Pak Slamet adalah seorang tabib yang suka mengembara. Suatu hari, ia tiba di Desa Mukti. Karena sudah sore, ia menginap di rumah Kepala Desa. Pak Edi, Kepala Desa Mukti menerimanya dengan senang hati.

Ketika itu, anak perempuan Pak Edi yang berumur 6 tahun sedang sakit. Tubuhnya demam. Sebentar-sebentar ia mengigau. Kata Pak Edi, anaknya diganggu Hantu Kunang. Menurut kepercayaan penduduk Desa Mukti, Hantu Kunang adalah roh halus yang suka masuk ke rumah penduduk untuk mengganggu anak-anak.

Pak Slamet pun meminta ijin untuk memeriksa anak Pak Edi. Pak Slamet membuka tasnya yang ternyata berisi macam-macam ramuan obat. “Seduh ramuan ini dengan segelas air mendidih. Setelah dingin, minumkan padanya. Seduhlah berulang kali. Mudah-mudahan anak Bapak bisa sembuh,” kata Pak Slamet.

Beberapa saat setelah meminum ramuan tersebut, panas badan anak Pak Edi mulai turun. Tidurnya pun nyenyak.

Keesokan harinya, Pak Slamet pamit. Ia berterimakasih karena telah diperbolehkan bermalam. “Saya juga berterimakasih, Pak Slamet telah menyembuhkan anak saya,” balas Pak Edi. “Tapi, apa yang harus saya lakukan agar Hantu Kunang tidak berani memasuki rumah saya lagi?” tanya Pak Edi.

Pak Slamet bingung mendengar pertanyaan itu. Sejak semula ia tak percaya bahwa anak Pak Edi sakit karena diganggu hantu. “Jangan takut!” kata Pak Slamet setelah berpikir sejenak. “Gantungkan saja sebingkai cermin kecil di atas kusen pintu rumahmu,” kata Pak Slamet lagi.

“Cermin?” tanya Pak Edi heran. “Ya, cermin! Percayalah! Begitu melihat ada cermin di atas pintu, Hantu Kunang maupun hantu lainnya akan bercermin. Jika sang hantu berwajah cantik atau tampan, ia akan bersolek lama di depan cermin. Setelah puas, ia akan pergi begitu saja dan lupa pada niatnya untuk memasuki rumah,” ujar Pak Slamet. “Sedangkan jika hantu itu berwajah buruk, begitu melihat wajahnya yang menyeramkan di cermin, ia akan ketakutan sendiri dan lari terbirit-birit,” sambung Pak Slamet.

Pak Edi menganggukan kepalanya. Ia mempercayai kata-kata Pak Slamet. Pak Slamet merasa puas bisa menjawab pertanyaan Pak Edi. Pak Slamet lalu pergi.

Beberapa bulan kemudian, dalam perjalanan pulang, Pak Slamet lewat Desa Mukti. Betapa heran Pak Slamet ketika melihat di atas pintu rumah-rumah penduduk Desa Mukti, tergantung sebingkai cermin kecil.

Tak sengaja ia berpapasan dengan Pak Edi. “Hai, Pak Slamet!” seru Pak Edi gembira sambil menjabat tangan Pak Slamet. “Saya akan selalu ingat pada Pak Slamet. Sebab Pak Slamet telah memberi tahu saya cara mengusir hantu. Saya pun mengajarkan cara itu pada penduduk Desa Mukti!” cerita Pak Edi.

Pak Slamet tertegun. “Pak Edi,” katanya kemudian. “Sesungguhnya cermin itu sama sekali bukan pengusir hantu. Saya dulu cuma mengada-ada. Waktu itu saya hanya ingin menenteramkan hati Pak Edi. Saya tak ingin Pak Edi selalu khawatir pada gangguan hantu. Sekarang saya menyesal. Seharusnya, saya dulu berterus terang bahwa sakit anak Pak Edi bukan karena diganggu hantu. Anak Pak Edi sakit demam biasa. Sekarang suruhlah penduduk Desa Mukti membuang cermin-cermin itu,” kata Pak Slamet.

Kini gantian Pak Edi yang tertegun. “Mana mungkin? Kami sudah terlanjur percaya bahwa cermin itu bisa mengusir hantu. Kalaupun cermin itu bukan pengusir hantu, biar saja kami tetap memasangnya. Tak ada ruginya, kan?” ujar Pak Edi.

Mereka lalu berpisah. Pak Slamet melanjutkan perjalanannya dengan penuh penyesalan. Tiba di desa berikutnya, ia pun heran. Di atas pintu rumah-rumah di desa itu pun tergantung cermin kecil. Ia memberanikan diri bertanya pada seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan sebuah rumah.

“Oo, itu cermin pengusir hantu,” jawab laki-laki itu. “Orang-orang Desa Mukti memberi tahu kami cara mengusir hantu. Yaitu dengan menggantung cermin kecil di atas kusen pintu,” kata laki-laki itu lagi. “Ah, itu cuma mitos, Saudara,” kata Pak Slamet. “Hantu dan cermin tidak ada hubungannya,” katanya lagi.

Laki-laki itu nampak tersinggung. “Kalau engkau tidak percaya, silakan! Tapi jangan mengolok-olok kami!” serunya. Pak Slamet pun pergi dengan hati sedih. Terlebih lagi ketika melihat di desa-desa lain juga begitu.

“Ini semua salahku,” pikir Pak Slamet penuh penyesalan. Ia pun mencoba memberi tahu orang-orang bahwa cermin sama sekali tidak berguna untuk mengusir hantu. Tetapi kebanyakan orang malah marah kepadanya dan mengusirnya pergi. Hanya sedikit orang yang mau melepas cermin itu.

Sekarang periksalah pintu rumahmu. Jika di atas kusen pintu ada cermin kecil, engkau pasti tertawa dan segera membuangnya. Engkau pun pasti berpikir begini, “Mana mungkin hantu bisa bercermin? Tubuhnya saja tidak kelihatan! Hi..hi..hi..”

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *