Beberapa abad lalu, hiduplah seorang Raja yang sangat gemar berburu bernama Sang Nila Utama. Sang Nila Utama adalah seorang Raja dari kerajaan Melayu Tua di pesisir Selat Malaka. Kepiawaian Sang Nila Utama dalam berburu, tidak dapat diragukan lagi. Segala jenis buruan binatang, selalu dapat ditebus oleh panahnya. (A couple of centuries ago, lived a king who is an avid hunter, named Sang Nila Utama. Sang Nila Utama is a king from the Old Malay kingdom in the shores of the Malacca Strait. Sang Nila Utama’s prowess in hunting is undisputed. All kinds of animals are always pierced by his arrows.)

Raja mendengar kabar kalau ada seekor rusa jantan di hutan Pulau Tanjung Bentam yang tidak bisa diburu oleh pemburu mana pun. Raja tertantang untuk menaklukkan rusa jantan tersebut. Maka, ia pun pergi berburu menuju hutan Pulau Tanjung Bentam. (The king heard a rumor that a male deer inside the Forest of Tanjung Bentam Island cannot be hunted by any hunter. He felt challenged to conquer the buck. And so, he is off on a hunting trip to Tanjung Bentam Island.)

Setibanya di hutan yang dituju, Raja bersama rombongan mengatur strategi. Perburuan pun dilakukan. Raja menangkap banyak binatang yang ada di hutan tersebut, namun tidak bisa menemukan rusa jantan yang mereka cari. (Arriving in the forest, the king and his entourage set up a strategy. The hunt is on. The king captured many of the forest’s animals, but he could not find the buck they are looking for.)

Setelah berhari-hari di hutan, akhirnya Raja bertemu dengan rusa jantan yang dicari. Panah Raja beberapa kali meluncur mendekati rusa jantan, namun tidak berhasil mengenainya. Raja pun terus mengejarnya hingga ke atas bukit. (After days in the forest, the king finally sees the buck he is after. The king’s arrows repeatedly miss the buck. The king relentlessly chases the buck up a hill.)

Raja kehilangan jejak buruannya. Ia terus mencari-cari bersama rombongannya. Tiba-tiba, Raja melihat sesuatu dari puncak bukit. Sebuah hamparan daratan yang sangat indah, terdiri dari pasir putih yang sangat bersih. Raja pun bertanya pada kepala rombongan. “Pulau apakah di seberang sana yang sangat elok dengan hamparan pasir putihnya?” tanya Raja penasaran. “Oh.. itu pulau Tumasik, Baginda Raja,” jawab kepala rombongan. “Kita pergi ke sana!” titah Raja yang penasaran dan sudah melupakan rusa jantan buruannya. (The king lost track of his hunt. He keeps on searching along with his men. Suddenly, the king sees something from the hilltop, a stretch of land so beautiful with clean, white sands. The king asks to his men. “What island lies across there with the beautiful white sands?” the King asks. “Oh… that’s the island of Tumasik, Your Majesty,” answers the entourage chief. “We shall go there!” says the king who is curious and has forgotten about the buck he was hunting.)

Rombongan kerajaan pun berjalan menuju pulau yang berada di seberang. Sesampainya di pulau Tumasik, Raja melihat seekor binatang menakjubkan yang belum pernah ia temui sebelumnya. Binatang itu berwarna putih dengan bulu yang sangat lebar di bagian lehernya. Berbentuk seperti kucing hutan, namun memiliki tubuh yang besar. (The royal party then heads to the island across the strait. Arriving in Tumasik Island, the king sees an astonishing animal he has never seen before. The animal is white, with a broad fur on its neck. It is shaped like a jungle cat, but with a much larger body.)

“Binatang cantik apakah yang ada di depan sana?” tanya Raja terkagum-kagum. Kepala rombongan pun menjawab, “Itu seekor Singa putih, Tuanku. Orang  Afrika menamakannya begitu.” “Bila binatang secantik itu saja mau menempati pulau ini, berarti pulau ini bisa dijadikan tempat tinggal. Maka dari sekarang kita tinggal di pulau ini saja. Dan ku namakan pulau ini Singapura yang berarti Kota Singa!” ujar Raja Sang Nila Utama. Sejak saat itu, pemerintahan kerajaan Sang Nila Utama pun dipindahkan ke pulau Singapura. (“What is that beautiful animal up ahead?” the King asks in awe. The entourage chief answers, “It is a white lion my lord. The Africans named it so.” “If an animal as beautiful as this is willing to stay in this island, then this island can be a great place to stay. From now on we shall move to this island. And I will name this island Singapore, the City of Lion!” says King Sang Nila Utama. From then on, the royal administration of Sang Nila Utama moved to the island of Singapore.)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *