“Bosan! Aku ingin wisata alam!” keluh Adel, suatu hari di kelas. “Kalau begitu, ayo kita pergi ke Gua Lawar di Desa Sala. Pamanku tinggal di sana,” ajak Winda “Setuju! Pasti seru!” kata Adel langsung ceria.

Akhirnya,  hari yang ditunggu dua sahabat itu tiba. Winda dan Adel pergi ke Gua Lawar. Perjalanan dengan kereta api terasa menyenangkan. Mereka bernyanyi dan makan bekal dari rumah.

Hari sudah sore ketika kereta api berhenti di stasiun Desa Sala. Winda dan Adel disambut Paman Beno. “Halo, Anak-anak! Bagaimana perjalanannya?” sapa Paman Beno. “Halo, Paman Beno! Perjalanannya menyenangkan!” jawab Winda.

“Salam kenal, Paman Beno. Terima kasih sudah menjemput kami,” seru Adel. “Paman justru senang karena kalian mau wisata alam ke Gua Lawar,” timpal Paman Beno.

Paman Beno lalu mengantar Winda dan Adel ke rumahnya. “Istirahat ya, besok kita pergi ke Gua Lawar,” kata Paman Beno. “Siap, Paman!” sahut kedua anak perempuan itu serentak.

Keesokan harinya, Winda dan Adel pergi ke Gua Lawar bersama Paman Beno. Ternyata, bayangan Winda dan Adel tentang gua yang gelap, salah. Gua Lawar sudah diberi lampu penerangan. Ada pula tali yang dipasang di pinggiran gua agar orang tidak tersesat.

“Guanya bagus! Kami ingin mengambil foto. Boleh masuk lagi kan, Paman?” tanya Winda setelah mereka keluar dari gua. “Boleh, tapi tetap hati-hati, ya!” pesan Paman Beno.
Winda dan Adel kembali masuk gua. Ketika Adel sedang asyik memotret, terdengar suara, “To…long…tolooooong!”

Adel melihat ke arah Winda. Mata sahabatnya itu terbelalak ketakutan.  Adel jadi ikut takut. “Kau dengar? Ada suara minta tolong,” bisik Adel. “Aku juga dengar!” jawab Winda. “Mungkin suara dari luar gua?” kata Adel.

Adel menengok ke arah mulut gua. Tiba-tiba, lampu di gua mati! “Aaaaaa…,”  Adel dan Winda menjerit ketakutan. “Tolooong… Tolong aku!” suara minta tolong  kembali terdengar. Setelah itu, lampu kembali menyala.

Lampu mati lagi, kemudian menyala kembali, seakan-akan itu sebuah kode morse meminta pertolongan. “Ayo keluar! Aku takut!” seru Adel menarik tangan Winda.

Ketika mereka keluar dari dalam Gua Lawar, Adel terkejut melihat Winda tertawa terbahak-bahak. “Kau kenapa?” tanya Adel bingung. “Adel, coba ingat, hari ini tanggal berapa?” tanya Winda. “Eh..tanggal 2 April?” jawab Adel. “Salah! 1 April!” kata Winda tertawa lagi.

“Astaga, April Mop! Jangan-jangan, kejadian di dalam gua tadi itu buatan?!” seru Adel. “Iya, selamat hari April mop, Adel!” seru Winda. “Dasar, kamu jahil sekali, Winda,” ucap Adel mencubit tangan sahabatnya. “Aduh! Maaf, Adel,” seru Winda. “Tapi, idemu boleh juga!” ujar Adel ikut tertawa.

Tak lama kemudian, Paman Beno datang. “Paman, terima kasih sudah membantu April mop,” seru Winda. “Nah, itu dia masalahnya, Winda! Alat perekam untuk suara minta tolong yang kamu kirimkan rusak, jadi tidak bisa dipakai,” kata Paman Beno.

“Lalu, suara siapa tadi yang meminta tolong?” tanya Winda terkejut. “Dan yang membuat lampu gua jadi mati dan menyala, itu siapa?” tanya Adel. Paman Beno  menggelengkan kepalanya. Wajahnya kebingungan karena ia merasa tak melakukan kejahilan itu. Adel dan Winda pun ketakutan. Lalu, siapa pelakunya, ya?

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: JFK

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *