Migrain atau nyeri kepala sebelah, paling sering dialami sejak pubertas (10-15 tahun pada anak laki-laki dan 9-14 tahun pada anak perempuan) dan semakin banyak menyerang dengan rentang usia 35 – 45 tahun. Migraine pun bisa menyerang anak-anak karena menurut dr. Irawati Hawari, SpS, Dokter Saraf, RS Permata Cibubur, migraine bisa menurun secara genetik misal dari orangtua atau kakek nenek-nya. “Untuk anak, bisa dilakukan EEG (Elektroensefalogram) atau rekam otak. Tes yang dilakukan untuk mengukur aktivitas kelistrikan pada otak dalam rangka mendeteksi adanya kelainan atau tidak,” ujar dr. Irawati.

Berdasarkan data dari Pescado Ruschel & De Jesus (2020), secara global, prevalensi (jumlah kejadian) migrain secara keseluruhan mencapai hingga 12% dari total populasi dan menduduki nomor dua tertinggi sebagai penyebab hendaya (disability). Migrain pun  menjadi alasan tertinggi nomor 4-5 untuk kunjungan ke unit gawat darurat di Rumah Sakit.

Sebagai bagian dari salah satu perusahaan perawatan kesehatan global, PT Johnson & Johnson Indonesia (selanjutnya disebut Johnson & Johnson Indonesia) kembali menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui berbagai inisiatif yang dilakukannya.

Pada kesempatan kali ini, bersama dengan Rumah Sakit Permata Cibubur, Johnson & Johnson Indonesia mengadakan web-seminar (webinar) awam bertemakan “Penyebab Migrain dan Cara Pencegahannya”. Sebanyak kurang lebih 40 masyarakat awam turut hadir dan menjadi peserta dalam seminar yang dilakukan secara maya (virtual) tersebut.

Migrain adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami nyeri kepala yang terasa berdenyut. Namun, nyeri kepala tersebut dapat dikatakan sebagai migrain jika memiliki karakter sebagai berikut: dirasakan pada satu sisi kepala, berintensitas sedang (moderate) hingga berat, berdenyut (pulsating in quality), dan dapat memburuk akibat aktivitas fisik.

Ibu Devy Yheanne, Country Leader of Communications & Public Affairs, PT Johnson & Johnson Indonesia mengatakan, “Kami sadar bahwa banyak masyarakat yang telah merasakan atau menderita migrain, namun tidak tahu persis apa penyebab dan bagaimana penanganan yang tepat. Oleh karena itu, sebagai salah satu perusahaan perawatan kesehatan, kami sadar bahwa penting untuk mengedukasi dan memberikan informasi yang tepat dan berkelanjutan kepada masyarakat mengenai migrain, sehingga kita dapat lebih sadar dan paham mengenai migrain, termasuk pencegahan dan penanganan migrain yang tepat.”

Hingga saat ini, belum diketahui penyebab pasti dari migrain, namun beberapa faktor yang  menjadi pemicu migrain adalah kondisi stres; makanan atau minuman yang dikonsumsi; bau (odor) tertentu; waktu makan yang tidak teratur; waktu tidur yang kurang ataupun lebih; aktivitas fisik atau olahraga tertentu atau berlebihan; suhu panas. Faktor pemicu lainnya yang sering terjadi pada wanita adalah terjadinya perubahan hormon, terutama saat menstruasi, ovulasi, dan kehamilan.

“Serangan migrain dengan rasa nyeri yang mengganggu dapat berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari. Dalam hal ini, berbagai gejala yang dapat timbul dan dirasakan akibat migrain adalah mual, muntah, hipersensitif terhadap kebisingan (phonohobia), dan hipersensitif terhadap cahaya (photophobia). Namun sebagian penderita juga dapat mengalami gejala neurologi lainnya yang disebut sebagai aura, sebelum dan/atau selama serangan nyeri kepala. Dalam hal in contohnya adalah melihat garis-garis zigzag (visual aura) atau kesulitan untuk berbicara (speech aura),” terang dr. Irawati.

“Berbagai terapi atau tatalaksana untuk mengobati migrain dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu farmakologi (menggunaan obat-obatan) dan non-farmakologis. Tatalaksana dengan farmakologis dibagi atas dua kategori yaitu terapi abortif atau akut yang bisa mengurangi atau menghentikan serangan yang sedang terjadi, dan terapi profilaksis atau preventif yang bertujuan mengurangi risiko berulangnya serangan, serta mengurangi hendaya (disability). Sementara tatalaksana secara non-farmakologis dapat dilakukan dengan mengubah pola/gaya hidup dan melakukan intervensi medis secara khusus jika diperlukan, misalnya transcutaneous electrical stimulation,” tambah dr. Irawati.

Guna mencegah terjadinya migrain, penting bagi setiap orang untuk memperhatikan beberapa faktor yaitu dengan melakukan manajemen stres dengan teknik relaksasi atau yoga; menghindari konsumsi makanan dan/atau minuman yang dapat memicu migrain; memastikan pola makan yang teratur; menurunkan berat badan jika overweight/obese; dan mengatur pola tidur yang teratur dengan durasi yang cukup. Secara keseluruhan, mengubah pola hidup secara berkesinambungan merupakan kunci utama untuk pencegahan migrain.

Foto: Novi

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *