Data dari Studi Global Save The Children di bulan Juli 2020 terkait dampak Covid-19 terhadap Anak dan Keluarga khususnya di bidang Pendidikan sebagai berikut:

  • 8 dari 10 (80%) anak tetap merasa kesulitan untuk mendapatkan bahan belajar yang memadai dan 20% orangtua kesulitan untuk menyediakan bahan belajar bagi anaknya, sehingga 5 kali lebih tidak mampu membantu anaknya belajar
  • 7 dari 10 orangtua dan 73% anak mengatakan bahwa anak belajar jauh lebih sedikit pada saat ini dibandingkan sebelum masa pandemi. Bahkan sebanyak 1% (dari 60 juta pelajar) di Indonesia merasa mereka tidak belajar apapun
  • 1 dari 4 (26%) orangtua mengatakan guru sama sekali tidak memantau kegiatan belajar anak didiknya
  • 4 dari 9 (45%) anak merasa kesulitan untuk memahami PR, sementara 1 dari 5 (21%) anak mengatakan tidak ada yang membantu mereka belajar selama kegiatan belajar dari rumah berlangsung
  • Semakin lama anak tidak bersekolah, semakin kecil harapan anak dan orangtua untuk kembali ke sekolah. Seluruh kondisi di atas dirasakan lebih buruk terjadi pada anak dengan disabilitas, juga anak dengan orangtua (khususnya Ibu) dengan disabilitas.

Data sebelumnya dari Penilaian Kebutuhan Cepat (Rapid  Need Assessment/RNA) Save The Children Indonesia di bulan April 2020 di bidang Pendidikan, diluar dari yang disebutkan di atas:

  • Media belajar anak terbanyak melalui TV (75%), Whats App (60%), dan aplikasi belajar online (48%). Adapun media pengajaran guru terbanyak melalui Whats App/SMS (82%), Email (46%), dan Aplikasi Online (36%), meskipun 1 dari 4 guru (25%) tidak punya komputer, smartphone, paket data dan 2 dari 3 (58%) guru membutuhkan tutorial penggunaan teknologi/aplikasi online.
  • 1 dari 4 (25%) orangtua tidak punya bahan ajar, waktu mendampingi, maupun alat pendukung, dan di mata guru, 29% orangtua kurang mendukung anak belajar.
  • 4 dari 10 (40%) orangtua mengatakan motivasi anak belajar berkurang, dengan penyebab utama bosan (72%) karena terlalu banyak tugas, metode belajar kurang menyenangkan, tidak ada interaksi dengan teman, dan berebut fasilitas di rumah.
  • Terkait dengan pembelajaran daring, 4 dari 10 orangtua (40%) belum melakukan apapun untuk melindungi anaknya dari dampak negatif internet, sehingga kasus perundungan di sekolah maupun via internet (cyber bullying) semakin mengkhawatirkan.

Foto: Novi

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *