Dahulu kala, hidup seorang anak laki-laki sebatang kara bernama Bula. Ia berkebun dan menjual hasilnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Orangtuanya mewariskan bibit tanaman dan pohon setelah tiada. Suatu hari, tuan tanah jahat mengambil tanah dan rumah Bula dengan paksa. Ia hanya diijinkan membawa sedikit bibit tanaman dan beberapa buah mangga dari kebunnya.

Pada suatu hari, Bula bertemu dengan iring-iringan kereta kuda mewah yang ternyata milik putri raja. Ia pun menunduk memberi hormat, lalu tanpa sengaja buah mangga yang dibawanya jatuh di dekat kereta kuda sang putri. “Buah mangga ini bagus,” tutur sang putri sambil mengambil buah mangga. “Maafkan hamba, tuan putri. Itu buah mangga yang hamba tanam sendiri,” kata Bula. “Buah mangga ini kelihatan lezat. Kau harus menanam buah dan tumbuhan untuk kerajaanku!” seru sang putri.

Bula kini bekerja menanam berbagai macam tanaman untuk tuan putri. Ketika masa panen tiba, tuan putri senang karena buah dan sayuran yang ditanam Bula sangat enak. Sebagai imbalan, tuan putri ingin memberikan gelar dan kemewahan untuk Bula, tapi ia menolak. Dia sudah bahagia tinggal di gubuk sederhana dekat hutan. “Di sini aku bisa berteman dengan hewan-hewan dan melihat beraneka ragam pohon cantik,” ujar Bula.

Suatu pagi, ketika sedang berjalan-jalan di hutan, Bula mendengar suara tangisan yang ternyata berasal dari seekor ular. Si ular bercerita bahwa dulu ia tinggal di pohon pinus. Namun, pohon itu ditebang orang. Bula yang merasa kasihan pun menanam pohon pinus di hutan sebagai tempat tinggal ular.

Akan tetapi, tuan putri ternyata membenci ular. Dia sangat marah ketika tahu Bula membiarkan si ular tinggal di hutan. Dulu, tuan putri mengusir semua ular dari hutan kerajaannya. “Usir binatang itu atau kau harus menerima hukuman, dikucilkan oleh semua orang di kerajaanku!” seru sang putri geram. Bula menolak mengusir si ular, dan menerima hukuman sang putri. Dia tidak bisa bicara dengan orang di kerajaan tersebut karena semua memusuhinya.

Tak lama kemudian, terjadi bencana kekeringan di kerajaan sang putri. Sang putri dan seluruh rakyat ketakutan. Bula juga khawatir. Hingga suatu hari, si ular meminta Bula mengikutinya ke suatu tempat di dalam hutan. “Gali tanah ini,” pinta si ular. Bula menggali dan terkejut. “Oh, ini sumber air!” seru Bula senang. Ia pun langsung memberitahu tuan putri. Tuan putri terharu. Dia meminta maaf dan mengijinkan si ular tinggal di hutan kerajaannya. Tuan tanah jahat yang juga merasakan bencana kekeringan, menyesali perbuatannya. Dia datang meminta maaf pada Bula. Rupanya, si tuan tanah juga yang menebang pohon tempat tinggal si ular. Tapi, melihat Bula yang memaafkan si tuan tanah, si ular pun ikut memaafkannya. Mereka bertiga hidup bersama dengan bahagia sebagai teman.

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *