“Terima Kasih ya, Lana,” ucap Bila saat menerima sepotong kue cokelat lengkap dengan krim dan cherry di atasnya. Hari itu, Lana bertambah usia menjadi 10 tahun. Ia merayakan ulang tahunnya di sekolah bersama teman-teman. Semua anak kemudian memakan kue ulang tahun Lana yang kelihatan menggiurkan.  “Kamu nggak makan kuenya, Bil?” tanya Adi. “Nggak, ah, buat di rumah aja,” jawabnya. Bila sengaja langsung memasukkan kuenya ke dalam kotak makan bekas roti yang ia bawa.

Ketika sampai rumah, ia langsung meletakkan kotak makannya ke dalam kulkas agar kue cokelatnya tidak meleleh. “Bu, kue cokelat Bila yang di dalam kulkas jangan dimakan, ya,” pesan Bila pada Ibunya. “Kue cokelat dari siapa, Bil?” tanya Ibu. “Tadi Lana merayakan ulang tahun di sekolah, jadi dia bagiin kue cokelat untuk satu kelas,” jelas Bila.

Hari itu, Bila harus mengikuti les bahasa Inggris. Ia berniat memakan kuenya setelah pulang dari tempat les. Ketika hendak membuka pagar, Dio, kakaknya baru saja pulang sekolah. “Mau ke mana, Bil?” tanya Kak Dio. “Les bahasa Inggris! Kan harusnya Kakak sudah tahu kalau jadwal lesku setiap Rabu,” jawab Bila sedikit kesal. “Huh, kamu gitu aja ngambek. Ya sudah, hati-hati, ya, Bil. Belajar yang benar, jangan cuma bisa yes sama no aja, hahaha,” ledek Kak Dio. Bila makin kesal, dan langsung menutup pagar. Tapi, ia lupa berpesan pada Kakaknya untuk tidak memakan kue cokelat miliknya. “Wah, kue cokelat siapa, nih?” tanya Kak Dio ketika membuka kulkas. Kemudian ia menyolek krim putih yang berada di atasnya. “Hmm, enak juga…,” gumamnya. Ia pun mengambil kue itu dan memakannya sampai habis.

Bila, yang biasanya bermain dulu setelah selesai les, langsung pulang karena tak sabar ingin melahap kue yang disimpannya di kulkas. Sebelum pukul 5 sore, ia sudah sampai di depan pagar. Begitu bersemangatnya, ia lupa memberi salam dan langsung menuju kulkas. Namun, ketika membuka kulkas ia menemukan kue yang ia simpan telah raib tak bersisa. “Ibu!” seru Bila. Ibu yang tak tahu apa-apa, langsung menghampiri. “Kenapa, Nak?” tanya Ibu. “Kue cokelatku siapa yang makan?” tanya Bila sambil menahan kesal. “Lho, Ibu nggak makan, kok,” jawab Ibu.

Bila curiga pada Kakaknya. “Kak Dio!” Bila memanggil Kakaknya dari balik pintu kamar. Mendengar teriakan adiknya, Kak Dio langsung membuka pintu kamar. Ternyata, ketika makan kue tadi, masih ada cokelat yang tersisa dekat mulut Kak Dio. “Tuh kan, pasti Kakak yang makan kueku!” seru Bila kesal. Lalu, ia berlari ke kamarnya dan membanting pintu. Ibu menghampiri Kak Dio yang merasa bersalah. “Sudah, nggak apa-apa. Nanti Ibu telepon Ayah minta membawakan kue yang mirip seperti kue Bila,” kata Ibu menenangkan Kak Dio. “Terima kasih, ya, Bu. Aku nggak bermaksud bikin Bila ngambek. Tapi, tadi aku keenakan makan kuenya jadi nggak sadar kalau ternyata sudah habis,” kata Kak Dio menyesali perbuatannya.

Tak lama kemudian, Ayah pulang dengan membawa sepotong kue cokelat. Mendengar hal tersebut, Bila keluar dari kamar dan langsung menyambut kue yang ingin ia santap. “Maafin Kakak, ya, Bil,” kata Kak Dio sambil mengulurkan tangan. “Hmm, nggak apa-apa, Kak. Harusnya kue tadi aku bagi 2, jadi Kakak juga kebagian,” ucap Bila.

(Cerita: Just For Kids/ Ilustrasi: Just For Kids)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *