“Edo, kamu sedang apa?” tanya Bunda. Lamunan Edo langsung buyar. “Mmm… Melamun saja kok, Bun,” jawab Edo. “Sebentar lagi Maghrib, ayo masuk, tak baik di luar saat Maghrib,” ajak Bunda sambil berlalu.

Beberapa hari terakhir ini, Edo suka sekali duduk di balkon. Hampir tiap sore ia termenung sambil memandangi gedung tua yang letaknya tak jauh dari rumah. Konon, gedung tua yang mulai kusam tersebut berhantu. Sehingga banyak pekerja yang tidak betah bekerja di gedung itu. Kini gedung tua tak lagi digunakan dan dibiarkan kosong.

Nah, kabar itulah yang membuat Edo penasaran. “Mana hantunya? Sudah beberapa hari, aku memandangi gedung tua itu tapi tak ada hantu,” gumam Edo. Ia lalu masuk ke kamar menuruti perintah Bundanya.

Keesokan sore, Edo masih tetap penasaran. Ia sudah duduk di kursi balkon sambil memandangi gedung tua berlantai 6 tersebut. “Sepertinya ada yang aneh,” bisik Edo. Ya, ada salah satu lantai yang lampunya menyala. “Kenapa lampunya menyala, ya?” ujar Edo.

“Bunda… Bunda…,” seru Edo.

Edo berteriak memanggil Bundanya. “Ada apa, Edo?” tanya Bunda yang muncul di pintu balkon. “Ada hantu di gedung itu, Bun!” jawab Edo. “Mana hantunya?” tanya Bunda jadi ikut penasaran.

“Itu lho Bun, lampu salah satu lantainya menyala! Pasti kerjaan hantu,” tutur Edo. “Hahaha… Itu bukan kerjaan hantu. Tapi karena ada sekelompok orang yang sedang mengangkut bekas perabotan kantor,” jelas Bunda. “Tadi siang, Bunda berpapasan dengan Pak Agus, satpam gedung. Kata Pak Agus, ada orang yang mau membeli perabotan bekas kantor dari gedung itu,” kata Bunda.

“Aku kira ada hantu,” ucap Edo. Raut wajahnya kesal karena gagal mencari bukti hantu gedung tua.

Keesokan hari, Edo sedang bersantai di balkon. Pandangan matanya masih tertuju ke gedung tua. Salah satu lampu di lantai gedung itu masih menyala.

Tiba-tiba, muncul bayangan orang di jendela gedung. Bayangan tersebut jelas terlihat karena tepat berada di lantai dengan lampu yang menyala. Mirip perempuan berambut panjang. “Itu pasti orang yang mau mengangkut perabotan bekas,” Edo bergumam.

Edo lalu melambaikan tangannya berusaha untuk berkenalan dengan orang di gedung tua itu. “Edo, kamu melambaikan tangan kepada siapa?” tanya Bunda yang muncul di balik pintu balkon. Edo pun menoleh ke arah Bunda. “Itu Bun, ada orang sepertinya perempuan yang mau mengangkut perabotan lagi seperti kemarin,” jawab Edo.

Bunda langsung menatap gedung dan mencari bayangan orang tersebut. “Mana? Bunda tidak melihat siapa-siapa,” ujar Bunda. Edo mengembalikan pandangannya ke gedung tua. Alangkah kagetnya Edo saat melihat gedung tua tersebut.

Tak ada satu pun lampu yang menyala. Bayangan orang pun sudah menghilang. “Orang-orang yang mengangkut perabotan itu hanya kemarin saja, Edo. Lagi pula, kemarin Bunda tidak melihat ada perempuan yang ikut mengangkut barang,” tutur Bunda. “Lalu, bayangan perempuan tadi siapa?” tanya Edo bingung sekaligus takut.

 

Cerita: JFK      Ilustrasi: JFK

 

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *