Hari ini pulang sekolah, Lina terpaksa berjalan melewati danau Beringin yang katanya berhantu. Apa boleh buat, Mama sudah menjemputnya  di dekat danau Beringin. Lina tak punya pilihan lain. Ia pun berjalan agak cepat, takut hantu itu benar-benar muncul.

“Kenapa lari-lari, Lina?” tanya Mama bingung. “Tidak ada apa-apa!” kata Lina sambil memegang dadanya, mengatur nafas.

Keesokan harinya di kelas, Enni, teman Lina  berteriak, “Kau pulang lewat danau Beringin kemarin?!” Beberapa teman sekelas menengok kaget ke arah mereka berdua.

“Ssst… suaramu terlalu keras!” kata Lina sambil meletakan jari telunjuk ke bibirnya. “Kamu sangat berani Lina. Tidak pernah ada yang mau lewat danau Beringin karena menyeramkan,” kata Enni memandang Lina dengan kagum.

“Memangnya danau Beringin benar berhantu? Hantu siapa, sih?” tanya Lina ingin tahu. “Hantu anak-anak yang tenggelam waktu berenang,” jawab Enni.

“Berapa orang yang pernah melihat si hantu?” tanya Lina pelan. “Kakak kelas pernah melihat bayangan putih muncul dari danau waktu petang tiba. Lalu teman sekelas kita pernah mendengar suara minta tolong, tetapi setelah dilihat, tidak ada siapa-siapa,” cerita Enni.

“Maaf ya, Enni, aku tidak bisa percaya begitu saja karena tidak mengalaminya langsung,” kata Lina.

“Lalu, kamu mau melihat hantu itu dulu, baru percaya?” tanya Enni kesal. “Bukan melihat, tapi membuktikan! Aku ingin membuat percobaan,” kata Lina dengan kedua mata berbinar semangat.

Lina ingin mencoba merekam suara hantu danau Beringin dengan alat perekam. Dia pernah membaca berita tentang para pemburu hantu di luar negeri yang berhasil merekam suara hantu. “Kalau memang hantu danau Beringin ada, suaranya akan terekam di alat perekam,” kata Lina.

Dua hari kemudian, Lina menyiapkan alat perekam suara dari rumah.  Ia pergi ke danau Beringin dan menaruh alat perekam di tepi danau.

Sreeek… Tiba-tiba, terdengar suara daun kering yang terinjak. “Aaah..!” Lina menjerit ketakutan. “Maaf Lina, ini aku!” seru Enni. “Kau membuatku kaget! Mau menemaniku merekam suara hantu?” kata Lina.

“Jadi, ini percobaan yang kau bilang itu?” tanya Enni. Lina mengangguk. “Bagaimana caranya merekam suara hantu?” bisik Enni. “Kita ajak bicara saja si hantu,” kata Lina.

“Aku akan coba menanyakan namanya,” usul Enni. “Ide bagus! Setelah bertanya, sisakan jeda. Seakan-akan kamu sedang mendengarkan seseorang menjawab,” bisik Lina sambil menekan tombol alat perekam.

“Hantu, siapa namamu?” tanya Enni. “Mengapa kau menghantui danau Beringin?” giliran Lina bertanya. “Kurasa cukup,” kata Enni. Lina mengangguk setuju.

“Ayo, kita dengarkan hasil rekamannya!” seru Lina. “Aku tidak sabar, walaupun agak takut juga,” kata Enni. Lina menyalakan perekamnya. “Li..Na….En..Ni…” terdengar suara samar-samar dari alat rekam!

“Su..suara apa itu?! Seingatku, kita tidak pernah berbicara seperti itu waktu merekam!” kata Enni panik.

“Aku tidak tahu!” seru Lina. Suara mereka tidak terdengar sama sekali. Hantu danau Beringin telah menghapus suara Lina dan Enni. Yang ada hanyalah suara bisikan nama mereka. Apakah ada kerusakan dengan alat perekam milik Lina? Sejak itu, mereka berdua menjauhi danau Beringin.

 

 

Cerita: Seruni   Ilustrasi: JFK

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *