Babo si babi dari Negeri Oak, terbangun mendengar suara kicauan burung. “Wah, sudah pagi!” kata Babo bersemangat.  “Hei, kami sedang tidur. Kau juga tidur lagi saja,” kata seekor babi. “Ya, benar,” kata babi lainnya.

Babo menggerutu, dia tidak ingin tidur, tapi dia harus menaati peraturan. Sejak zaman dahulu, para babi selalu hidup bersama, dan tidak boleh ada satu pun yang berbeda dari lainnya. Jadi, kalau sekarang kawanannya tidur, Babo juga harus tidur. Dan kalau para babi pemalas, Babo juga harus jadi pemalas!

Babo bermaksud merebahkan diri lagi, tapi tiba-tiba terdengar suara gonggongan. GUK-GUK-GUK! Para babi terbangun kaget. Babo melihat asal gonggongan itu, rupanya rombongan anjing pencari jamur Truffle.

Jamur Truffle adalah jamur termahal di dunia, dan Negeri Oak tempat tinggal Babo adalah penghasil jamur Truffle. Anjing-anjing itu dihormati dan hidup enak karena mereka membantu manusia mencari jamur Truffle.

Seekor anjing bernama Max berlari mendekati kandang babi dan meledek mereka, “Aku iri, kalian tak perlu bekerja untuk makan, hanya menunggu makanan sisa!” Para babi tersenyum bangga mendengar ini, rupanya mereka tidak menyadari sindiran Max. Tapi Babo  menyadarinya.

“Aku mau bekerja!” ujar Babo mencoba melompati pagar kandang babi, tapi seekor babi menggigit ekor Babo. “Aduh!” jerit Babo kesakitan. “Jangan coba-coba jadi babi lain, kau harus sama seperti kami!” ujar para babi. Babo pun terpaksa duduk diam.

Awan hitam menyelimuti langit dan hujan rintik-rintik turun. Babo menggunakan kesempatan ini untuk keluar kandang, karena babi lainnya tertidur pulas. Dia pergi ke Hutan Ek, tempat Max dan anjing lain berburu jamur Truffle. Babo akan menjelaskan pada Max, bahwa dia bukan babi yang malas.

Sampai di Hutan Ek, hujan bertambah deras dan Babo melihat Max berteduh di sebuah pohon ek sendirian. “Max! Dimana yang lain? Kenapa tak mencari jamur Truffle?” tanya Babo. Mulut Max bergerak, tapi Babo tidak mendengarnya.

Aroma lezat menyerang hidungnya, membuatnya sangat lapar! Asal bau itu dari tanah, Babo segera menggali tanah dengan menggunakan moncongnya, dan menemukan sumber bau lezat yang dicarinya.

“Itu Truffle!” seru Max tiba-tiba, mencegah Babo melahapnya. “Truffle?” tanya Babo bingung. “Babo, kau bisa mengendus jamur Truffle di tengah hujan! Tidak ada anjing yang bisa melakukannya!” kata Max sambil melihat Babo kagum. “Jadi, aku bisa seperti kalian yang terhormat?” tanya Babo. “Ya, tapi jangan makan Truffle yang berharga! Tahan dirimu!” kata Max sambil tersenyum senang.

Begitulah, akhirnya Babo si babi kini memimpin perburuan jamur Truffle dan bersahabat dengan para anjing. Karena kerja kerasnya, manusia memberikan imbalan Babo makanan enak yang bisa dipilihnya sendiri, bukan makanan sisa yang menjadi makanannya ketika masih di kandang babi.

Akan tetapi, Babo diusir dari kawanannya, keluarga babi yang sampai sekarang masih jadi pemalas. Babo berusaha menjelaskan pada mereka bahwa bekerja bisa membuat kebanggaan dan hidup yang lebih baik.

“Kau aneh, Babo. Pergi dari kandang kami, jangan pernah kembali lagi,” kata para babi. “Aku tidak sedih. Aku bangga bisa bekerja keras, dan kehidupanku sekarang penuh kebanggaan, petualangan, dan hal-hal baru yang menarik!” kata Babo. “Babo! Ayo kita bekerja lagi!” seru Max dan teman-teman anjingnya. “Aku datang!” ucap Babo bersemangat.

 

 

Cerita :  Seruni        Ilustrasi : Agung

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *