Di masa pandemi ini, Rumah Sakit merupakan salah satu tempat yang harus dihindari. Oleh karena itu, kita semua harus selalu berusaha untuk menjaga diri agar tidak terserang penyakit, sehingga mengharuskan kita pergi ke rumah sakit.

Begitu juga dengan gigi. Kesehatan gigi tentu menjadi tanggung jawab kita sendiri untuk selalu menjaganya sehingga selalu dalam keadaan sehat. Seperti yang dikatakan oleh drg. Rita R. Laila, Dokter Gigi Swasta Klinik Pribadi dalam sesi webinar “Perawatan Gigi Keluarga saat Pandemi” yang digelar oleh perusahaan asuransi, Generali pada Agustus 2020 lalu. “Apa yang harus dilakukan agar gigi keluarga tetap sehat sehingga selama pandemi tidak perlu ke dokter gigi kecuali jika dalam keadaan darurat. Tidak disarankan dulu untuk berkunjung ke dokter gigi karena sangat rentan terjadi penularan Covid-19 di sekitar wajah terutama di mulut. Dari pernapasan hingga rongga mulut,” ujarnya.

drg. Rita R. Laila, Dokter Gigi Swasta Klinik Pribadi

Untuk diketahui, bagian mulut kita terdiri dari bibir, gigi, gusi, lidah, langit-langit, dan tonsil atau amandel. Serta satu organ kecil yaitu uvula yang berfungsi penting yaitu mencegah makanan yang sudah dikunyah agar tidak masuk ke rongga hidung. Sebab akan menimbulkan masalah pada pernapasan jika ada makanan yang masuk.

Gigi sendiri dibagi dua bagian. Pertama, mahkota gigi yang terlihat jika kita sedang berbicara atau tersenyum. Kedua, akar gigi yang tidak terlihat tapi menempel pada tulang rahang dan diselimuti gusi karena lebih sensitif dari mahkota gigi.

Adapun bagian dalam gigi yaitu paling luar enamel, isinya hanya mineral (kalsium, fosfor, dan fluor). Jika gigi berlubang tapi tidak sakit, berarti baru berlubang pada enamelnya saja. Bagian dalam yang berwarna kuning disebut dentin. Bagian paling dalam dari gigi yaitu pulpa berisi saluran saraf dan pembuluh darah (jika gigi berlubang sudah pada bagian ini, barulah terasa sakit.

“Kita harus merawat pertumbuhan gigi sejak dini. Dimana benih gigi sudah ada sejak anak dalam kandungan. Setelah lahir, usia 2-6 bulan gigi susu mulai tumbuh, biasanya pada gigi depan bawah. Usia 2 tahun gigi susu sudah lengkap. Dan usia 6 tahun benih gigi mulai menggigit gigi susu. Pada anak-anak, gigi susu berjumlah 10 atas dan 10 bawah. Setelah dewasa, gigi tetap berjumlah 14 atas dan 14 bawah, jadi ada penambahan 4 gigi (geraham). Nah, gigi geraham itu tidak menggantikan gigi susu. Itu adalah gigi tetap atau gigi dewasa yang kalau harus dicabut, tidak ada lagi gantinya. Oleh karena itu, di usia balita harus betul-betul diperhatikan pertumbuhan giginya,” terang drg. Rita.

Gigi Berlubang

Seperti kita ketahui, gigi berlubang merupakan masalah gigi yang sering terjadi. Di rongga mulut secara alami sudah ada flora normal bakteri yang hidup dan tidak menyebabkan masalah. “Tapi, pada saat ada sisa makanan, maka bakteri itu akan suka dan berkembang biak jumlahnya jadi banyak sehingga menimbulkan masalah. Para bakteri itu tidak pilih-pilih makanan, apa saja yang kita makan mereka suka, apalagi yang manis. Makanan mengandung karbo seperti tepung ditambah enzim dalam mulut bisa menjadi glukosa gula yang disukai bakteri. Bakteri glukosa menghasilkan asam, menempel di gigi dan gigi jadi rusak. Jadi, bukan karena makanan asam yang bisa merusak gigi, melainkan asam yang dihasilkan oleh pertemuan bakteri dengan gula atau glukosa dari sisa-sisa makanan yang tidak bersih saat menggosok gigi (menempel di gigi),” urai drg. Rita.

Tanpa disadari, kebiasaan buruk juga bisa menyebabkan kerusakan gigi. Contohnya; buka tutup botol pakai gigi (gigi menjadi aus bahkan retak atau patah), menggigit pensil atau pulpen (biasanya disertai dengan kondisi psikologis sebagai pengalihan atas rasa dihatinya) sehingga perlu diatasi masalah psikologi selain giginya. Kebiasaan buruk lainnya, menggunakan tusuk gigi untuk membersihkan sisa-sisa makanan di sela-sela gigi dimana tusuk gigi kayu memiliki ketebalan dan kalau kencang, bahan kayu tidak bagus karena ada serat-serat kecil yang bisa melukai gigi. Selain itu, kebiasaan buruk menggunakan tusuk gigi juga bisa menyebabkan makanan besar masuk akibat dari tekanan yang membuat terkikisnya gusi di sela-sela gigi. Dengan kata lain, terbentuk celah yang cukup besar sehingga makin banyak makanan yang masuk ke celah-celah gigi.

Adapun kebiasaan buruk lainnya yaitu merokok. Merokok bisa menyebabkan bau mulut, pewarnaan pada gigi dan gusi (warna gelap dan hitam). Kebiasaan menggeretak gigi membuat gigi menjadi aus, enamel terkikis dan lama-lama gigi akan sakit. Kebiasaan buruk pada anak yaitu ngempeng/ngedot juga berpengaruh pada kesehatan gigi dan pertumbuhan rahang.

Sikat Gigi yang Benar

Tanggung jawablah pada gigi sendiri karena saat pandemi ini kita tidak bisa ke dokter gigi. Caranya, bersihkan gigi dengan alat yang benar serta gosok gigi dengan cara yang benar. “Gunakan bulu sikat gigi medium/tidak keras. Untuk anak-anak gunakan bulu sikat gigi yang lembut karena kalau keras akan melukai gusi. Perhatikan ukuran dan juga bentuknya. Gunakan bentuk kepala sikat yang mengecil ujungnya agar bisa menjangkau sisa makanan yang ada di gigi paling belakang,” saran drg. Rita. “Cara menyikat gigi yang benar adalah secara vertical bukan horisontal. Jika horisontal akan membuat sisa makanan bukan ke bawah, tapi akan terdorong masuk. Gosok vertical dari arah gusi ke gigi, dan semua permukaan gigi harus terbersihkan dengan baik. Boleh sambil bercermin,” sarannya lagi.

Foto: Novi

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *