Pagi ini Bu Dewi, guru bahasa Indonesia mengumumkan. Sekolah akan memberi kesempatan murid kelas III untuk bermain sandiwara. Pertunjukannya akan diselenggarakan pada acara tutup tahun ajaran, tiga bulan ke depan. Tentu saja tidak seluruh murid akan bermain di dalamnya, kata Bu Dewi.

“Yang berminat, silakan datang mendaftar untuk audisi usai jam pelajaran terakhir,” kata Bu Dewi.

Murid kelas III saling berbisik penuh semangat. Bermain sandiwara? Wow! Ini sangat menyenangkan. “Kita jadi artis dong!” bisik Bobi sambil cengengesan. Teman-temannya mengangguk dengan antusias. “Bu, ceritanya nanti tentang apa?” tanya Sheila. Bu Dewi tersenyum. “Tentang dua ekor ayam jantan yang saling berdebat, siapa di antara mereka yang suara kokoknya paling bagus. Mereka lalu meminta pendapat tupai, burung, pohon-pohon, dan matahari. Tetapi karena semua hewan itu tidak bisa memutuskan siapa yang terbaik, kedua ayam itu berkelahi. Keduanya akhirnya terluka parah. Pemiliknya lalu menjual keduanya ke pasar daging!” jelas Bu Dewi.

Bu Dewi lalu menerangkan. Cerita itu mengandung pesan, agar kita tidak menyelesaikan masalah dengan bertengkar. Karena pasti semuanya jadi rugi. Ternyata hampir seluruh murid ingin mengikuti audisi yang diadakan Bu Dewi.

“Aku ingin jadi ayam jantannya!” seru Monik.

“Wuee, kamu kan anak perempuan,” sanggah Alvin. “Aku dong yang pantas jadi ayam jantannya!” sambungnya mencibir.

“Bu Dewi tidak akan membedakan perempuan dan laki-laki,” bantah Monik.

“Ini soal kemampuan akting!” timpal Ria mengangguk-angguk setuju. “Aku juga ingin jadi ayam jantan!” kata Ria. “Aku pasti hebat jadi pemeran utama,” kata Ria lagi.

Begitulah, semua bersemangat mendaftar menjadi ayam jantan. Tak ada satu pun yang berminat menjadi tupai, burung, pohon-pohon, dan matahari. Apalagi menjadi tokoh manusia yang dialognya hanya satu kalimat. Karena tokoh manusia itu datang hanya untuk membawa ayam itu ke pasar. Namun, Bu Dewi berpendapat lain. Semua harus mencoba berbagai macam peran. Akhirnya, setelah satu jam, Bu Dewi memutuskan Monik dan Doni menjadi ayam jantannya. Andre berperan sebagai matahari. Sari, Wati, Sheila, dan Bobi menjadi pohon-pohon. Indah sebagai burung, dan Nindi yang paling bongsor di kelas III, menjadi manusia.

Selain Monik dan Doni, hampir semuanya mendadak berwajah murung. Anak-anak yang tidak terpilih, keluar ruangan sambil menggerutu. Sesekali mereka melirik Doni dan Monik yang sedang tersenyum girang. “Ini tidak adil. Aku tidak mau mendapat peran kecil,” sungut Andre marah. “Ya, betul. Kamu pasti kelihatan seperti bayi matahari di film Teletubbies!” ledek Nindi.

“Kalian lebih beruntung. Kami akan jadi pohon yang perannya hanya bergoyang-goyang di antara ayam-ayam. Dialognya pun hanya sedikit dan harus dibagi berempat!” kata Sheila kecewa. Dia betul-betul iri pada Monik dan Doni. “Kita jadi kelihatan tidak penting. Lagipula, Doni dan Monik menurutku nggak bagus-bagus amat!” cetus Sheila.

Mendengar itu, Monik melirik Sheila dengan sebal. Bu Dewi tersenyum diam-diam mendengar gerutuan murid-muridnya. Kemudian diraihnya tumpukan naskah di meja dan dibagikannya pada anak-anak. “Ibu tahu, di antara kalian pasti ada yang tidak puas dengan peran yang didapat. Jadi…, Ibu akan kasih kesempatan pada kalian semua, untuk menghafal dialog ayam jantan. Dua hari lagi kita berkumpul di sini untuk membuktikan, siapa yang paling layak menjadi kedua ayam jantan. Monik dan Doni juga latihan, ya!” pesan Bu Dewi.

Di luar dugaan, menghafalkan dialog yang panjang dengan intonasi yang hampir selalu naik, ternyata sangat sulit. Sheila yang tadinya mengeluh dialognya terlalu sedikit, diam-diam mengakui kalau dialog ayam jantan memang sulit. Ketika hari yang dijanjikan tiba, seluruh murid kelas III datang menonton audisi ulang itu.

Andre dan Bobi mendapat kesempatan pertama menjadi kedua ayam jantan yang bertengkar. Mereka hampir hafal seluruh dialognya. Namun karena terlalu sibuk menghafalkan, nada suara mereka hanya seperti sedang mengobrol. Sari dan Wati belum hafal. Baru seperempatnya, mereka sudah menggeleng putus asa. Sheila malah minta ijin untuk mengundurkan diri.

Ternyata pasangan ayam jantan Monik dan Doni lah yang terbaik. Dalam dua hari, mereka berhasil menghafal sebagian besar dialog dan berakting dengan bagus sekali. Akhirnya, tanpa sadar, semua teman yang menonton bertepuk tangan. Bu Dewi ikut bertepuk tangan sambil tersenyum lebar. “Nah, anak-anak. Ternyata mudah menentukan siapa yang cocok dengan perannya masing-masing. Kalian semua puas kan?” tanya Bu Dewi. Anak-anak mengangguk bersamaan sambil tersenyum-senyum. “Tidak ada iri lagi yaa,” seru Bu Dewi lagi. “Tidaaaak, Buuu,” balas semuanya serempak.

“Maaf ya, ucapanku kemarin!” ucap Sheila sambil nyengir lebar ke arah Doni dan Monik. Mereka tertawa. “Kita sekelas yang terbaik kok. Buktinya, kelas kita kan, yang diminta mengisi acara tiga bulan ke depan itu!” sahut Doni. Semua mengangguk setuju. Sandiwara mereka, pasti bakal hebat sekali. Dan mereka akan mempersiapkannya sebaik mungkin dan saling mendukung. (Teks : JFK Ilst : Agung)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *