Libur sekolah tahun ini, Ayah berjanji mengajak Aryo dan adiknya, Ayu, ke rumah Eyang Uti yang berada di Yogyakarta. Sudah lama mereka tidak mengunjungi Eyang yang kini tinggal sendiri.

Sepulang sekolah, Aryo mengingatkan Ayah akan janjinya tersebut. “Ayah, kita jadi ke rumah Eyang, kan?” tanya Aryo. “Iya, tenang saja. Ayah sudah beli tiket pesawat untuk kita berempat,” jawab Ayah.

Malam sebelum keberangkatan, Ayah, Ibu, Aryo, dan Ayu sibuk mengemas barang-barang yang akan dibawa. Karena rumah Eyang tak jauh dari pantai, Ayah berencana mengajak Aryo dan Ayu bermain di pantai. “Jangan lupa bawa baju renang, ya!” seru Ibu mengingatkan Aryo dan Ayu. “Siap, Bu!” jawab mereka berdua kompak.

Esok paginya, mereka pergi ke bandara dengan koper yang sudah berisi penuh pakaian untuk menginap. Sesampainya di bandara, mereka langsung melakukan pengecekan barang dan bersiap untuk memasuki pesawat.

Tak terasa, setelah satu jam berada di lautan awan, mereka mendarat di bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Di bandara, mereka disambut oleh Pakde Tono yang akan mengantar ke rumah Eyang.

“Assalamualaikum, Eyang!” seru Ayu seraya memeluk Eyang yang sedang merajut di kursi goyang kesayangannya, disusul Aryo yang segera mencium tangan Eyang. Sementara itu, Ayah dan Ibu sibuk meletakkan barang bawaan di kamar yang sudah disiapkan.

Ayu menceritakan rencananya untuk ke pantai esok hari kepada Eyang. “Besok aku dan Mas Aryo mau ke pantai sama Ayah dan Ibu. Eyang ikut, yuk!” ajak Ayu. “Wah, apa ndak capek kalau langsung ke pantai besok?” tanya Eyang. “Nggak kok, Yang. Ayu sudah nggak sabar mau main pasir,” jawab Ayu riang. “Ya sudah, besok Eyang bawakan bekal saja. Eyang sudah ndak kuat kena angin pantai terlalu lama, kamu kan pasti mainnya bisa seharian,” tolak Eyang secara halus.

Keesokan harinya, Aryo yang sangat bersemangat untuk pergi ke pantai bangun lebih pagi dan menyiapkan keperluan yang akan dibawa ke pantai. Ia pun membangunkan Ayu yang masih terlelap. “Ayu, bangun, Yu! Katanya mau main pasir?” Aryo membangunkan sambil menepuk pipi adiknya.

Aryo terkejut ketika menyentuh pipi Ayu. “Lho, Yu, kok badanmu panas?” tanya Aryo khawatir. “Hmm, kepalaku pusing, Mas,” ucap Ayu dengan suara lemah. Aryo segera memanggil Ayah dan Ibu untuk memeriksa keadaan Ayu. Mereka segera membawa Ayu ke dokter.

Setelah diperiksa oleh dokter, Ayu diperbolehkan pulang, tapi harus beristirahat. “Mas Aryo, maafin Ayu, ya, kita gagal main pasir di pantai, deh,” kata Ayu merasa bersalah. “Nggak apa-apa, Yu, yang penting kamu harus sehat dulu. Lagian bukan gagal, tapi tertunda saja main ke pantainya,” ucap Aryo berusaha menghibur Ayu.

“Ya sudah, sekarang makan dulu, supaya cepat sembuh,” kata Aryo sambil menyuapi bubur yang dibuat Eyang. “Nggak mau, ah,” tolak Ayu sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. “Katanya mau cepat main di pantai, tapi makan saja nggak mau,” keluh Aryo. “Iya, deh. Ayu makan, biar kita jadi ke pantai,” Ayu menyuap sendiri buburnya. “Nah, gitu dong ,” canda Aryo sembari mengelus rambut adik satu-satunya tersebut.

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *