Di Negeri Bunga, setiap tahun diadakan perlombaan bunga cantik. Sepu si Bunga Sepatu ingin menang lomba itu. “Tahun ini kau pasti jadi juara,” tandas Kupu-kupu dan Lebah, teman-teman Sepu. “Mudah-mudahan,” jawab Sepu.

Suatu hari, Sepu melihat kawanan burung bangau terbang di langit. “Mereka menuju ke sini. Ada apa, ya?” tanya Sepu. Seekor bangau membawa bungkusan di paruhnya. Tak lama kemudian teman-teman Sepu membawa kabar. “Sepu, Negeri Bunga kedatangan bunga baru, yaitu Bunga Sedap Malam. Dia dibawa dari negeri jauh oleh kawanan burung bangau,” cerita Lebah. “Bunga Sedap Malam akan ikut lomba juga tahun ini,” lanjut Kupu-kupu. “Kalau begitu, aku harus menyambutnya,“ ucap Sepu.

Sepu menemui Muma si Bunga Sedap Malam. “Selamat datang di Negeri Bunga, Muma! Mengapa namamu Bunga Sedap Malam?” tanya Sepu. “Dulu, saat malam tiba, aku berbau harum, tapi sekarang tidak lagi. Negeri tempatku tinggal, hancur karena penyihir jahat dan dia juga mengambil wangi harumku. Sekarang namaku tak cocok dengan diriku,” kisah Muma. Mendengar ini Sepu ikut sedih. Ia membuat rencana dan menyeritakannya pada Lebah dan Kupu-kupu.

Suatu malam, Muma terkejut karena ia kembali jadi harum. “Mengapa bisa?!” serunya bingung. “Dengan bantuan sihirku, Sepu memberikan bau harumnya untukmu, Muma. Dia ingin kau bahagia di Negeri Bunga, dan jadi juara lomba bunga cantik,” jelas Peri Hutan.

Benar saja, Muma menjadi juara lomba bunga cantik. “Aku tak bisa menerima gelar juara ini. Sepu si Bunga Sepatu baik hati yang berhak mendapatkannya. Ia memberikan wangi harumnya padaku,” ujar Muma. Setelah berunding, para juri setuju. Sepu jadi juara walaupun sudah kehilangan wanginya. “Terima kasih!” seru Sepu terharu. Semua bunga memberi selamat padanya. “Kau pantas mendapatkannya Sepu,” ungkap mereka. (Cerita: Seruni/Ares/Ilustrasi: Putri)

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *