Anton Tidak Mau Berbohong

Siang yang sangat terik, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, berjalan sendirian dengan penuh keringat di seragam sekolahnya. Di tengah jalan, anak yang bernama Anton itu terkejut. Ia melihat Kak Aldo, kakaknya, dengan beberapa temannya di sebuah warung makan.

“Kak Aldo, apa yang Kakak lakukan di sini?” tanya Anton penasaran. Ada setumpuk kartu beserta uang kertas lima ribuan di tengah-tengah mereka. “Anak kecil jangan ikut campur, pulang saja ke rumah! Bilang sama Bunda kalau Kakak pulang telat. Lagi buat PR di rumah teman,” bentak Kak Aldo yang sibuk memandangi kartu di tangannya.

Sesampainya di rumah, Anton masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Terdengar seruan Bunda memanggil namanya menyuruh segera makan. “Bunda mau bicara dengan Anton,” kata Bunda lembut sambil menarik kursi dan mendudukinya. “Bicara apa, Bunda?” tanya Anton agak gugup. Dia takut Bunda akan menanyakan pertanyaan seperti biasa, di mana kakaknya sekarang dan kenapa belum pulang. Anton takut untuk berbohong setelah tahu di mana dan apa yang dilakukan oleh kakaknya.

“Begini, Sayang, sudah empat hari ini Bunda kehilangan uang di dompet. Dompet itu Bunda letakkan di lemari, tepatnya di bawah pakaian Bunda. Setiap hari, uang Bunda hilang Rp 20.000 lho, Sayang. Apa Anton tahu siapa yang mengambil uang Bunda?” tanya Bunda sambil memandangi Anton.
Anton terkejut mendengar perkataan Bundanya. “Anton tidak tahu, Bunda,” jawabnya. “Benar, Anton tidak tahu? Bunda lihat di kamar Anton ada dua komik baru, juga ada dua mainan baru. Apakah Anton memakai uang Bunda untuk membelinya?” tanya Bunda lagi.

“Anton membelinya pakai uang jajan Anton, Bun. Anton kumpulin selama satu minggu ini. Anton benar-benar menginginkan komik dan mainan itu, jadi Anton memilih untuk tidak jajan agar bisa membelinya tanpa harus meminta uang sama Bunda atau sama Ayah,” jelas Anton sedih karena Bunda telah menuduhnya mencuri uang. “Benar begitu? Anton tidak bohong?” kata Bunda. “Iya, Bunda. Anton tidak bohong. Anton tidak berani mencuri. Itu perbuatan dosa. Allah akan marah sama orang yang bohong dan mencuri,” kata Anton terbata-bata dan perlahan mulai menangis. “Iya, iya. Bunda percaya sama Anton. Bantu Bunda mencari siapa yang mencuri uang Bunda ya, Sayang,” kata Bunda sambil memeluk Anton.

Sekitar pukul sebelas malam, Anton bangun dari tidurnya dan keluar kamar dengan langkah sangat pelan agar tak terdengar. Pandangan matanya tertuju ke kamar sebelah, kamar Kak Aldo. Dibukanya pintu kamar itu perlahan. Tepat seperti dugaan Anton jika kakaknya tidak ada di sana. Kamar itu kosong.

Anton mengeluarkan handphone-nya. Dia menekan tombol dengan cepat setelah itu kakinya melangkah kembali menuju lantai bawah. Tepat di depan pintu kamar orangtuanya, Anton berhenti. Dia menarik nafas kemudian mendorong pintu kamar itu sedikit demi sedikit. Dengan jelas Anton melihat seseorang sedang membuka dompet Bunda dan menarik selembar uang berwarna hijau. Untung orang itu berdiri membelakangi pintu, jadi tak akan tahu jika Anton sedang melihat perbuatannya. Anton segera merekam kejadian itu menggunakan handphone.

Keesokan harinya, Anton menemui Bundanya di dapur dan menunjukkan rekaman di handphone-nya. Bunda sangat terkejut, tak menyangka ternyata anak pertamanya yang telah mencuri uangnya. “Bilang sama Bunda dengan jujur, apakah Anton tahu, Kak Aldo mencuri uang Bunda untuk apa?” ujar Bunda.

Anton pun menceritakan apa yang dilihatnya setiap melintas di dekat warung makan saat berjalan pulang dari sekolah. “Anton baru tahu kemarin, Bunda, kalau Kak Aldo bermain kartu dengan teman-temannya di warung,” cerita Anton.

“Bangunkan kakakmu sekarang, suruh kemari menemui Bunda,” kata Bunda terlihat marah. Kak Aldo tertunduk ketika berhadapan dengan Bunda. “Maafkan Aldo, Bun. Aldo berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” kata Aldo dengan terbata dan menyesal.

“Selama satu bulan, Bunda tidak akan memberi uang saku pada Aldo. Aldo juga tidak boleh ke mana-mana sehabis pulang sekolah. Ini hukuman buat Aldo,” ujar Bunda. “Maafkan Anton, Kak. Anton yang merekam perbuatan Kakak semalam dan menunjukkannya pada Bunda. Bukan Anton mau membuat Kakak dimarahi, Anton hanya ingin Kakak sadar jika kelakuan Kakak salah,” ujar Anton yang telah berada di dekat Kak Aldo dan Bundanya.

“Tidak apa-apa. Kakak memang pantas dimarahi karena telah melakukan perbuatan yang salah,” balas Kak Aldo. “Kakak tenang saja. Selama satu bulan ini, setengah dari uang saku Anton akan Anton berikan untuk Kakak. Tapi, Kakak harus janji ya tidak akan berjudi lagi!” kata Anton sungguh-sungguh. “Terima kasih, Adikku, kamu memang anak yang baik,” kata Kak Aldo. Akhirnya, Bunda, Kak Aldo, dan Anton saling berpelukan.

 

Cerita: JFK   Ilustrasi: JFK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *