“Ini waktunya aku bertelur,” ujar Kuri, si kura-kura. Kuri adalah kura-kura betina yang tinggal di pesisir pantai nan indah. Malam itu, sudah saatnya bagi Kuri untuk mengeluarkan telur-telurnya di dalam pasir. Dengan cara itulah, anak-anak Kuri bisa hadir ke dunia.

“Akhirnya aku menjadi seorang ibu,” kata Kuri dengan senangnya. Kuri memang sedang berbahagia, karena baru kali itu ia akan bertelur.

Setelah menemukan tempat yang cocok, keempat kaki Kuri langsung bergerak berbarengan. Ya, Kuri sedang menggali lubang di dalam pasir sebagai tempat untuk menyimpan telur-telurnya. “Aku harus terus menggali sampai kedalamannya cukup aman untuk telur-telurku,” tekad Kuri tak berhenti menggali.

Setelah dirasa cukup dalam, Kuri mulai bersiap mengeluarkan telur-telur dari dalam perutnya. Satu per satu telur mulai memenuhi lubang di dalam pasir yang sudah dibuat Kuri. “Wow, banyak sekali!” Kuri terkejut melihat telur-telur miliknya yang ada di dalam lubang. Sekitar 80 telur tersimpan di dalam lubang.

Dengan perlahan-lahan, Kuri menutupi lubang berisi telur itu dengan pasir pantai. “Aku tinggalkan kalian supaya menjadi kura-kura yang mampu menaklukan laut,” tutur Kuri sambil beranjak pergi meninggalkan pantai.

Saat akan kembali berenang di lautan, Kuri tiba-tiba merasa gelisah. “Kenapa aku jadi gelisah begini ya?!” Kuri merasa penasaran. Ia merasa khawatir dengan kondisi telur-telurnya yang disimpan di dalam lubang pasir. Kuri pun kembali berjalan ke lubang pasir yang berisi telur-telurnya.

Dari kejauhan, seekor ular besar terlihat sedang memakan telur-telur Kuri dengan lahap. Rasa kaget bercampur marah dirasakan Kuri saat melihat telur-telur miliknya dimakan seekor ular besar. Namun, Kuri tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan telur-telurnya. “Kalau aku melawan, pasti aku akan kalah!” kata Kuri sambil mengendap di balik semak-semak.

Setelah puas memakan banyak telur, Ular itu langsung kembali ke sarangnya. “Ah, kenyangnya… Sudah saatnya aku kembali ke sarang!” ujar Ula si ular bergumam pelan. Si Kuri kemudian mengikuti Ula dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan.

“Sekarang waktunya aku menjaga telur-telurku agar bisa menjadi anak yang gagah dan ganas,” tutur Ula.

Dari kejauhan, Kuri masih mengintai dengan setianya. “Mmm.. Sekarang aku sudah tahu di mana sarang ular itu,” ujar Kuri.

Keesokan malamnya, Kuri kembali mendatangi pantai. Kali ini, ia tidak membuat lubang pasir. Kuri mengendap-endap mencari sarang Ula. “Untung, ular itu sedang tidak ada di sarangnya,” kata Kuri.

Kuri lantas menghampiri sarang Ula dengan perlahan-lahan. Ada 5 buah telur ular yang ada di dalam sarang Ula. Kuri kemudian membawa 5 telur tersebut.

Kuri mulai membuat lubang baru tak jauh dari lubang telur sebelumnya.

Kuri berpura-pura sedang bertelur di dalam lubang. “Mmm.. Aku akan menaruh telur-telur ular itu di dalam lubang pasir ini,” kata Kuri. Seperti biasa, lubang kembali ditutupi dengan pasir.

Kuri lantas berjalan menuju laut dan meninggalkan telur-telur itu. Si Ula yang sudah mengawasi terlihat senang. “Bodoh sekali kura-kura itu, menaruh telur-telurnya di sini lagi. Ya tentu saja akan aku makan lagi,” ujar Ula dengan senang.

Ula yang sedang kelaparan langsung menggali lubang. Saking kelaparan, ia sama sekali tidak memperhatikan 5 telur yang ada di dalamnya. “Ahh, telur-telur ini lebih besar daripada kemarin, pasti aku akan merasa kenyang,” kata Ula yang langsung melahap dengan semangatnya.

Sekembalinya ke sarang, Ula baru menyadari bahwa telur-telurnya sudah tak ada di dalam sarang. “Hah, ke mana anak-anakku??!” teriak Ula. Ia merasa sedih sekaligus marah telur-telurnya sudah tak ada. Ula tak menyadari bahwa telur-telur yang baru saja dimakannya adalah anak-anaknya sendiri.

Akhirnya, si Ula pun merasakan kesedihan sebagai seorang ibu seperti apa yang dirasakan Kuri, si kura-kura. (Teks: Just For Kids/ Ilustrasi: Agung)

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *