Negara Pulau dinamai Pulau karena terdiri dari berbagai macam pulau-pulau kecil yang tersebar di lautan. Negara ini sangat kaya dengan berbagai macam sumber daya alam.

Lika dan saudara kembarnya, Luka tinggal di Negara Pulau. Sejak kecil, mereka adalah anak-anak yang berprestasi di sekolah. Mereka bercita-cita menjadi orang terkenal.

Pada suatu hari, Lika dan Luka bertemu dengan seorang pedagang yang mengeluh, namanya Bulo. Bulo mengayuh sepedanya dengan lesu. Di dalam kereta itu banyak buah-buahan yang sudah busuk.

“Coba lihat ini, buah-buahan daganganku semuanya busuk karena tidak bisa diantar tepat pada waktunya. Tidak ada angkutan yang cukup cepat agar aku bisa mengantar buah-buahan ini dalam keadaan segar,” keluh Bulo.

Lika dan Luka sedih melihat Bulo. “Lika, aku ingin membuat angkutan terhebat!” kata Luka. “Dan aku akan meneliti bahan bakar yang digunakan untuk angkutan itu!” tambah Lika. Maka Luka belajar menjadi seorang ahli teknik, dan Lika mempelajari ilmu alam.

Waktu berlalu, Luka dan Lika berhasil menjadi terkenal. Luka berhasil merancang angkutan-angkutan modern yang sangat cepat, murah, dan praktis. Sedangkan Lika berhasil meneliti dan menemukan bahan bakar untuk angkutan-angkutan Luka.

Sekarang, para pedagang di Negara Pulau bisa berdagang dan pergi ke suatu tempat dengan cepat dan mudah karena penemuan Luka dan Lika. Kemakmuran dan kekayaan Negara Pulau bertambah setiap tahun.

Suatu hari, Ratu Negara Pulau memanggil Luka dan Lika. Sang Ratu ingin menyaksikan Matahari terbit bersama Luka dan Lika. Dari jendela paling atas istana, mereka bertiga melihat Matahari terbit yang indah. Tapi, ada hal aneh terjadi di kota.

“Paduka Ratu…kabut apa yang kulihat menyelimuti kota? Seharusnya kabut hilang bersamaan dengan terbitnya Matahari,” kata Lika. “Lika…kau mempelajari ilmu alam tapi kau tidak tahu kabut apa itu?” kata Paduka Ratu tampak kecewa. “Itu bukan kabut. Melainkan asap polusi dari angkutan yang kalian ciptakan,” kata suara bijak yang tidak asing lagi bagi Luka dan Lika.

“Profesor Bu!” seru Luka dan Lika. Profesor Bu adalah pemilik universitas tempat Lika dan Luka belajar dahulu. Luka dan Lika sangat menghormati Profesor Bu. “Kalian berjasa besar untuk memudahkan kehidupan rakyat Negara Pulau. Tapi, kita hidup berdampingan dengan alam. Bahan bakar yang kalian gunakan untuk bahan bakar juga berasal dari alam, Lika, Luka. Kita tidak boleh merusak alam. Saat ini polusi yang diakibatkan oleh angkutan penemuan kalian sudah sangat mengkhawatirkan,” kata Paduka Ratu.

Mendengar ini, Lika dan Luka menyadari apa yang kurang dari prestasi mereka. “Selama ini kami hanya memikirkan kemajuan hidup manusia saja. Tapi, bagaimana dengan kehidupan hewan dan tumbuhan? Juga bentuk kehidupan lain di Bumi? Kita tak bisa menciptakan udara segar alami, tapi malah mencemarinya! Maafkan kami, Paduka Ratu, Profesor,” kata Lika dan Luka.

“Seorang penemu dan ilmuwan sejati tidak akan mudah berpuas diri dan harus bisa bertanggung jawab dengan penemuannya. Lika, Luka, ayo kita mencari cara untuk mengurangi dampak buruk yang telah kita timbulkan!” ajak Profesor Bu. “Kami siap, Profesor!” kata Luka dan Lika. “Dan aku akan membantu kalian, “ kata sang Ratu.

 

 

 

 

Cerita: Seruni   Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *