Selama ini, mata pelajaran matematika sering menjadi ‘momok’ bagi para pelajar se-Indonesia. Menurut hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 yang mengukur kompetensi dan kualitas pendidikan, Indonesia menempati peringkat ke-7 paling rendah (72 dari 79 negara) di kategori matematika dengan skor 379, jauh di bawah rata-rata negara lainnya, yaitu 490.

Padahal, keterampilan matematika memiliki banyak manfaat untuk proses tumbuh kembang anak. Misalnya, matematika memperkuat kemampuan pemecahan masalah, baik yang berhubungan dengan angka maupun logika secara sistematis. Ketika mengerjakan soal-soal, anak terbiasa untuk menghadapi permasalahan baru, mengolahnya dengan logika dan formula, serta menemukan jawabannya. Hal ini secara tidak langsung juga melatih kemampuan pola pikir anak untuk bisa menganalisa dan menghadapi tantangan dengan baik.

Selain itu, matematika merupakan salah satu pelajaran yang melatih kekuatan otak. Ketika anak berlatih mengerjakan soal-soal matematika, proses pengerjaan ini melatih memori dan kemampuan komputasi otak. Bahkan, menurut studi dari University of Oxford, anak yang berhenti belajar matematika di usia 16 tahun memiliki gamma-aminobutyric acid yang lebih sedikit, padahal zat kimia ini berperan penting untuk pertumbuhan otak dan kemampuan kognitif jangka panjang.

Melihat peran penting matematika, orang tua dan tenaga pendidik pun bisa melakukan beberapa cara untuk mengemas matematika menjadi mata pelajaran yang menarik bagi anak-anak. Beberapa prinsip diantaranya adalah: membuat matematika kontekstual, interaktif, dilengkapi visualisasi, dan bisa dimainkan (gamifikasi).

Selama ini, anak cenderung bosan mengerjakan soal-soal latihan karena kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, ketika diajak menggunakan formula matematika untuk hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari (misalnya menghitung uang jajan), anak akan lebih tertarik. Elemen interaksi dan visualisasi juga penting dalam pengajaran matematika, terutama karena anak-anak di zaman modern telah dikelilingi dengan gawai dan media sosial yang menyediakan hal tersebut. Yang terakhir, ketika matematika dikemas dalam konsep permainan, hal ini akan menambah motivasi anak untuk belajar dan berlatih dengan cara yang menyenangkan, tanpa merasa tertekan.

Unsur-unsur di atas menginspirasi platform edukasi teknologi Zenius untuk menghadirkan ZeniusLand, sebuah platform belajar yang dirancang khusus untuk mengembangkan kemampuan fundamental dan cara berpikir kritis siswa sekolah dasar di Indonesia. Metode pembelajaran dibangun dengan permainan edukatif yang meningkatkan kecerdasan kognitif maupun emosional anak. Selain itu, platform ini pun bisa menambah semangat eksplorasi dan belajar anak di mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia, dengan mengenalkan karakter animasi yang membuat kegiatan belajar semakin menyenangkan.

“Kami menggabungkan unsur kontekstual, interaksi, visualisasi, dan gamifikasi ke dalam aplikasi ZeniusLand, agar bisa menjadi arena belajar dan bermain yang menyenangkan bagi anak-anak usia pendidikan SD di seluruh Indonesia. Bekerja sama dengan Disney, penyampaian soal matematika disajikan dalam narasi cerita melalui video pembelajaran yang menarik. Anak-anak juga bisa berlatih soal dengan interaktif dan menyelesaikan misi mingguan agar bisa mengumpulkan skor tertinggi. Konsep gamifikasi ini penting untuk menumbuhkan motivasi dan rasa bangga, sekaligus menghapuskan stigma bahwa matematika adalah mata pelajaran yang membosankan,” ungkap Bapak Wisnu Subekti, Co-founder dan Head of Academic Zenius.

Orang tua dapat memanfaatkan beberapa fitur yang tersedia di ZeniusLand untuk meningkatkan proses pengembangan pendidikan anak. Misalnya, orang tua bisa melihat contoh materi pembelajaran di ZeniusLand, membeli paket belajar, melihat laporan performa dan kemajuan levelnya, serta mendapatkan rekomendasi pembelajaran yang optimal untuk anak.

Faktanya, permainan online telah menjadi fenomena yang digandrungi oleh anak-anak hingga orang dewasa. Indonesia sendiri merupakan negara dengan jumlah gamers terbanyak ketiga di dunia, di mana 94,5 persen populasinya memainkan video game. Oleh karena itu, pendidikan berbasis gamifikasi bisa menjadi cara efektif untuk menumbuhkan keterampilan positif.

“Sesuai dengan misi Zenius untuk menumbuhkan semangat belajar di semua orang, kami ingin menggunakan kekuatan teknologi untuk tujuan yang positif. Kini, di waktu luang, anak-anak bisa berlatih matematika dengan seru dan menyenangkan, tidak kalah dari game online lainnya,” tambah Bapak Wisnu.

ZeniusLand menghadirkan lebih dari 350 video pembelajaran Matematika dan lebih dari 1.000 latihan soal interaktif untuk siswa kelas 4-6 SD. Platform ini telah tersedia di Android dan iOS, yang dapat diakses dengan basis langganan. Tarif berlangganan melalui website ZeniusLand adalah mulai dari Rp70.000 per bulan, atau Rp600.000 per tahun.

(Foto : Ist)

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *