Rabu, 21 Juli 2021, Delegasi Uni Eropa (UE) untuk Indonesia menggelar diskusi virtual bertema “Kesepakatan Hijau Eropa dan Paket Kebijakan Iklim ‘Fit for 55”: Apa artinya bagi Indonesia?” Menghadirkan 3 narasumber yaitu H.E. Vincent Piket-Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Henriette Faergemann-Counsellor Perubahan Iklim, Delegasi UE-Indonesia, dan Marika Jakas-Kepala Bagian Perdagangan, Delegasi UE-Indonesia.

Dalam kesempatan ini didiskusikan tentang agenda hijau Uni Eropa dengan Indonesia, serta mendalami isi keseluruhan paket kebijakan Fit for 55 di berbagai bidang dan sektor ekonomi-yang sekaligus menyoroti relevansinya bagi Indonesia.

Untuk diketahui, perubahan iklim adalah tantangan terbesar pada zaman kita. Ini merupakan kesempatan untuk membangun model ekonomi baru. Kita sedang berada di titik balik dalam perang melawan perubahan iklim. Kita adalah generasi akhir yang masih bisa bertindak tepat waktu, yang mampu membatasi pemanasan global hingga di bawah 2 derajat, menyelamatkan kehidupan manusia, membatasi kepunahan spesies, dan melindungi planet ini demi generasi mendatang.

Uni Eropa sebagai Pemimpin Global dalam Perjuangan Melawan Perubahan Iklim, memimpin dengan memberi teladan. Kesepakatan Hijau Eropa, yang diadopsi pada Desember 2019, telah menjadi cetak biru untuk perubahan transformasional ini. Seluruh 27 Negara Anggota Uni Eropa berkomitmen untuk mengubah Uni Eropa menjadi benua netral iklim pertama pada 2050. Untuk mencapainya, para Negara Anggota berkomitmen mengurangi emisi setidaknya 55% pada 2030, dibandingkan dengan level yang dicapai pada 1990.

“Komitmen mengurangi emisi merupakan kewajiban hukum yang telah ditetapkan dalam Hukum Iklim Eropa yang pertama. Hal ini menciptakan peluang baru dalam inovasi, investasi, dan pekerjaan,” ujar H.E. Vincent Piket-Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia.

Fit for 55 Package

Untuk mencapai target iklim, maka perlu menempatkan transportasi menuju nol emisi. Sehingga perlu mengurangi 90% emisi dari transportasi pada tahun 2050 untuk mencapai netralitas iklim. Komisi Eropa juga mengusulkan target yang lebih ambisius untuk mengurangi emisi CO2 dari mobil dan mobil van baru. “Emisi dari mobil harus dikurangi sebesar 55% hingga 2030 dan mobil baru harus nol emisi pada 2035. Untuk mobil van, target pengurangan emisi yang diusulkan sebesar 50% pada 2030 dan nol emisi pada 2035,” ujar Piket.

“Transisi hijau menyediakan peluang besar bagi industri Eropa untuk menciptakan pasar bagi teknologi dan produk bersih. Proposal ini memastikan bahwa industri kami dapat memimpin transisi dan memberikan kepastian yang dibutuhkan untuk meningkatkan investasi dan inovasi. Kami akan memperkuat sistem penetapan harga karbon dalam industri. Pendapatan tambahan yang dihasilkan oleh penetapan harga karbon akan mendorong inovasi, termasuk melalui perubahan Dana Inovasi,” jelas Henriette Faergemann-Counsellor Perubahan Iklim, Delegasi UE-Indonesia.

“Kami ingin mempertahankan ambisi iklim dengan menghindari upaya persaingan tidak sehat dari luar negeri yang menghalangi industri kami untuk mengurangi emisi. Komisi Eropa mengusulkan mekanisme untuk memastikan bahwa, kendati mereka berasal dari negara-negara dengan aturan iklim yang kurang ketat, perusahaan yang mengimpor ke Uni Eropa juga harus membayar harga karbon. Hal ini penting untuk upaya keberhasilan iklim kami, karena dapat mencegah emisi gas rumah kaca dialihkan ke tempat lain, yang membuat upaya Uni Eropa menjadi sia-sia,” tandas Marika Jakas-Kepala Bagian Perdagangan, Delegasi UE-Indonesia.

Foto: Novi

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *