Dongeng dari Korea (A Tale from Korea)

Alkisah ada seorang Raja di sebuah kerajaan di Korea yang memiliki batu gilingan ajaib. Batu gilingan ajaib itu konon bisa mengabulkan semua permintaan pemiliknya dengan cara diputar.
(There was a King who lived in the Korean kingdom who owned a magic stone-hand mill. The magic stone hand mill could grant his owner’s wishes just by turning it.)

Banyak orang kemudian tertarik untuk memiliki batu gilingan ajaib itu. (Many people wanted to own that magic stone hand mill.)

“Kamu tahu di mana Raja kita menaruh batu gilingan ajaibnya?” tanya seorang pencuri kepada penjaga warung kopi. “Ada yang bercerita padaku kalau batu gilingan ajaib itu disimpan oleh Raja di bawah tanah, ada pula yang menceritakan kalau batu gilingan ajaib tersebut diletakan Raja di kota,” jelas penjual kopi. (“Do you know where the King keeps the magic stone hand mill?” asked a thief to a coffee seller. “Someone told me that the King keeps it in the underground; others have told me that he keeps it in the countryside,” explained the coffee seller.)

“Kalian kelihatannya serius sekali,” ucap salah satu punggawa kerajaan. “Kita sedang membicarakan batu gilingan ajaib milik Raja,” tutur Pencuri tersebut. “Raja menyimpannya di taman kerajaan di samping bunga Lotus,” ucap punggawa kerajaan tersebut. (“You guys look serious,” said one of the King’s officials. “We’re talking about the King’s magic stone-hand mill,” said the thief. “The King keeps it in the palace garden besides the lotus,” said the King’s official. )

Pencuri itu pun senang karena dia sudah tahu letak batu gilingan ajaib tersebut. Setelah sebulan berlalu, Pencuri tersebut berhasil mendapatkan batu gilingan tersebut. “Akhirnya batu gilingan ajaib ini menjadi milikku sekarang,” gumam Pencuri itu sambil memeluk batu gilingan ajaib milik Raja. (The thief was happy after he found out where the magic stone-hand mill was. After a month had passed, the thief got the stone-hand mill. “Finally the magic stone hand mill is mine,” mumbled the thief as he hugged the King’s magic stone-hand mill.)

“Aku akan bawa batu gilingan ajaib ini ke tempat tinggalku yang ada di seberang laut sana,” ucap Pencuri itu lirih sembari mengendap-endap ke luar dari istana. (“I will bring this magic stone-hand mill to my house across the sea,” said the thief as he slowly escaped from the palace.)

Sesampai di rumahnya, Pencuri itu meletakan batu gilingan ajaib tersebut dalam lemari pakaiannya. “Aku ingin baju-baju bagus!” pinta Pencuri itu sambil memutar batu gilingan ajaib. Dalam sekejap, batu gilingan ajaib itu pun menyediakan beberapa potong pakaian yang bagus-bagus. (When he arrived home, the thief put the magic stone hand mill in his wardrobe. “I want nice clothes!” asked the thief as he turned the magic stone-hand mill. In an instant, the magic stone hand mill provided a few pieces of nice clothing)

“Aku ingin garam dan akan kujual mahal!” seru Pencuri. Pencuri itu berniat membuat garam di tengah laut agar tidak ada orang yang tahu. Perahu besar pun ia siapkan dan kemudian ia melaju menuju ke tengah laut. (“I want salt and I will sell them at a very expensive price!” exclaimed the thief. The thief wanted to produce the salt in the middle of the ocean so that no one would know. He prepared a big boat and he sailed to the middle of the ocean.)

“Aku ingin kau memproduksi garam!!” seru Pencuri tersebut sambil memutar batu gilingan ajaib itu. Tidak beberapa lama, batu gilingan ajaib itu pun menghasilkan garam yang banyak. Pencuri itu senang sekali melihat banyak garam di perahunya. (“I want you to produce salt!!” exclaimed the thief as he turned the magic stone hand mill. Not long after, the magic stone hand mill produced plenty of salt. The thief felt happy seeing all the salt in his boat.)

Sang Pencuri lupa untuk menghentikan batu gilingan ajaib tersebut. Garam pun sudah menutupi seluruh permukaan perahu. Pencuri itu panik, tak tahu harus berbuat apa. Dia pun mencari-cari batu gilingan ajaibnya untuk dihentikan perputarannya. Namun sayang, batu ajaib itu sudah tertutup garam. (The thief then forgot to stop the magic stone hand mill. He panicked when the salt covered the boat. He looked around to find and stop the magic stone hand mill. But unfortunately the magic stone hand mill had been covered with salt.)

“Tolong!! Tolong!!” teriak sang Pencuri meminta pertolongan. Tapi teriakan Pencuri itu tidak ada yang mendengar. Tidak berapa lama, perahu tersebut akhirnya karam. (“Help!! Help!!” shouted the thief asking for help. Not long after, the boat sank.)

Keberadaan batu gilingan ajaib tersebut masih misterius dan tidak ada yang menemukannya, begitu pula mayat sang Pencuri. Batu gilingan ajaib itu terus mengeluarkan garam hingga air laut berubah menjadi asin, karena tidak ada yang memutarnya kembali untuk menghentikannya. Karena itulah, hingga saat ini air laut menjadi asin. (Both the magic stone-hand mill and the thief was never found. The magic stone-hand mill kept producing the salt until the sea water turned salty because no one stopped it. This is why the sea is salty.)

 

 

Cerita:  JFK      Ilustrasi:  JFK      Translator:  JFK

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *