Bayangan Putih Kebun Bambu

“Desi… Tolong belikan garam di warung Mpok Ijah ya sekarang!” kata Ibu setengah berteriak dari dapur. “Ya, Bu,” sahut Desi yang segera beranjak pergi.

Tak jauh dari rumah, jalan mulai bercabang. Satu jalan di sebelah kiri lebih dekat menuju warung Mpok Ijah. Namun, harus melewati kebun bambu yang sepi. Satu jalan lagi di sebelah kanan, jaraknya lebih jauh karena memutar melewati kantor kelurahan.

Desi teringat Ibunya sedang memasak. Ia harus secepat mungkin membeli garam. Maka Desi pun mengambil jalan pintas melewati kebun bambu.

“La… la… la…,” Desi berjalan sambil bersenandung untuk menghilangkan kesunyian.

Sreeek… Sreeek

Terdengar bunyi daun bambu terkena hempasan angin. Langkah Desi terhenti sejenak ketika ia melihat banyak bayangan putih agak jauh di depannya. Ia mengucek matanya ingin melihat dengan jelas. Tapi bayangan putih itu sirna dan suasana pun hening kembali. “Ahhh… Mungkin asap bakaran sampah saja,” kata Desi dalam hati.

Sesampainya di warung. “Mpok, garam satu bungkus, ya,” pinta Desi. Saat menunggu Mpok Ijah mengambilkan garam, tak sengaja ia mendengarkan obrolan ibu-ibu di warung.

“Bu Woko kemarin lewat kebun bambu siang hari. Katanya, ia melihat banyak bayangan putih,” ujar salah seorang Ibu. Desi makin ketakutan setelah mendengar obrolan ibu-ibu itu. Namun, apa daya ia harus secepat mungkin kembali ke rumah dengan garamnya.

Desi pun terpaksa kembali melewati jalan setapak kebun bambu. Bulu kuduknya mulai berdiri. Desi mengumpulkan semua kekuatannya untuk berlari kencang.

“Satu… Dua… Tiga… lariiiiiii…,” Desi berteriak dan langsung mengambil langkah seribu. Tiba-tiba, kaki Desi tersandung batu. Ia tersungkur jatuh tengkurap.

Saat masih terjatuh, Desi melihat sepasang kaki keriput di balik kain putih tepat di depannya. Ia tak berani mendongakkan kepalanya ke atas. Dengan sekuat tenaga sambil mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Desi bangun dan langsung berlari sekencang-kencangnya dengan membawa seplastik garam.

Bruuuk Tubuh Desi menabrak pintu rumah yang langsung terbuka. Jantung Desi berdebar kencang. Ibu langsung menghampirinya. “Kamu kenapa, Desi?” tanya Ibu heran.

“Aku tadi melihat bayangan putih di kebun bambu,” jawab Desi. Ibu lantas tersenyum dan berusaha menenangkan anak semata wayangnya itu. “Hahaha… Bayangan putih apa, sih?” kata Ibu justru balik bertanya dengan tenang.

“Ahhh.. Ibu tak percaya, sih! Aku tadi melihat sendiri, ada baju putih dengan kaki keriput,” seru Desi. “Pasti tadi kamu bertemu dengan nenek Tuti! Dia warga kampung sebelah, setiap siang dia memang ada di kebun bambu untuk mengambil batang bambu,” jelas Ibu.

Jadi, selama ini bayangan putih yang ada di kebun bambu itu adalah nenek Tuti! “Nenek Tuti memang penyuka warna putih, ia seringkali mengenakan pakaian putih,” kata Ibu kembali menjelaskan. “Ohh… begitu ya, Bu!” timpal Desi.

Ibu lantas mengambil garam yang ada di genggaman Desi dan kembali ke dapur. “Tapi, tadi saat berangkat ke warung, aku melihat lebih dari satu bayangan putih, ya?” Desi bergumam. Lalu, bayangan putih yang banyak itu siapa, ya? Desi yang masih ketakutan, langsung menyusul Ibunya ke dapur. “Aku mau bantu Ibu memasak saja!” katanya. (Teks: Just For Kids/ Ilustrasi: Just For Kids)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *