Setelah seminggu hujan turun terus menerus, akhirnya Matahari bersinar cerah. Piki si kelinci kecil sangat gembira.

“Akhirnya aku bisa pergi ke sekolah!” serunya. Tiba-tiba, Piki mendengar suara keras Nenek dari dalam kamarnya. Piki segera pergi ke kamar Nenek, dan terkejut melihat Nenek memegang kakinya, kesakitan.

“Nenek, sakit kaki Nenek kambuh lagi,” kata Piki sedih. “Aku tidak apa-apa, Piki, kau harus pergi ke sekolah selagi cuaca cerah,” kata Nenek. “Aku tidak mau pergi. Nenek harus dirawat,” kata Piki.

Piki dengan sabar merawat Nenek yang kakinya sedang sakit. Piki memasak untuk Nenek dan mengarang cerita-cerita lucu untuk Nenek. Nenek tertawa dan terhibur mendengarkan cerita-cerita lucu Piki. Keesokan harinya, Nenek sembuh dan Piki bisa pergi ke sekolah.

Ketika tiba di sekolah, Piki meminta maaf pada Ibu Guru Rubah karena tidak masuk sekolah kemarin untuk merawat Nenek. “Tidak apa-apa, Piki, selama ini kau rajin mengerjakan tugas dan meraih nilai bagus. Kau bisa meminjam catatan temanmu dan bertanya pada Guru untuk mengejar ketinggalan pelajaran,” kata Ibu Guru Rubah.

Tapi sayang sekali, teman-teman Piki tidak sependapat dengan Ibu Guru Rubah.  Mereka iri dengan Piki yang pintar dan bisa terus menerus mendapat izin tidak masuk. Hanya Bubu, teman sebangkunya yang mengerti keadaan Piki. Bubu dengan baik hati meminjamkan catatan pelajarannya pada Piki jika dia tidak masuk.

Ketika Piki menyapa Bubu, tidak seperti biasanya, Bubu berwajah muram. “Piki, ini catatan pelajaran kemarin. Tapi maaf, aku tidak bisa meminjamkan catatan lagi padamu kalau kau tidak masuk. Teman-teman lain tidak suka. Aku tidak mau dimusuhi,” kata Bubu lesu. Mendengar ini, Piki sangat sedih.

Keesokan harinya, Nenek Piki sakit lagi. Piki tidak bisa meninggalkan Neneknya sendirian. Sepertinya kali ini sakit kaki Nenek cukup parah. Sudah 2 hari Piki tidak bisa masuk sekolah. Piki hanya bisa menerima nasibnya dengan murung, membayangkan bagaimana wajah marah teman-teman sekelasnya. Tapi Nenek yang paling penting, dan Piki sedih karena kaki Nenek tidak membaik juga.

Sore harinya, Piki kedatangan tamu. Rupanya, itu Bu Guru Rubah. Ibu Guru datang bersama seekor Rubah dengan baju putih, seperti pakaian dokter. “Selamat sore, Piki, ini dokter istana, Ru. Dokter Ru mencari sosok yang bisa bercerita lucu, dan kau pernah menang lomba cerita lucu,” kata Ibu Guru Rubah pada Piki.

Rupanya, Ratu negeri tempat Piki tinggal, Yang Mulia Macan, terserang sakit kepala yang tidak kunjung sembuh. “Semua obat yang cocok sudah kucoba, tapi Ratu tidak sembuh. Dan aku pernah mendengar tertawa bisa jadi obat juga. Aku butuh bantuanmu untuk menyembuhkan Ratu,” kata dokter Ru.

“Aku memang pernah menyembuhkan Nenek yang sakit kakinya dengan cerita lucu…tapi sekarang kaki Nenek tidak bisa sembuh dengan ceritaku,” Piki menjelaskan pada dokter Ru. “Kalau begitu, aku akan menyembuhkan Nenekmu. Ada penyakit yang harus disembuhkan dengan bantuan obat, dan ada penyakit yang bisa disembuhkan dengan tawa,” kata dokter Ru.

Piki menceritakan cerita-cerita lucunya di hadapan Ratu Macan, membuat sang Ratu tertawa terbahak-bahak. Dan seketika, pusing Ratu hilang! Rupanya benar dugaan dokter Ru. Sang Ratu tidak pernah tertawa lagi karena stres dengan urusan negara, dan tawa menyembuhkan Ratu.

Dan dokter Ru bisa menyembuhkan kaki Nenek. “Tapi, aku tidak punya uang,” kata Piki. “Tenang, Piki, kau berjasa menyembuhkan Ratu, berarti kau berjasa pada negara! Aku tidak mau dibayar,” kata dokter Ru.

Prestasi luar biasa Piki lalu diketahui teman-teman sekelasnya dari Ibu Guru Rubah. Mereka sadar bahwa Piki memang punya kemampuan luar biasa, dan merasa malu karena sudah memusuhi Piki.

“Maafkan kami, Piki, mulai sekarang tolong ajari kami agar bisa berprestasi dan tangguh sepertimu,” kata Bubu dan teman-teman Piki. “Dengan senang hati!” kata Piki.

 

 

 

 

 

Cerita: Seruni  Ilustrasi: Agung

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *