Hmm…masakan Ayah sungguh lezat. Dan Putri tahu itu. Setiap hari Ayah memang yang memasak untuk keluarga di rumah. Walau lelah sepulang kerja dari hotel, Ayah selalu menyempatkan untuk memasak. Ayah ahli memotong-motong daging dan sayuran. Ayah memang chef di hotel bintang lima. Maksudnya, Ayah Putri adalah seorang koki yang jago masak.

Akan tetapi, akhir-akhir ini Putri ingin Ibunya yang memasak. Ibu memang jarang memasak. Sebagai wartawati, Ibu sering pulang larut malam dan pergi ke luar kota. Kalaupun sesekali memasak, biasanya gorengannya gosong. Atau campuran bumbunya tidak cocok. Bahkan sering sekali masakannya asin. Itu menurut Ayah Putri.

Berdasarkan kesepakatan bersama, Ayah akhirnya memutuskan Ibu tidak usah memasak. Putri tadinya tidak keberatan dengan kebiasaan seperti itu. Apalagi masakan Ayah memang sangat luar biasa. Tempe saja bisa terasa seperti daging di tangan Ayah. Lidah Putri setiap hari dimanjakan lezatnya masakan Ayah. Masalahnya, akhir-akhir ini teman-teman Putri sering meledek karena Ibu Putri tidak bisa memasak. Yang lebih parah lagi, mereka juga mengejek Ayah Putri. Kata mereka, Ayah Putri seperti perempuan karena pekerjaannya memasak. Hah! Putri sangat kesal! Mana bisa seseorang dikatakan seperti perempuan hanya karena pekerjaannya memasak?

Malamnya, di meja makan, Putri berkata, “Putri ingin Ibu yang memasak untuk kita!” Ibu menatap Putri heran. “Kenapa?” tanya Ayah. Putri termangu, “Ya… supaya kita tidak kelihatan aneh. Putri tidak mau keluarga kita jadi berbeda. Putri ingin Ayah punya pekerjaan lain. Putri juga ingin Ibu bisa memasak!”

Ayah tersenyum sambil melirik Ibu, “Kamu ingin makan nasi goreng kuah minyak?” tanya Ayah. Ibu tersenyum membalas ledekan Ayah.

“Kalau itu masakan Ibu, Putri akan makan dengan senang hati!” jawab Putri mantap. Ia berusaha tidak membayangkan nasi goreng yang kebanyakan minyak.

Paginya, yang tersedia di meja makan adalah teh panas dan ketupat sayur. Hmm..enak. Putri cepat-cepat menyendokkan suapan pertama. Tapi…huueek! Rasanya asiiiiin sekali. “Ibuu, rasanya keasinan!” protes Putri. Ibu terbelalak.

“Masa?” Dicicipinya ketupat sayur yang dimasaknya dari pagi-pagi buta. “Ehm, benar juga…” Dengan santai Ibu menambahkan air panas ke dalam piring Putri. “Aduuh! Ibu! Hilang deh selera makan Putri!” ujar Putri kesal.

Malamnya Ibu memasak lodeh rebung. Putri diam saja. Ia tetap memakannya walaupun rasa rebungnya aneh dan agak asam. Tidak seperti masakan Ayah.

“Ah, kan aku sendiri yang meminta Ibu untuk memasak,” di dalam hati, Putri menyesal juga. Sejak itu, hari-hari dilalui Putri dengan penuh kecemasan. Kira-kira makanan apa yang menunggunya di pagi dan malam hari? Ibu memang berusaha kreatif mencari menu. Semakin hari masakan Ibu bertambah baik. Tapi tetap tidak sebanding dengan masakan Ayah. Memang tidak ada yang bisa menandingi kelezatan masakan Ayah. Putri merindukan masakan Ayahnya.

“Ayah,” panggil Putri saat mereka makan malam.  “Mulai besok Ayah masak lagi, ya? Putri akan bantu setiap kali Ayah masak!” Putri lalu memandangi Ibunya, “Bu, jangan tersinggung, ya. Masakan Ibu enak kok. Hanya saja Putri lebih suka masakan Ayah.” Ibu tersenyum lebar pada Ayah.  “Syukurlah! Ibu ngantuk sekali harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan,” ucapnya lega. “Dan Ibu juga lebih suka masakan Ayah,” tambahnya sambil mengedipkan mata pada Putri.

“Lalu bagaimana dengan teman-temanmu?” tanya Ayah. “Biarkan saja mereka. Putri akan beritahu mereka, kalau Ayah lebih pandai memasak dari Ibu-ibu mana pun di seluruh dunia. Walaupun Ayah laki-laki. Dan Ibu tidak kalah gagah dari lelaki mana pun, walaupun Ibu seorang perempuan,” jawab Putri mantap.

Esoknya ketika Putri akan berangkat sekolah, di meja makan tersedia sekotak penuh sandwich keju kesukaan Putri. “Put, bawa ke sekolah untuk teman-temanmu ya. Bilang ya, kalau masakan Ayah bisa bikin anak-anak jadi jenius semua!” gurau Ayah. Putri tersenyum. Di benaknya terbayang kecapan nikmat teman-temannya dan perasaan bangganya pada Ayahnya. “Hmm… orangtuaku memang hebat!” ucap Putri dalam hati. (Teks : JFK Ilst : Fika)

 

 

You may also like
Latest Posts from

1 Comment

  1. Wahhh ayahku juga , bahakan masakan ayah lebih enak ketimbang ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *