Bangku Kosong Ujian Nasional

Dua minggu berlalu sejak kepergian Stephani. Siswi kelas 6 SD itu meninggal karena kanker otak. Riany masih merasa kehilangan sahabat sekaligus teman sebangkunya itu. “Hei, bengong aja, kamu masih sedih dengan kepergian Stephani, ya?” tanya Lisa sambil menepuk pundak Riany dari belakang.“Ehm.. Tiba-tiba, aku ingat dia. Tiga minggu lalu, aku masih belajar bareng sama Stephani untuk persiapan Ujian Nasional,” cerita Riany dengan wajah sendu. “Sudahlah, kamu jangan bersedih lagi. Stephani sudah bahagia di alam sana, sekarang saatnya kita tunjukin bahwa kita bisa lulus UN. Pasti Stephani bakalan bahagia kalau kita lulus UN, deh,” Lisa berusaha menenangkan. “Iya, betul juga. Kita pasti bisa lulus UN!” ujar Riany penuh semangat. “Nah, gitu, dong. Yuk, sekarang kita masuk kelas, 15 menit lagi UN akan dimulai,” ajak Lisa.

Kedua sahabat itu pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Di dalam kelas, hampir semua siswa sudah bersiap di bangkunya masing-masing. Wajah mereka nampak tegang. Ada yang sedang membuka buku sambil menghafal pelajaran. Ada pula yang tengah menyiapkan alat tulisnya. Riany lalu duduk di kursi yang sesuai dengan nomor ujiannya. Ia menoleh ke bangku kosong tepat di pojokan belakang. “Harusnya Stephani duduk di situ,” gumam Riany.

Tak lama kemudian, seorang guru masuk ke dalam kelas. “Selamat pagi, Anak-Anak!” ujar Bu Guru. “Selamat pagi, Bu Guru,” jawab para siswa hampir berbarengan. “Saya Bu Sisca, pengawas UN kalian. Tolong persiapkan alat tulisnya. Jangan ada yang menyontek, ya,” tutur Bu Sisca. Para siswa lantas bersiap memegang alat tulis sambil duduk manis di bangkunya masing-masing.

Ibu Guru lalu membagikan lembar jawaban dan soal UN. Saat berada di dekat bangku kosong, Ibu Sisca bertanya, “Ini peserta UN-nya mana?” “Itu nggak ada orangnya, Bu,” jawab salah seorang siswa di dekatnya. Bu Sisca pun tak jadi meletakkan soal dan lembar jawaban di bangku kosong tersebut.

“Semua sudah kebagian lembar soal dan jawaban?” tanya Bu Sisca. “Sudah, Bu,” jawab para siswa berbarengan. “Oke, kalau begitu. Silakan dimulai, waktunya hanya 1 jam, ya,” kata Bu Sisca. Pelajaran yang diujiankan adalah Bahasa Indonesia. Semua siswa kemudian mulai mengerjakan soal. Suasana di dalam kelas benar-benar hening. Hampir tak ada suara sama sekali.

Satu jam berlalu. “Anak-anak, waktunya habis. Letakkan alat tulis kalian,” perintah Bu Sisca. Para siswa langsung berhenti mengisi soal. Bu Sisca lalu menghampiri masing-masing meja siswa. Lembaran soal dan jawaban dikumpulkannya. “Tunggu sebentar, ya. Ibu hitung dulu lembaran jawabannya,” ujar Bu Sisca. “Ehm.. Kenapa jumlahnya 30, ya? Bukankah pesertanya hanya ada 29?” ucap Bu Sisca keheranan. Para siswa pun ikutan bingung. “Ada satu lembar soal yang tidak ada di daftar hadir, di sini tertulis namanya Stephani Zefanya. Ada orangnya?” tanya Bu Sisca.

Seketika, Riany dan Lisa terkejut bukan main. Begitu pula siswa lainnya yang mendadak kaget. “Bu, Stephani sudah meninggal 2 minggu lalu. Jadi, dia nggak ikut UN,” jawab Riany. “Apa? Kenapa ada lembar jawaban atas namanya, ya? Tadi Ibu membagikan lembaran soal dan jawaban hanya 29 lembar, kok,” kata Bu Sisca tambah bingung. “Jangan-jangan, Stephani benar-benar ikutan UN?!” bisik Lisa kepada Riany. Wajah kedua sahabat itu berubah menjadi pucat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *