Mela adalah anak tunggal pasangan bangsawan kaya. Oleh karena terjadi bencana alam, orangtuanya meninggal dan Mela menjadi yatim piatu. Ia pun diangkat oleh pasangan petani. Mela menyayangi orangtua angkatnya seperti orangtua sendiri. Tapi, karena pasangan petani ini sudah tua, mereka pun meninggal.

Kini, Mela benar-benar sebatang kara. Orangtua angkat Mela meninggalkan sebuah surat wasiat yang mengatakan untuk mengambil orang-orangan sawah di gudang. Ketika melihat orang-orangan sawah itu rusak, Mela memperbaikinya.

“Kau kuberi nama Osa. Osa, tolong bantu aku mengusir burung pipit,” pinta Mela sambil meletakkan Osa di tengah sawah. Ketika panen tiba, Osa menyanyikan lagu sedih yang membuat burung-burung pipit enggan mendekati sawah.

Hasil panen Mela sangat banyak, hingga ia kelelahan dan jatuh sakit karena mengumpulkannya sendirian. Ia berharap ada yang bisa membantunya memanen padi.

Suatu pagi, Mela mendengar suara tangisan. Ternyata, itu suara Osa. Mela pun menghampirinya. “Aku tidak mau mengusir teman-temanku,” tangis Osa. “Kau dan burung-burung pipit berteman?” tanya Mela terkejut. Osa mengangguk. “Jangan sedih, aku akan mencari jalan keluar,” bujuk Mela.

Mela pun mengundang burung-burung pipit ke sawah. “Jangan takut, aku tak akan mengusir kalian. Aku sadar sawah ini terlalu luas untuk kukerjakan sendiri dan hasil panennya berlimpah. Bantulah aku mengumpulkan hasil panen dan kalian boleh makan sebagian dari itu. Lalu, kalian bisa bermain bersama Osa  lagi,” ajak Mela.

“Terima kasih, Mela. Kalau begitu, kami akan membantumu,” ujar para burung pipit. Kini, setiap panen tiba, Osa menyanyikan lagu gembira untuk mengiringi Mela dan burung-burung pipit yang bekerja bersama-sama.(Seruni/Ares/Ilustrasi: Putri)

 

, , , ,
You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *