Internet sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang tidak dipisahkan. Apalagi selama pandemi Covid-19 yang memaksa orang banyak beraktivitas di rumah, penggunaan internet melesat tajam. Di Indonesia sendiri, menurut hasil penelitian Alvara Research Center, tercatat lonjakan yang signifikan terkait konsumsi internet masyarakat pada Juni 2020. Dalam satu hari, waktu pengguna dalam mengakses internet meningkat dari awalnya 4 – 6 jam per hari menjadi lebih dari 7 jam per hari. Kalangan remaja atau Generasi Z menjadi kelompok masyarakat yang mendominasi pengguna internet di Indonesia.

Usia remaja sendiri bisa dibilang masih rentan. Masih banyak yang tidak tahu bagaimana etika berinternet yang baik. Di satu sisi, mereka kerap menggunakan teknologi digital yang dilengkapi internet untuk aktivitas sehari-hari, seperti bermain media sosial, mengerjakan tugas sekolah, berinteraksi dengan teman dan sebagainya. Nah, seringnya mereka mereka sering online tanpa pengawasan orangtua sehingga memungkinkan untuk menerima konten-konten negatif seperti pornografi maupun menghadapi ancaman kejahatan dunia maya.

Namun, jika dikelola dengan baik, internet menjadi sarana ampuh untuk banyak hal positif, mulai dari meningkatkan kreativitas, pengetahuan, hingga mencari pundi-pundi uang. Untuk itulah, di sini peran penting orangtua maupun pendidik tak bisa diabaikan. Memberikan pengetahuan digital kepada anak-anak maupun remaja untuk menggunakannya secara bijak, sudah menjadi keharusan.

Memahami pentingnya hal itu, bertepatan dengan Hari Internet Aman Dunia (Safer Internet Day/SID) hari ini, TikTok, platform distribusi video singkat terdepan di dunia, bersama DQ Institute, lembaga internasional yang berdedikasi pada pengembangan kecerdasan digital (digital intelligence), meluncurkan Toolkit Keamanan Keluarga TikTok. Toolkit berisi panduan dan tool bagi orangtua dalam memahami pengasuhan anak secara digital sebagai upaya menciptakan lingkungan siber aman ini sudah dapat diakses di Pusat Keamanan TikTok.

Lewat toolkit tersebut, TikTok ingin turut menyerukan upaya bersama dalam menciptakan internet sebagai tempat yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh pengguna, terutama anak dan remaja. TikTok memandang Literasi Digital DQ Institute sangat tepat untuk menunjukkan komitmen terhadap keamanan sebagai elemen yang sangat penting pada industri teknologi. Ini merupakan kolaborasi kedua antara TikTok dan DQ Institute setelah pembentukan Dewan Penasihat Keamanan Asia Pasifik (Asia Pacific Safety Advisory Council) pada September 2020 lalu.

(atas – bawah) Donny Eryastha, Intan Gurnita Widiatie, dan Hendarman saat menjadi narasumber Media Briefing bertemakan “Peran Orangtua Ciptakan Lingkungan Siber Aman” dalam rangka merayakan Hari Internet Aman Sedunia 2021 pada hari ini (10/2)

Menurut 2020 Child Online Safety Index, 64% remaja Asia Tenggara pernah mengalami setidaknya satu risiko dunia maya, seperti perundungan maya, kontak berisiko, dan konten berisiko. Inilah alasan Toolkit Keamanan Keluarga TikTok menjadi sangat penting. “Kami ingin memberdayakan orangtua dengan tips pengasuhan digital yang sederhana dan praktis untuk mendukung aktivitas digital anak remaja mereka dalam menavigasi TikTok dan aplikasi lain dengan aman dan bertanggung jawab,” ujar Yuhyun Park, pendiri DQ Institute.

Literasi digital bagi remaja, diungkapkan Hendarman, Kepala Pusat Penguatan Karakter, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia sangat penting dan merupakan aset besar demi mewujudkan sumber daya manusia unggul di masa depan.

Intan Gurnita Widiatie (@nyiteung), ibu dari lima anak yang juga dikenal sebagai CEO Label Musik Sorai sangat setuju bahwa ketika remaja memasuki platform digital, orangtua perlu ada di sana,melakukan pendampingan. “Hadirnya toolkit ini akan sangat membantu orangtua dan wali untuk mendapatkan gambaran tentang apa saja yang bisa dilakukan untuk membimbing anak remajanya menjadi warga digital yang bijak,” katanya.

Dalam mengawasi aktivitas digital anak-anaknya, ia mengaku membiasakan adanya diskusi, tentang apa saja secara terbuka. “Saya tidak mengontrol terlalu ketat atau keras, tapi mencari momen yang pas untuk diskusi. Saya mau mereka merasa nyaman dulu. Bila mereka membuat konten di TikTok misalnya, saya tanyakan alasannya apa membuat konten seperti itu. Sebagai orangtua, saya punya batasan sendiri versi saya. Dan, semua itu bisa didiskusikan secara terbuka kepada anak,” paparnya.

Toolkit Keamanan Keluarga TikTok berisikan 10 tips tentang pengasuhan digital pada anak remaja yang mudah diterapkan oleh orangtua untuk aktivitas di platform digital mana pun, tidak hanya untuk platform TikTok saja agar mereka menjadi warga digital yang baik. Selain itu, Toolkit ini juga memberikan panduan lengkap mengenai alat keamanan keluarga yang dapat digunakan oleh orangtua, termasuk cara penggunaan Pelibatan Keluarga (Family Pairing), fitur yang memungkinkan akun orangtua dan akun anak remaja terhubung sehingga aktivitas daring mereka dapat terkontrol dengan baik.

“Upaya dan komitmen kami dalam menciptakan lingkungan siber yang aman akan terus kami gaungkan demi kepentingan bersama. Harapannya semoga Toolkit Keamanan Keluarga TikTok ini bisa menjadi sumber edukasi sekaligus panduan pengasuhan digital yang komprehensif bagi para orangtua di Indonesia untuk menyadari pentingnya keamanan, keselamatan, dan privasi daring anak remaja,” tutup Donny Eryastha, Head of Public Policy TikTok Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Bagi keluarga yang ingin mengetahui lebih jauh tentang keamanan daring, TikTok telah menciptakan sejumlah sumber daya di Pusat Keamanan TikTok, termasuk Portal Kaum Muda, halaman Orangtuavideo edukasi keamanan, dan masih banyak lagi.

Foto: Istimewa

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *