Sejak pandemi Covid-19 berlangsung, teknologi digital seakan menjadi ‘dewa penolong’. Banyak aktivitas yang sempat tersendat akibat jaga jarak guna mencegah penyebaran, bisa berlangsung dengan lancar berkat teknologi. Salah satu yang sangat memudahkan adalah belanja online.

Seperti Moms tahu, aktivitas masyarakat Indonesia dalam berbelanja online meningkat pesan selama pandemi, termasuk belanja ragam kebutuhan makanan segar seperti sayuran, buah-buahan dan bahan pangan sehari-hari lainnya. Tinggal order dan menunggu barang di antar tanpa perlu ke luar rumah, memberikan kemudahan yang dicari selama pandemi.

Mudahkan Akses Petani dan Konsumen

Salah satu perusahaan rintisan (startup) di sektor teknologi yang menyediakan aneka ragam kebutuhan pangan segar adalah Sayurbox yang telah berdiri sejak tahun 2017. Berawal dari kepedulian yang tinggi dari seorang wanita muda bernama Amanda Cole terhadap kesejahteraan petani. Lima tahun lalu ketika berada di daerah Parung Kuda, Sukabumi, ia sempat mengobrol dengan para petani wanita di sana. Rata-rata mengeluhkan masalah yang serupa, yakni susahnya mendapatkan akses ke pasar langsung karena rantai distribusi yang panjang.

Ya, walau pertanian merupakan salah satu industri terbesar di Indonesia, namun tingkat kesejahteraan petani masih rendah. Adanya dominasi pendekatan tradisional yang seringkali belum ‘klik’ dengan budaya baru era digital, serta masih banyaknya praktik-praktik tengkulak sungguh tidak menguntungkan bagi para petani.

Amanda Susanti Cole, Chief Executive Officer at Sayurbox

Dari sana lah, ide awal Sayurbox tercipta. Sebagai CEO dan Co-Founder Sayurbox, Amanda dan tim berupaya untuk ‘memangkas’ rantai distribusi yang panjang itu menjadi lebih pendek. Menggunakan solusi teknologi, Sayurbox memiliki misi menghubungkan petani langsung dengan pelanggannya. “Selain dari segi petani, konsumen bisa mendapatkan bahan yang lebih segar dan berkualitas tinggi langsung dari petani lokal dengan cepat,” ujar Amanda Cole pada acara media gathering secara daring, beberapa waktu lalu.

Sayurbox sendiri, ujarnya, menyediakan berbagai sayuran dan buah-buah segar (organik dan non organik), serta aneka produk kebutuhan sehari-hari lain seperti daging, ayam, seafood, produk karbohidrat, aneka siap santap, bumbu dapur,  minuman, hingga susu, telur dan keju. “Konsumen bisa pesan dari aplikasi ataupun situs Sayurbox. Mereka bisa membeli berbagai macam produk sesuai kebutuhan, dan kita akan kirimkan keesokan harinya. Jadi, misalnya pesan hari ini hingga jam 10 malam, maka akan diterima besoknya (H+1). Atau bisa juga memilih pengiriman instan yang baru kita launching. Lewat ‘delivery instant’ ini ada beberapa item yang bisa kita kirim dalam waktu 30 menit sampai dengan 1 jam di hari pemesanan yang sama di lokasi tertentu,” terang Amanda.

Beralih ke Teknologi AWS

Keberadaan aplikasi semacam Sayurbox tentu sangat menguntungkan bagi mitra petani dan juga konsumen. Seperti yang diakui oleh petani wanita bernama Gini (50 tahun). Sebelum menjadi mitra Sayurbox, Ibu Gini bersama petani lainnya, kerap hanya bisa pasrah menunggu pembeli yang datang. “Dulu selalu nunggu, siapa yang mau datang beli. Kadang suka sedih nggak ada yang beli (hasil tani). Sekarang udah bisa online, dari segi pendapatan juga lebih maju (membaik). Makasih sekali bisa gabung bersama Sayurbox,” katanya.

Keberadaan Sayurbox sangat membantu terutama di masa pandemi. Puncaknya terjadi pada tahun lalu, di mana diberlakukan PSBB ketat, masyarakat banyak menghindari bepergian keluar rumah, termasuk ke pasar. Biasanya membeli bahan segar kita akan langsung ke pasar, pergi pagi-pagi, namun Sayurbox bisa meniadakan hal itu. Hanya dengan sentuhan 1 jari dan klik ‘button’, kebutuhan kita bisa segera diproses. Inilah yang membuat masyarakat beralih pada belanja online.

Listiarso Wastuargo, Vice President of Engineering at Sayurbox

Dan, meningkatnya permintaan dari konsumen yang melonjak tinggi di masa pandemi turut dialami pula oleh Sayurbox.  Saking banyaknya, ini menimbulkan sedikit kendala sistem dari segi teknologi. Hal ini diakui oleh Listiarso Wastuargo, VP of Engineering, Sayurbox. Ketika baru berdiri, Sayurbox menggunakan platform lain yang sederhana. Namun, seiring perusahaan bertumbuh, Sayurbox perlu mencari dan menemukan infrastruktur teknologi yang lebih baik dan dapat diandalkan. Kondisi tersebut membuat tim IT Sayurbox yang dikepalai oleh Gogo, demikian ia biasa disapa, meninjau penggunaan teknologi cloud AWS (Amazon Web Services) untuk memperbaiki dan mengatasi masalah sebelumnya.

Sayurbox, katanya, telah beralih menggunakan solusi AWS secara end-to-end dari hulu ke hilir: dari petani, logistik, hingga aplikasi yang digunakan oleh pelanggan untuk mengakses layanan Sayurbox.

Hemat Biaya Hingga 1/5 Kali

Adapun beberapa solusi AWS yang digunakan oleh Sayurbox meliputi: Amazon Elastic Cloud Compute (EC2) untuk layanan yang dikelola sepenuhnya (managed services) agar Sayurbox dapat menyesuaikan komputasi dengan trafik, Amazon Simple Storage Service (S3) untuk menyimpan file, Amazon CloudFront untuk content delivery network (CDN) yang lebih cepat dan dapat menyuguhkan file hanya dalam hitungan 60 milidetik untuk kepuasan pelanggan, dan Amazon Relational Data Service (RDS) untuk MySQL dan PostgreSQL untuk beban kerja analitika data.

Sayurbox lakukan optimalisasi teknologi digital melalui cloud AWS

Karena semua prosesnya sudah digital, tim Sayurbox tidak perlu lagi melakukan pengaturan secara manual. Berkat teknologi AWS, Sayurbox pun mampu melakukan penghematan biaya TI hingga seperlima dibandingkan sebelumnya. Wah!

Ya, inovasi adalah syarat mutlak bagi startup yang bergerak di bidang teknologi. Diharapkan dengan beralihnya Sayurbox ke AWS, pengalaman konsumen untuk berbelanja di Sayurbox semakin mudah, cepat dan nyaman. Selain dari sisi inovasi teknologi, diterangkan oleh Amanda, pihaknya juga akan melakukan ekspansi dari segi layanan maupun lokasi.

“Karena adanya Covid, banyak pelanggan lebih terbuka untuk berbelanja online. Kita berupaya terus untuk menambah layanan dan meningkatkan kepuasan. Saat ini, kita menambah waktu untuk batas pemesanan perhari bisa dilakukan sebelum jam 10 malam. Lewat ‘next day delivery’, barang akan sampai 6-8 jam di tangan konsumen. Dan lewat ‘delivery instant’ pesanan akan diantarkan dalam waktu 30 menit hingga 1 jam,” ucap Amanda.

Utamakan Kenyamanan Pelanggan

Selain itu, Sayurbox juga merencanakan untuk memperluas cakupan jangkauan dan menambah ketersediaannya di luar wilayah Jabodetabek, Bali, dan Surabaya. “Dalam waktu dekat ini, kami akan merambah daerah Bandung,” katanya.

Hingga saat ini, Sayurbox sudah melayani ratusan ribu konsumen. Amanda menuturkan, visi Sayurbox adalah pemberdayaan, khususnya pemberdayaan perempuan. Hal ini tercermin dari 90% mitra petani adalah perempuan. Tak hanya itu, mayoritas pelanggan setia Sayurbox yakni 90 persen di antaranya juga merupakan perempuan dari segala rentang usia dan jenjang kehidupan – dari wanita karir, ibu yang baru memulai rumah tangga, hingga paruh baya.

Di internal perusahaan sendiri, 80% karyawan didominasi perempuan dan posisi pimpinan juga dipegang oleh perempuan yang kompeten. Amanda mengatakan bahwa tempat kerja yang lebih beragam dan terbuka bagi perempuan telah bersumbangsih secara nyata terhadap kinerja dan inovasi perusahaan.

“Menurut aku, di zaman sekarang ini, teknologi pasti akan membantu bisnis. Untuk membantu para entrepreneur untuk berkembang, maka perlu dirangkul dan dilibatkan. Kami berkerja sama dengan para petani secara end-to-end, jadi komunikasi secara terbuka, kita beritahu mereka lagi butuh apa, kita rencanakan bersama. Dan, kita gunakan teknologi AWS untuk membantu mengelola layanan online kami. Indonesia adalah negara yang subur, namun masih banyak yang menganggap pertanian adalah bidang yang kurang menarik. Sudut pandang ini yang ingin kami ubah. Fokus Sayurbox adalah membantu petani lokal mengirimkan produknya ke konsumen dan harapannya semoga Sayurbox makin maju ke depannya,” tutup Amanda.

Nah, Moms yang hobi berbelanja bahan segar secara online, bisa langsung mengakses aplikasi dan situs Sayurbox, ya? Dengan berbelanja di sana, tanpa disadari Moms juga telah ikut membantu mensejahterakan para petani.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *