Siang itu, matahari seperti tak ingin bersembunyi di balik awan. Teriknya begitu memaksa peluh para pejalan kaki menetes dengan deras. Tak terkecuali Sabrina. Murid kelas 5 SD yang setiap hari pulang dan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, karena letak rumahnya yang tak terlalu jauh dari sekolah.

Awalnya, Sabrina selalu dijemput Ibu dengan menggunakan motor. Namun, sudah beberapa bulan terakhir ia memilih untuk pulang sendiri karena merasa sudah besar, dan malu jika masih suka dijemput. Ibu pun menyetujui permintaan putrinya tersebut.

Seperti biasa, siang itu ia pulang dengan berjalan kaki menuju rumahnya. Tapi, ada satu hal yang tak biasa. Hari itu adalah hari pertama puasa Ramadhan, sehingga ia tak bisa lagi menyeruput es jeruk dalam plastik yang biasa dibeli untuk menemaninya berjalan kaki sampai rumah.

“Duh, panas banget, sih, hari ini,” keluhnya dalam hati sembari menyeka setiap tetesan keringat yang mengalir dari dahinya. Walaupun begitu, ia tetap meneruskan perjalanan pulang agar cepat sampai rumah. Tak jauh, ia melihat kios pinggir jalan membuka kotak tempat penyimpanan minuman dingin, lalu memberikan sebotol air mineral yang berembun kepada seorang bapak yang terlihat sangat lelah.

Sabrina kemudian terhenti melihat sang Bapak membuka botol tersebut dan menenggaknya dengan semangat. Ia hanya bisa melongo dan menelan ludah. “Lho, kok, Bapak itu nggak puasa, sih?!” gerutunya dalam hati. “Kenapa minumnya harus di depan aku, sih?! Huh!” lanjutnya dengan kesal.

Setelah terdiam dan mengeluh dalam hati, ia menyadari bahwa untuk sampai ke rumahnya ia harus berjalan beberapa menit lagi. Kemudian ia meneruskan perjalanannya, sambil berusaha untuk menahan rasa hausnya. Beberapa menit kemudian, akhirnya ia berhasil sampai rumah.

“Eh, anak Ibu sudah pulang? Bagaimana puasa pertamanya di sekolah?” tanya Ibu. Bukannya menjawab pertanyaan Ibu, Sabrina malah langsung menuju kamar mandi dan membasuh mukanya dengan air.

“Bu, kenapa, sih, Ibu nggak jemput aku?” Sabrina malah balik bertanya. “Lho, kan kamu sendiri yang nggak mau Ibu jemput. Katanya sekarang kamu sudah besar, jadi nggak perlu Ibu antar jemput lagi,” jawab Ibu. “Ya, tapi kan ini beda. Kalau bulan puasa aku nggak bisa minum kalau haus di tengah jalan. Mana tadi ada bapak yang minum air dingin di depan aku, huh!” cerita Sabrina sambil menekuk mukanya.

Ibu tersenyum karena mengerti perasaan anaknya. “Itu namanya cobaan saat puasa, Nak. Insya Allah, kalau kamu bisa melewati cobaan yang diberikan, kamu akan dapat pahala yang besar,” jelas Ibu coba memberi pengertian. “Oh, begitu, ya, Bu?” jawab Sabrina singkat. “Tapi, besok jemput aku, ya, Bu. Pokoknya selama bulan puasa aku jadi anak kecil lagi nggak apa-apa, deh. Asal dijemput Ibu,” pinta Sabrina. Ibu menyetujui permintaan putri kecilnya itu dan mengajaknya membantu menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.

 

 

 

Cerita: JFK     Ilustrasi: JFK

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *