. Si Nenek kemudian mengantar Dadung pulang dengan becak.

“Nek,” panggil Dadung di tengah jalan. “Maafkan saya, ya. Saya sangat menyesal telah mempermainkan Nenek,” kata Dadung merasa malu dan bersalah.

“Tentu saja Nenek maafkan. Asal kamu tidak mengulangi kenakalanmu lagi,” kata si Nenek.

Sejak itu, Dadung menjadi anak yang baik dan tidak pernah berbuat nakal lagi kepada siapa pun. (Teks: Just For Kids/ Ilustrasi: Fika)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *