Kamu sering merasa mudah lelah atau sering mengantuk, misal mengantuk setelah makan? Hati-hati, ya. Bisa jadi itu merupakan salah satu gejala awal dari penyakit anemia. Ya, anemia atau biasa juga disebut dengan kurang darah, merupakan suatu kondisi dimana tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau suatu keadaan dimana sel darah merah tidak berfungsi dengan baik. Hal itu membuat organ-organ tubuh tidak mendapat cukup oksigen, sehingga penderita anemia akan terlihat pucat dan mudah lelah.

Tahukah kamu? Penyakit anemia itu ternyata bisa berdampak serius, lho, terhadap tumbuh kembang kita. Selain membuat daya tahan tubuh menurun hingga mudah sakit, anemia juga bisa menyebabkan penurunan aktivitas fisik maupun kreativitas. Bahkan bisa juga menyebabkan penurunan kemampuan akademis. Wah, bahaya juga, ya?

Untuk itulah, Danone Indonesia dan Indonesian Nutrition Association (INA) dalam rangka merayakan Hari Gizi Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 Januari, secara khusus mengajak masyarakat untuk memutus mata rantai penyakit anemia yang bisa menyerang lintas generasi ini. Sebab, anemia bisa menyerang mulai dari orangtua, remaja, hingga anak-anak. Danone Indonesia juga ingin semakin memperkuat kontribusinya melalui peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya nutrisi dan edukasi lintas generasi dalam mewujudkan Indonesia sehat.

Kekurangan Zat Besi

Untuk diketahui, isu pemenuhan malnutrisi masih menjadi ancaman kesehatan jangka panjang bagi masyarakat Indonesia. Masalah gizi, baik gizi kurang atau gizi lebih, dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit lain, khususnya risiko terjadinya penyakit tidak menular. Menurut Riskesdas 2018, angka stunting (tubuh pendek) kita mencapai 30,8% dan telah mencapai peringkat 4 dunia. Sedangkan  48,9% ibu hamil, 32% remaja 15-24, dan 38,5% balita mengalami anemia. Secara global, sekitar 50-60% angka anemia disebabkan oleh defisiensi (kekurangan) zat besi atau biasa disebut Anemia Defisiensi Besi (ADB).

Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, Spesialis Gizi Klinik dari Indonesian Nutrition Association (INA) dalam webinar publik yang mengusung tema “Peran Nutrisi dalam Tantangan Lintas Generasi” menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih menghadapi tiga beban masalah gizi (triple burden) yaitu stunting, wasting (tubuh kurus), dan obesitas (kegemukan) serta kekurangan zat gizi mikro seperti anemia. “Seseorang dengan kondisi Anemia Defisiensi zat Besi (ADB) berisiko melahirkan bayi berat badan rendah (BBLR), stunting, komplikasi saat melahirkan, dan risiko lainnya. Padahal kondisi ADB sendiri dapat terjadi lintas generasi dan dapat diturunkan sejak remaja, ibu hamil, anak, dan seterusnya. Pada kasus balita dan anak, ADB bermula dari kurangnya zat gizi mikro pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Dampaknya berpengaruh pada tumbuh kembang anak yang terganggu, penurunan aktivitas fisik maupun kreativitas, serta menurunnya daya tahan tubuh sehingga meningkatkan risiko infeksi. Sedangkan pada kasus remaja, ADB dapat menurunkan produktivitas dan kemampuan akademis. Kondisi ADB pada kehamilan usia remaja juga rentan terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, urgensi (pentingnya) perbaikan gizi masyarakat sebaiknya difokuskan pada 1000 HPK dan usia remaja,” ujar Dr. Diana.

Dr. Diana menyebutkan, “Intervensi melalui pemenuhan nutrisi dan edukasi secara menyeluruh merupakan upaya yang dapat dilakukan dalam memutus mata rantai anemia, baik di lingkup individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat. Pada anak di atas satu tahun, pencegahan anemia dapat dilakukan dengan memberikan gizi seimbang termasuk pangan makanan dan minuman yang mengandung zat besi maupun mikronutrien lain yang mendukung penyerapan zat besi seperti vitamin C. Sedangkan  pada remaja, dapat dilakukan melalui penanaman pola hidup sehat, yaitu mengonsumsi makanan yang bersih, sehat, dan bergizi seimbang. Selain itu juga dapat diberikan suplementasi tablet tambah darah (TTD). Tablet tambah darah adalah suplemen gizi dengan kandungan zat besi setara dengan 60 mg besi elemental dan 400 mcg asam folat.”

Inovasi Nutrisi Bantu Pemenuhan Zat Besi

Sejalan dengan visi “One Planet, One Health” untuk membawa kesehatan ke sebanyak mungkin masyarakat melalui nutrisi dan hidrasi sehat maupun program berkelanjutan, Danone Indonesia berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam menghentikan ancaman anemia pada lintas generasi. Bapak Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia menyebutkan, “Kami menyediakan inovasi nutrisi yang dapat membantu pemenuhan zat besi serta mendukung penyerapan zat besi pada anak berusia di atas satu tahun. Untuk menyasar golongan remaja, kami menjalin kerja sama dengan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB) meluncurkan buku panduan Generasi Sehat Indonesia (GESID). Terdapat 3 modul untuk remaja SMP dan SMA, yaitu Aku Peduli, Aku Sehat, dan Aku Bertanggung Jawab yang membahas mengenai kesehatan reproduksi, peran gizi bagi kesehatan dan kualitas hidup, anemia bagi remaja putri dan wanita usia subur, pencegahan pernikahan dini serta remaja berkarakter. Program ini telah melaksanakan pilot project dengan 20 Guru Pendamping dan 60 Murid SMP & SMA sebagai Duta GESID 2020.”

Selain program GESID, komitmen Danone Indonesia untuk memperluas edukasi tentang gizi dan kesehatan diwujudkan melalui berbagai program. Selama bertahun-tahun, Danone Indonesia telah mendukung 4 fasilitas pendidikan yang berfokus pada kesehatan dan gizi di Taman Pintar, Yogyakarta. Melalui program Duta 1000 Pelangi, Danone Indonesia memberikan bantuan kepada karyawan dan masyarakat sekitar tentang masalah gizi dan kesehatan dalam 1000 hari pertama kehidupan dengan menjadikan karyawan sebagai duta kesehatan. Untuk mengatasi masalah defisiensi mikronutrien, Danone Indonesia gencar melakukan Aksi Cegah Stunting, Gerakan Ayo Minum Air (AMIR), Kampanye Isi Piringku, dan program Warung Anak Sehat yang memberdayakan pengelola kantin sekolah untuk menyediakan pangan sehat bagi siswa.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *