Si ibu cacing baru saja melahirkan seekor bayi cacing yang gemuk dan lucu. Ia diberi nama Cica. Cica dan segerombolan cacing-cacing lainnya tinggal di sebuah sela-sela tanah. Tempat itu diberi nama Jalan Gang.

Cica si bayi cacing sangat bahagia hidup di dalam Jalan Gang. Di sana makanan sangat cukup karena banyak sisa-sisa bahan organik yang membusuk. Kehidupan para cacing di Jalan Gang sangat rukun dan bahagia.

Akan tetapi, pada suatu hari, saat Cica si bayi cacing sedang makan, tiba-tiba dia melihat ada cahaya terang di balik sela-sela tanah. Cica yang saat itu belum pernah diajak keluar dari dalam tanah oleh sang ibu, berjalan mengikuti arah cahaya terang tersebut.

Cica sangat penasaran dengan cahaya terang tersebut. Ia pun terus berjalan menuju cahaya tersebut hingga sampai pada sisi terluar tanah. Cica lupa, ia belum sempat pamit pada ibunya. Setibanya di luar tanah, Cica sangat terpesona melihat indahnya dunia. Apalagi sebelumnya, Cica tidak pernah keluar dari dalam tanah.

Sampai di luar tanah, Cica terus berjalan hingga ia bertemu dengan Sisi si kupu-kupu yang sedang terbang rendah. “Hai, kamu cantik sekali,” ucap Cica pada Sisi si kupu-kupu. “Terima kasih. Hai, Cacing, namaku Sisi si kupu-kupu. Siapa namamu?” tanya Sisi. “Namaku Cica, si cacing. Kamu seekor kupu-kupu? Apakah semua kupu-kupu indah seperti dirimu?” tanya Cica pada Sisi.

“Hahaha… tentu saja. Kami para kupu-kupu memang terkenal dengan sayapnya yang indah ini. Apakah kamu baru pertama kali melihatnya?” ucap Sisi. “Ya, aku baru pertama kali keluar dari tanah,” ujar Cica.

Tiba-tiba, terdengar kicauan burung yang suaranya sangat merdu. “Itu suara apa, Sisi?” tanya Cica. “Oh, itu suara burung. Kamu juga tidak tahu? Berhati-hatilah dengan burung. Dia bisa memakanmu. Segeralah kau kembali ke dalam tanah,” ucap Sisi dengan panik.

“Begitukah? Baiklah, aku akan pulang dulu. Senang sekali bisa bertemu denganmu, Sisi,” kata Cica.

Cica pun segera bergegas pulang menuju rumahnya, kembali masuk ke dalam tanah. Ia menuruti saran Sisi si kupu-kupu, meski ia tidak tahu kenapa burung mau memakannya.

Sesampainya di rumah, Cica termangu sedih. “Mengapa kamu bersedih, Nak?” tanya ibu cacing. “Aku tadi keluar tanah melihat alam luar, Bu,” jawab Cica. “Astaga Cica, untungnya kamu baik-baik saja sekarang. Berjanjilah, kamu tidak akan mengulanginya lagi. Suatu saat, Ibu akan mengajakmu melihat dunia luar, Nak. Tapi, sekarang ini belum saatnya, Nak,” kata ibu cacing. “Iya, Bu. Aku berjanji,” ujar Cica menuruti kata-kata ibunya.

“Lalu, apa yang membuatmu kemudian bersedih, Nak?” tanya ibu cacing penasaran. “Aku sedih, Bu. Di luar sana, aku bertemu dengan Sisi si kupu-kupu. Dia memiliki sepasang sayap yang sangat indah, Bu. Juga seekor burung yang memiliki suara yang sangat merdu. Aku ingin seperti mereka, Bu,” ucap Cica dengan murung.

“Kita memang tidak secantik kupu-kupu atau memiliki suara seindah burung, Nak. Namun, tetaplah bersyukur meski kita terlahir sebagai cacing,” ujar ibu cacing menasehati.

“Tapi, lihatlah, Bu. Kita ini kotor dan hidup di dalam tanah. Tidak seperti kupu-kupu dan burung yang tinggal di luar sana,” ucap Cica. “Hidup itu tidak hanya sekadar cantik atau memiliki suara yang indah, Nak. Lihatlah seberapa beruntungnya kita. Kamu tahu, tanah subur ini karena kita. Dengan tanah yang subur, kita telah menciptakan kehidupan. Bunga-bunga dapat tumbuh, pohon pun demikian. Kamu tahu, kupu-kupu sangat membutuhkan bunga. Begitupula dengan burung yang membutuhkan pohon untuk tempat berteduh,” jelas ibu cacing dengan bijak.

Akhirnya Cica sadar dan ia pun tersenyum dengan bangga. Cica baru mengerti bahwa betapa beruntungnya dia terlahir sebagai seekor cacing. Hidupnya dapat sangat bermanfaat untuk orang lain.

 

Cerita: JFK     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *