Sunat bagi sebagian masyarakat tidak sekedar menjalankan ajaran agama, tapi ada manfaat kesehatan bagi tubuh. Karenanya, dengan disunat diyakini dapat menurunkan risiko infeksi saluran kemih dan kanker, serta dapat membersihkan alat kelamin. Sunat adalah operasi pengangkatan atau pelepasan kulup (kulit yang menutupi ujung alat kelamin). Ada berbagai metode sunat yang ditawarkan. Namun sebelum sunat dilakukan, ada baiknya mencari tahu terlebih dalam mengenai teknik sunat dan tenaga medis yang tepat. Salah satu teknik sunat yang sering dipilih adalah electrical cauter atau sunat dengan sinar laser. Padahal sejatinya tidak menggunakan sinar laser. Banyak orang mengira sunat laser berarti menggunakan sinar laser, tapi faktanya tidak. Istilah sunat laser ini sebenarnya keliru, tidak menggunakan sinar laser melainkan alat yang dinamakan electric cauter.

Electric cauter ini berupa lempengan logam yang dipanaskan. Jika dialiri dengan listrik, ujung logam akan menjadi panas dan berwarna merah, sehingga dapat digunakan untuk memotong kulup. Namun, berhubung metode sunat laser ini lempengan logam yang dipanaskan, jika salah penggunaannya, maka dapat berisiko menimbulkan luka bakar. Ingat kisah bocah Pekalongan yang kepala kelaminnya ikut terpotong setelah disunat dengan menggunakan teknik ini? Peristiwa yang terjadi pada September 2018 itu sungguh memilukan. Inilah salah satu risiko yang tentu saja akan memengaruhi kondisi psikologis dan fisik korban kelak ketika dia dewasa.

Ada juga laporan kasus yang dipublikasikan dalam British Medical Journal pada Januari 2013. Karena menggunakan teknik electric cauter, seorang bocah 7 tahun alat kelaminnya akhirnya harus diamputasi karena efek menggunakan teknik tersebut. Anak tersebut dilarikan ke pusat oksigen hiperbarik karena sianosis pada kelenjar alat kelaminnya. Ia menjalani pengobatan yang dilakukan dengan cara memberikan oksigen murni di dalam ruangan khusus bertekanan udara tinggi. Dia dilaporkan telah disunat pada hari yang sama dengan menggunakan perangkat elektrokauter monopolar. Sayangnya, elektrokauter menyebabkan luka bakar yang parah.  Meski terlihat aman, namun nyatanya penggunaan elektro kauter monopolar, mengakibatkan kecelakaan yang dramatis pada pasien. Memang, ketika elektroda monopolar digunakan, arus listrik yang dibawa hanya menyebabkan sedikit luka bakar. Namun, ternyata luka yang diakibatkan teknik itu memburuk dan mengakibatkan hilangnya jaringan yang signifikan.

Pemilik Rumah Sunat dr Mahdian, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, sangat tidak menyarankan sunat dengan teknik electrical cauter ini. Menurutnya, teknik ini sangat berbahaya bagi yang disunat. “Teknik electrical cauter ini adalah metode yang paling berbahaya. Jadi teknik yang digunakan electrical cauter itu memang alat yang digunakan untuk sunat yang paling berisiko terjadinya amputasi,” ujar dokter Mahdian.

Mengapa berbahaya karena logam yang panas ini bisa menyebabkan luka bakar pada bagian kelamin. Sebenarnya, electric cauter adalah alat bedah yang digunakan untuk memotong kulit atau pembuluh darah sehingga pendarahan yang muncul akan minimal. Hanya saja, alat ini sudah banyak yang dimodifikasikan sedemikian rupa. Ada yang berbentuk lempengan logam yang dipanaskan seperti pemanas air. Karena dimodifikasi itulah teknik ini tidak direkomendasikan. Karenanya, meski teknik ini lebih cepat, namun tetap disarankan untuk tidak memilih teknik ini. Kalaupun tetap ingin menggunakan teknik ini harus dipastikan bahwa petugas yang melakukan adalah tenaga medis yang tepat, yang ahlinya, yaitu dokter spesialis bedah. “Kalau tepat menggunakannya sangat bermanfaat karena sunat jadi cepat, menjahit jadi lebih mudah dan risiko infeksi lebih rendah. Tapi kalau penggunaan salah bisa timbulkan luka bakar,” tegasnya.

Dokter Mahdian lebih merekomendasikan metode modern, yaitu Mahdian Klem yang lebih sedikit risiko dan hanya membutuhkan waktu singkat. Pada metode operasi ini, waktu yang dibutuhkan hanya lima menit dan pasien bisa kembali beraktivitas dalam waktu satu hari. Mahdian Klem adalah satu-satunya klem produksi anak bangsa negeri sendiri. Hebatnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah merekomendasi metode ini. Alasannya, karena memperkecil risiko terjadinya infeksi silang yaitu infeksi karena pemakaian alat yang sama pada satu pasien ke pasien lain, mengingat teknik ini hanya sekali pakai. “Teknik ini aman untuk segala usia, apalagi untuk bayi. Tak ada larangan untuk tak boleh kena air setelah itu,” imbuhnya.

Menggunakan Mahdian Klem juga lebih mudah bagi operator (dokter, perawat), tidak memerlukan rotasi saat pemasangan tabung dan penjepit klem sehingga posisi tidak miring setelah pelepasan tabung, secara kosmetik lebih baik.

(Ilustrasi : Ist)

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *