Puteri Belina dari kerajaan Rubi sangat menyukai taman bunga.  Alangkah senangnya puteri Belina ketika bertemu dengan tukang kebun berbakat bernama Ben. “Maukah kau membuat taman bunga untukku?” tanya puteri Belina. “Tentu saja tuan puteri!” jawab Ben senang. “Terima kasih, Ben! Aku akan mencari bunga yang cantik untuk taman bunga baruku!” kata puteri Belina.

Pada suatu hari yang cerah, puteri  Belina pergi mencari bunga. Setelah lama berkeliling, dia sampai di sebuah hutan yang tenang, tapi aneh sekali! Tidak ada suara burung yang bernyanyi. “Aku penasaran,” kata puteri Belina. “Surai, tunggulah di sini, aku akan masuk ke hutan,” kata puteri Belina kepada kudanya.

Puteri Belina berjalan dengan hati-hati memasuki hutan. “Hutan yang cantik tapi sepertinya penuh kesedihan,” gumam puteri Belina. Tiba-tiba, terdengar suara ratapan dari dalam hutan. Puteri Belina terdiam, jantungnya berdebar-debar.

“Apa itu?” Terdengar derap kencang, membuat puteri Belina menengok ke belakang. Ternyata Surai datang karena mengkhawatirkan puteri Belina! “Surai, kau menjemputku! Aku jadi bingung kalau kau ketakutan seperti ini! Baiklah, aku kembali saja!” kata puteri Belina.

Tapi puteri Belina terus memikirkan petualangannya. Dia segera pergi ke perpustakaan istana dan mencari keterangan tentang hutan aneh itu. “Ternyata, hutan itu dinamai hutan Sepi! Tapi tidak ada keterangan tentang apa yang ada di dalam hutan Sepi!” seru puteri Belina.

Puteri Belina menanyakan hutan Sepi pada orang banyak. “Jangan pernah masuk ke hutan Sepi tuan puteri, kita dilarang masuk sejak zaman nenek moyang, tuan puteri!” kata mereka. Puteri Belina tidak bisa menerima penjelasan itu. “Tidak bijaksana mempercayai sesuatu begitu saja  tanpa membuktikannya lebih dulu! Aku harus mencari tahu sendiri!”  katanya.

Puteri Belina pergi  ke hutan Sepi  lagi. Dia terkejut ketika melihat Ben. Tukang kebun itu berjalan masuk ke dalam hutan Sepi! “Apa yang dilakukan Ben dalam hutan Sepi?” gumam puteri Belina.

Ketika puteri Belina masuk ke dalam hutan Sepi, dia mendengar  tawa yang riang! “Tawa siapa itu?” bisiknya. Puteri Belina sampai di daerah terbuka dimana sinar matahari masuk. Dia tertegun melihat  Ben sedang bercakap-cakap dengan bunga yang cantik! “Tuan puteri Belina!” seru Ben terkejut, lalu memberi hormat dengan ketakutan. “Ben, siapa bunga itu?” tanya puteri Belina. “Puteri Belina, perkenalkan, namaku bunga Rambat. Maaf, waktu itu aku membuatmu takut dengan suara ratapanku,” kata si bunga. “Jadi, suara yang kudengar itu suaramu! Mengapa kau meratap?” kata puteri Belina. “Karena aku kesepian puteri Belina. Semuanya bermula pada zaman puteri terdahulu, nenek moyang Anda. Pada suatu hari dia melihatku merambat, dan sangat ketakutan! Sejak itu nenek moyang Anda membenciku dan mengasingkanku ke hutan Sepi. Dia juga memerintahkan semua orang untuk tidak pergi ke hutan Sepi agar aku sendirian. Hanya Ben yang menemukanku dan mau berteman denganku,” cerita bunga Rambat. “Kasihan kau bunga Rambat! Aku akan membebaskanmu dan kau bisa tinggal di taman bungaku yang baru!” seru puteri Belina.

Puteri Belina dan Ben membangun taman bunga baru. Ketika taman bunga itu selesai, puteri Belina mengundang semua orang melihat taman bunganya. Mereka kagum melihat bunga Rambat yang merambat dengan cantik! “Kalian lihat, bunga Rambat yang selama ini diasingkan dan dibenci, sama sekali tidak jelek!” seru puteri Belina. Mereka semua setuju dengan sang puteri. Bunga Rambat sangat bahagia! Karena kebaikan hati puteri Belina, dia tidak lagi kesepian.

 

Cerita : Seruni    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *