“Kok, belinya mobil sedan bekas, sih, Yah?” tanya Angela dengan raut wajah kecewa. “Angela, Ayah hanya mampu beli mobil bekas ini. Jadi terima saja, ya. Yang penting kita bisa pergi jalan-jalan mengunjungi Nenek di Bogor,” jawab Ayah dengan tenang.“Iya, deh. Yang penting aku nggak perlu desak-desakan lagi di bus,” ucap Angela yang duduk di kursi belakang sambil tersenyum.

Tiba-tiba,

Duk.. Duk.. Duk..

“Bunyi apa itu?” tanya Angela menahan rasa kagetnya. Ibu yang duduk di sebelah Ayah langsung menoleh. “Lho, ada apa?” tanya Ibu. “Barusan aku mendengar ada yang memukul-mukul, sepertinya dari dalam bagasi,” jawab Angela. “Ayah tidak menyimpan apa-apa di bagasi, kok!” kata Ayah.

Tak lama kemudian, Ayah, Ibu, dan Angela tiba di rumah Nenek. Mereka mengobrol dan melepas kangen hingga sore hari.Jam menunjukkan pukul 7 malam saat Ayah memutuskan untuk pulang ke rumah. Angela kembali duduk di belakang.

Duk.. Duk.. Duk..

Bunyi kembali terdengar di dalam mobil. “Ayah, bunyi itu muncul lagi!” teriak Angela. Ayah lantas menepikan mobil ke pinggir jalan dan membuka pintu bagasi. Alangkah terkejutnya Ayah saat melihat ada sebuah boneka berbentuk perempuan berambut panjang nampak terduduk di pojokan. Raut wajah bonekanya terlihat sedih.

“Ada boneka di bagasi!” ujar Ayah. Ayah lalu membawa boneka itu dan kembali masuk ke dalam mobil. “Apa ini boneka kamu?” tanya Ayah sambil menyodorkan bonekanya ke Angela. “Aku nggak pernah punya boneka seperti ini,” jawab Angela. “Kenapa wajah boneka ini terlihat sedih sekali, ya?” Angela bertanya-tanya.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan pulang. Angela menaruh boneka misterius itu di pangkuannya. Anehnya, keluar titik-titik air dari kedua mata boneka. Angela terkejut! “Ibu, boneka ini sepertinya menangis,” ujar Angela. Ibu lalu menoleh ke belakang, dan melihat boneka itu. “Kenapa bisa begitu, ya?!” tanya Ibu penasaran.

“Mungkin boneka ini kepunyaan anak pemilik mobil sebelumnya, Yah,” Angela menebak. “Pak Salam, maksudnya? Waktu Ayah ke rumahnya, Ayah nggak melihat ada anak kecil, sih,” cerita Ayah. “Kita harus mengembalikan boneka ini. Bukannya rumah Pak Salam tidak jauh dari rumah kita?” kata Ibu. “Baiklah, kita mampir dulu ke rumah Pak Salam, ya,” timpal Ayah.

Setengah jam kemudian, ketiganya sampai di sebuah rumah bercat putih dan besar. Ayah kemudian mengetuk pintu rumah. “Assalamualaikum, Pak Salam,” ujar Ayah setengah berteriak. Tak beberapa lama, pintu dibuka. Seorang laki-laki yang kelihatannya seumuran dengan Ayah, langsung tersenyum. “Halo, Pak Malik, apa kabar? Ada apa malam-malam begini? Apa ada yang salah dengan mobilnya?” tanya Pak Salam. “Maaf, Pak Salam, kami mengganggu malam-malam begini. Saya menemukan boneka ini di bagasi mobil. Apakah ini kepunyaan anak Bapak?” tanya Ayah.

Raut wajah Pak Salam berubah drastis. Senyum di wajahnya berubah menjadi kesedihan. “Ehm.. Boneka ini sebenarnya milik almarhumah anak saya, Mona. Ia meninggal sekitar 6 bulan lalu karena sakit kanker,” tutur Pak Salam sembari mengambil boneka itu. “Saya sudah cari ke mana-mana, ternyata ada di dalam bagasi, ya. Terima kasih banyak, Pak Malik,” lanjut Pak Salam.

Angela hanya berdiri mematung sambil mendengarkan pembicaraan Ayah dan Pak Salam. Ia ikut sedih mendengar cerita Pak Salam. Tak sengaja, Angela memerhatikan boneka perempuan itu. Angela terkejut saat melihat wajah boneka tersebut. Tak ada lagi kesedihan. Sebaliknya, bibirnya nampak tersenyum. Mungkinkah karena ia merasa senang karena sudah pulang ke rumah pemiliknya?

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *